PILIHAN HEADLINE

Kehangatan Masyarakat Pegunungan Bintang dan Toleransi yang Tak Sekadar Bicara

06 Januari 2017 09:27:10 Diperbarui: 06 Januari 2017 11:09:08 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :
Kehangatan Masyarakat Pegunungan Bintang dan Toleransi yang Tak Sekadar Bicara
dok: Shofy

Tulisan kali ini akan bercerita tentang perjalanan Shofy Septiana atau akrab dipanggil Sofi. Ia baru saja pulang dari Pegunungan Bintang tempat belajarnya selama setahun di sana. Dia mengabdikan dirinya untuk menjadi ibu guru di SDN Inpres Aboding program Indonesia Mengajar.

Anak muda yang gila! Mungkin itu cocok untuk menggambarkan cewek lulusan Universitas Negeri Jakarta ini. Walaupun telah bekerja selama 2 tahun di salah satu lembaga NGO berbasis sosial sebagai Finance and Administration Manager tak membuatnya untuk lupa akan mimpinya sejak kuliah yaitu menjadi Pengajar Muda. Baginya menjadi pengajar muda itu anugerah Tuhan yang tak pernah ia bayangkan.

Kali ini Shofy dengan baik hati akan membagikan ceritanya. Selamat membaca ceritanya dalam bentuk wawancara, berikut ini:

Bagaimana perasaanmu saat diumumkan bahwa kamu akan ditempatkan di Pegunungan Bintang selama setahun?
Menjadi seorang pengajar muda memang hidupnya selalu jadi penuh kejutan dan tantangan. Kejutan-kejutan selanjutnya yang terus silih berganti mengantarkanku pada momen di mana pengumuman penempatan pengajar muda. Hati berdebar, tapi hati ini sudah kuikhlaskan. Dimana pun nanti ditempatkan, itulah hadiah Tuhan, tempatku untuk mengabdi.

Di luar ekspektasiku bahwa takdir membawaku ke Pegunungan Bintang. Kabupaten yang terletak di perbatasan timur Indonesia, perut Papua. Dari namanya sih unik banget, ada gunung dan ada bintang. Dan benar saja, tiap malem gak pernah ketinggalan ngeliatin bintang yang dikelilingi oleh gunung-gunung. Indah bangetlah..

Apakah ada perasaan khawatir sebelum kamu berangkat melihat kamu seorang perempuan dan muslim?
Awalnya sih, hati agak tegang karena tau kalau di Pegunungan Bintang itu mayoritas beragama Katolik dan Kristen Protestan tapi kekhawatiran itu sekejap lenyap ketika pertama kali aku tiba di distrik, tempatku mengajar. Saya adalah orang Islam pertama yang tinggal bermasyarakat di Desa Kungulding, Distrik Okaom. Saya disambut dengan tangan terbuka. Begitu ramah dan begitu antusias.

Awalnya saya terlihat asing bagi mereka. Ah, tapi itu ternyata perasaan dan kekhawatiranku aja. Maklumlah ya, mereka belum terbiasa dengan pendatang, jadi yang pasti jadi pusat perhatian banget. Setelah bertegur sapa dan saling berjabat tangan mereka orang ramah dan baik. Wajah memang sangar tapi hati penuh dengan kelembutan.

Saya datang ke kampung langsung singgah ke rumah Bapak Kepala Desa, Bapak Martinus namanya. Kami disambut dengan baik. Orang Papua biasa menyambut tamu di dapur jadi kalo mau main ke rumahnya atau sekadar bertamu, kita ketuk pintunya di pintu dapur karena bagi mereka dapur adalah tempat berkumpul bersama, makan bersama, tidur bersama, pokoknya tempat segala aktivitas dilakukan deh di sana. Tak hanya manusia saja yang ada di sana, tak ketinggalan hewan peliharaan mereka seperti babi dan anjing juga ikut berkumpul di sana.

Mereka sangat menghormati kami para pendatang dan melayani selayaknya sudah menjadi saudaranya sendiri. Sayur dan kayu bakar disediakan, bahkan rumah kami langsung dibangunkan dapur karena pada saat itu kami menempati rumah yang belum memiliki dapur. Seluruh masyarakat dan anak-anak gotong royong ikut membantu mendirikan dapur di belakang rumah. Tak hanya itu, secara terus menerus kami selalu mendapatkan hasil panen dari mama dan bapak di sana, seperti boneng, keladi, sayur-sayuran.

Perjalanan menuju Pegunungan Bintang tepatnya di ibu kotanya yaitu Oksibil cukup jauh, bagaimana kamu menuju sekolah atau desamu?
Perjalanan dari kabupaten ke desaku bisa ditempuh sekitar 3 jam 30 menit, jika ditempuh dengan jalan kaki. Alternatif lain jalan menuju kampung adalah dengan naik ojek motor besar seharga 100rb atau naik taksi seharga 50rb. Jangan bayangkan taksi seperti di perkotaan Jakarta ya, taksi yang berupa mobil sedan. Sama sekali bukan, taksi di Pegunungan Bintang adalah mobil bak besar yang bagian belakangnya terbuka dan mobil yang biasa digunakan untuk para petualang adventure berpetualang di tengah hutan. Jalanan yang ditempuh berliku dan batu kerikil besar-besar dan licin. Tak sembarang sopir bisa menempuh jalan menuju kampungku. Itu sebabnya intensitas kendaraan yang naik ke desaku lumayan bisa dihitung pakai jari setiap harinya. Alhasil, tak jarang kami harus berjalan kaki untuk menuju kabupaten.

Tempat paling jauh dengan teman sepenempatanmu berapa jauh? Bagaimana cara untuk ke sana?|
Tempat terjauh di SD Inpres Pepera, harus menempuh 8 jam jalan kaki, melewati hutan, menyebrangi sungai. Yang menjadi tantangan adalah jalanan yang terus menanjak menyusuri hutan. Semenjak jembatan satu-satunya rubuh dan hingga saat ini belum juga kunjung diperbaiki satu satunya cara menuju SD tersebut adalah dengan jalan kaki. Uwow... salut banget buat temen-temen yang konsisten mengajar di sana. Keren!

Saat sampai di Desamu, apa yang terpikirkan oleh kamu?
Sesampainya di desa. Huwowww.. saya sangat terkagum-kagum dengan kondisi alam di sekitar desaku. Sekolah yang dikelilingi oleh hamparan pegunungan hijau menjulang kokoh. Rumput-rumput yang hijau bak melambai-lambai menyambut kedatanganku dan kawan-kawan sepenempatanku. Rintik-rintik hujan yang saat itu menemani perjalanan menuju desa seketika berhenti ketika kami sampai di desa. Sekolah sederhana yang beralaskan kayu dan berdindingkan kayu pula. Aku seperti masuk ke dalam dunia dongeng berjudul “Laskar Pelangi”. Ah indah sekali.....

Sebagai angkatan babat alas, apakah masyarakat di sana menerima kamu?
Mereka sangat menerima kehadiran kami. Kami langsung disambut oleh gerombolan anak dengan riang gemira. Awalnya mereka bingung adanya kedatangan kami. Asing bagi mereka orang berkulit putih, berambut lurus, apalagi saya dengan hijab yang saya kenakan di kepala tambah membuat mereka bingung. Ah tapi itu tak membuat mereka tak menegur saya. Mereka menyambut kami seperti layaknya keluarga mereka. Kami datang langsung digiring ke rumah bapak kepala desa dan kita berbicang panjang di sana. Sambil putar kopi dan bakar boneng di dapur. Mereka biasa menyambut tamu di dapur, karena dapur menurut mereka adalah tempat berkumpul dan melakukan segala aktivitas.

img-20170105-wa0014-586f01703f23bd3e100d
img-20170105-wa0014-586f01703f23bd3e100d

Kamu juga seorang perempuan dan muslim, apakah ada tantangan?
Asli.. disana itu toleransinya banget.. banget.. mereka sangat menghargai kami yang muslim. Desaku adalah desa yang mayoritasnya beragama Katholik. Mereka biasa memelihara babi dan memakan babi sebagai perayaan hari besar mereka. Babi di sana sangat dimuliakan, disayang-sayang dan diperlakukan seperti anaknya sendiri. Ada cerita unik tentang si hewan ini. Suatu ketika, saya sedang main-main ke rumah mama desa. Disana ternyata mama desa sedang memasak.

Saya pun bertanya, “Mama, baru apa yang kau masak itu? Pasti makanan enak to? Ah, kita makan sama-sama sudah.”

“Ah tidak, mau buat makan untuk saya pu babi. Ada nasi ini untuk kasih makan babi,” Mama Desa menerangkan dengan semangat.

Mamaaa... dalam hati saya menjerit. Begitu sayangnya mereka dengan hewan peliharaannya sampai-sampai mereka rela tidak makan nasi, karena nasinya diberikan ke babi peliharaannya. Ah begitulah adat di sini, sungguh unik sekali.

Biar begitu mereka tetap menjaga hubungan baik dengan kami para pendatang muslim. Biasanya mereka akan bilang terlebih dahulu kepada kita bahwa mereka habis pegang babi dan jika mereka ingin salaman dengan kami, mereka sudah terbiasa untuk membasuh tangan dengan air, baru bersalaman dengan kami. Saya sama sekali tidak merasa menjadi minoritas di sana, karena mereka memperlakukan kami yang berbeda kepercayaan sangat santun.

Cerita berikutnya adalah ketika saya pertama kali menjelaskan apa itu hijab di hadapan anak-anak yang lugu dan baru pertama kalinya melihat hijab.

Suatu ketika, ada anak bernama Denita bertanya kepada saya, “Ibu guru, baru apa yang kau pakai itu di kepala? Ibu guru tidak punya rambutkah?” tanyanya penuh dengan penasaran.

“Ah.. tidak, ibu guru ini tidak punya rambut...” candaku kepada anak-anak, lalu serentak kami tertawa.

“Te saja.. ibu guru pu rambut sama dengan kalian to. Ibu guru pakai ini sama seperti kalian punya bunda yang ada di surga. Bunda Maria pakai kain di kepalanya,” aku menjelaskan ke anak-anak.

“Oh.. itu jubah ibu guru.” Jawab Itho murid kelas 6 ku, dengan penuh semangat.

Mereka akhirnya mengerti alasan mengapa aku harus mengenakan hijab untuk menutupi rambutku. Ah memang anak-anak, lugu dan polos sekali.

Bisa ceritakan aktivitas kamu sehari-sehari selama di Pegunungan Bintang dari bangun tidur sampai tidur?
Berbagai aktivitas kami jalani di tiap harinya. Hari-hari kami selalu berwarna dengan canda tawa anak-anak. Selalu ada hal yang berbeda dan unik di tiap harinya. Sekolahku terdiri dari 6 kelas. Saya biasa mengajar kelas 1 dan 2. Jangan tanya ada berapa banyak murid saya, karena kelas 1 dan 2 di sana berbeda dengan kebanyakan kelas 1 dan 2 pada umumnya. Banyak anak-anak yang masih berumur 2 tahun, 3 tahun, hingga 5 tahun sudah dimasukkan ke sekolah oleh ibunya. Tapi tak heran juga, anak kelas 2 misalnya ada yang nampak sudah seperti bapak-bapak. Hal ini terjadi karena mereka tidak mengenal tanggal lahir.

Jadi mereka sendiri tidak mengetahui berapa umurnya, sangat beragam. Anak-anak yang baru lahir kemarin juga tak jarang langsung disekolahkan oleh orang tuanya. Bagi mereka, sekolah seperti tempat penitipan anak ketika mereka hendak ke kebun. Jadi sudah wajar, kalau di kelas mendengar anak menangis, anak yang besar nakal ke adiknya, anak yang berebut alat tulis, ah sudah menjadi pemandangan biasa bagiku akan hal tersebut. Tapi yang menarik bagi mereka, semangat untuk belajar mereka begitu tinggi. Selepas pulang sekolah, selang hanya 10 menit kami tiba di rumah tempat kami tinggal, anak-anak sudah stand by di depan pintu untuk meminta belajar.

“Ibu guru.. bisa belajarkah?” suara mungil terdengar dari balik pintu.

Ah sudah dipastikan itu pasti anak-anak Yambul minta untuk belajar baca dan tulis. Maklum mereka baru kenal mainan baru yang namanya 'baca dan tulis'. Semangat mereka begitu luar biasa.

Tak jarang juga kami bermain softball (permainan yang pertama kali kami ajarkan ke anak-anak), bermain ke hutan, mandi dan cuci baju bersama di sungai, jahit noken di dapur bersama mama-mama, keliling kampung sambil main kelereng, bahkan beberapa kali karena kelelahan kami akhirnya tertidur di kebun milik warga atau bermalam di rumah warga untuk belajar membuat unom. Bermain voli juga tak kalah ketinggalan, biasa kami bermain voli di sore hari.

Menjelang malam, biasanya kami menantikan akankah datang listrik hari ini? Jika ada warga yang membawa sedrum solar, biasanya saya dan anak-anak riang gembira. Mengapa? Di desa kami listrik menjadi hal yang mahal karena harus menyediakan sekurang-kurangnya solar sedrum dengan harga 250.000 untuk menyalakan genset. Jika listrik menyala, bukan main anak-anak gembiranya. Mereka berkeliling kampung sambil berteriak, “Listrik datang... listrik datang..”

dok: Shofy
dok: Shofy

Wah asyik sekali, bagaimana semangat anak-anak di sana?
Jangan pernah menanyakan semangat anak-anak di sana, justru mereka yang menyemangati kami tentang makna kehidupan. Hidup di sana begitu keras, anak-anak kecil sudah biasa mencari kayu bakar dan belah kayu.

Saya melihat semangat anak-anak yang begitu besar ketika mereka akan berangkat ke sekolah. Tak jarang ada murid saya yang harus menempuh 2 jam jalan kaki dengan jalanan pegunungan menanjak bebatuan besar. Adapula yang tak beralaskan kaki bahkan tak berseragam dan harus menempuh sekitar 45 menit untuk sampai di sekolah. Tapi keterbatasan itu tak membuat semangatnya surut dan membatasi dirinya untuk terus belajar.

Mereka belum belajar perputaran jam. Jadi patokan untuk masuk ke sekolah adalah pesawat terbang yang terbang di atas kepalanya. Mereka baru berangkat ke sekolah ketika pesawat di pagi hari ada yang datang. “Nguuuuiiiiing.....” suara gemuruh pesawat memecahkan telinga tiap pagi. Tak lama dari itu baru anak-anak berbondong-bondong datang.

Apa ada pengalaman menarik dan lucu kamu dengan anak-anak di sana?
Suatu ketika saya mengajar murid saya kelas 3 SD. Anak-anak banyak yang tidak membawa alat tulis.

“Ibu Guru, saya tidak bawa pulpen,” seru Brian dengan polos.

“Ibu Guru saya juga,” sahut lagi Ian dengan berteriak tak mau kalah.

Dan hampir semua muridku ternyata tidak membawa pulpen.

“Baik kalau begitu, Ibu guru mau kalian keliling kau punya lapangan 5 kali," jawabku dengan tegas berharap anak-anak mengerti maksudku adalah untuk memberikan konsekuensi karena mereka tidak membawa alat tulis.

Dan apa yang terjadi?

“Horeeeeeee...... saya keliling lapangan to Ibu guru?” tanya Brian dengan polos.

“Saya juga ibu guru,” balas Dina anak kelas 3 yang ternyata dia membawa pulpen.

“Saya.. Saya.. Saya....” sahut anak-anak serempak. Seisi ruangan kelas akhirnya mengelilingi lapangan.

Aku tertawa dalam hati. Ada-ada saja ini anak-anak, mereka belum mengerti apa arti konsekuensi dan mengganggap itu kebahagiaan. Ya, Sesederhana itu.

Menonton bioskop
Menonton bioskop

Kamu sempat menjalani lebaran di sana, bagaimana perasaanmu saat itu?
Sangat menyenangkan. Masyarakat sangat menghormati kami, sampai sampai libur sekolah pada saat itu ditambah sebagai penghormatan mereka untuk mempersilakan kami beribadah. Maklum di tanah Papua, hari-hari besar mereka selalu diperingati dengan meliburkan aktivitas dan fokus untuk ibadah.

Mereka juga saling berjabat tangan dan memberikan ucapan selamat berlebaran dan saling bermaaf-maafan. Kami merayakan hari raya Idul Fitri di kabupaten, karena satu-satunya masjid hanya ada di kabupaten. Tak ada rasa menjadi minoritas sedikitpun di sana karena mereka juga membantu menjaga masjid kami dan mempersilakan kami beribadah dengan khusyuk.

Bagaimana kehidupan toleransi umat beragama di sana?
Bagi kami toleransi tak hanya diungkapkan melalui perkataan saja, tapi dirasakan dan dijalankan dengan sepenuh hati. Hal tersebut diwujudkan melalui santunnya mereka dalam mempersilakan kami beribadah dan saling menjaga untuk keberlangsungan perdamaian walau berbeda kepercayaan.

Apa benar harga bensin di sana Rp. 20.000? Sebegitu mahalkah barang-barang di sana?
20.000?? Salah bung.. disana bensin itu harganya 45.000/liter. Kebayanglah ya mahalnya kayak apa. Di sini sebungkus kecil garam harga cuma 5.000, di sana garam dengan bungkus kecil harganya 20.000. Harganya sih aneh-aneh, semua bergantung sama berat itu barangnya. Semakin berat itu barang, semakin mahal harganya, misal kayak susu Bear Brand bisa lebih murah dibading sama Aqua botol tanggung. Hahaha.. kenapa mahal? Soalnya akses ke Pegunungan bintang hanya bisa diakses hanya dengan pesawat. Jadi barang-barang biasanya disuplai dari Jayapura atau Merauke hanya bisa dengan pesawat. Makanya, harga barang di pegunungan bintang harganya selangit.

Tapi itu semua jadi membuat kami belajar, bahwa apapun yang kita miliki itulah yang harus disyukuri dan begitu berharga. Suatu benda yang mungkin di rumah sendiri tak ada harganya, tapi jika kami rasakan disana hal sekecil apapun kami jadi belajar untuk lebih menghargai apapun itu.

Bagaimana kalian dan masyarakat di sana hidup sehari-hari? Untuk makan misalnya
Makanan pokok disana adalah boneng atau dalam bahasa Indonesianya adalah ubi jalar. Selain itu hasil panen di sana adalah sayur mayur. Sayur mayur di kampung Kungulding sangat beragam. Ada sawi hijau, kol, yamen, topinong, bonengnong, matul, buah topi atau kita sering sebut dengan buah labu di sini. Setiap hari kami memakan hasil panen dari masyarakat. Nikmat dan sehat sekali. Boneng dan sayur mayur banyak mengandung karbohidrat dan protein nabati. Nah, untuk pemenuhan protein hewani biasanya kami di sana mencari buruan ayam kampung yang orang lokal memberi nama okburbur. Sejenis ayam yang bisa terbang ke sana ke mari.

img-20170105-wa0012-586f01cfef7e61bb0404
img-20170105-wa0012-586f01cfef7e61bb0404

Kalo tak salah kalian juga melakukan kegiatan bersama masyarakat, bisa diceritakan?
Dalam setahun, kami menjalankan 3 program yang dijadikan sarana kami untuk saling berkolaborasi. Kami bersama dengan masyarakat membuat kegiatan yang namanya “Okaom Cup” yang akhirnya dijadikan kegiatan tahunan masuk ke dalam rangkaian acara ulang tahun distrik Okaom. Kegiatan yang dilakukan adalah membuat suatu perlombaan antar sekolah dasar se-distrik Okaom. Melihat potensi mereka di bidang olahraga, akhirnya tema perlombaannya adalah olahraga. Ada lomba sepak bola, lomba baca puisi, dan lomba ranking 1. Perlombaan pertama kalinya dilakukan di distrik tersebut dan saya melihat semangat anak-anak yang begitu meningkat. Setelah perlombaan tersebut anak-anak memiliki kepercayaan lebih meningkat dan antusias ketika akan dilakukan perlombaan-perlombaan lagi.

Kegiatan selanjutnya adalah “GAJAH” atau singkatan dari Guru Jelajah. Kami bersama-sama elemen masyarakat yang ingin bergabung untuk merasakan asiknya mengajar di distrik-distrik. Kegiatan berkeliling sekolah untuk mengajar satu minggu di distrik-distik tetangga untuk menebarkan semangat belajar bersama.

Selanjutnya, kami juga membuat kegiatan Taman Baca Sibilki, di mana kita mengkoordinir orang-orang di luar Papua yang ingin turut berkontribusi untuk Pegunungan Bintang melalui pengiriman buku bacaan demi meningkatkan minat baca dan tulis. Kami berkolaborasi dengan Front Pembela Rakyat, sebuah komunitas yang mendukung kemajuan pendidikan Indonesia.

Terus kalian juga pernah ke perbatasan Papua Nugini, bagaimana kondisinya?
Saya bersama dengan teman-teman berkesempatan mengunjungi tanah tetangga, Papua Nugini. Saya mengunjungi Papua Nugini yang berbatasan langsung di Jayapura, tepatnya di Pantai Scoou. Menarik sekali, di Papua Nugini memiliki bahasa seperti Bahasa Inggris tapi mengambil serapan dari Bahasa Indonesia. Misal saja, book dalam Bahasa Inggris artinya buku, nah di bahasa PNG buku adalah bok dengan bahasa dan pengucapan Bahasa Indonesia. Yang menarik lainnya adalah kondisi bangunan disana cukup dibilang sederhana, namun tertata dengan rapi dan bersih.

Terakhir, setelah setahun di sana apa pembelajaran yang kamu dapatkan untuk kemudian menjadi oleh-oleh yang kamu bawa sepeninggalan kamu dari Pegunungan Bintang yang mungkin bisa menjadi pembelajaran juga buat kami para pembaca?

Pembelajaran hidup yang tak mungkin saya pernah lupakan ketika saya ada berada di pelosok negeri adalah saya menyadari bahwa kebahagiaan yang sebenarnya kita cari-cari di kebanyakan orang adalah ada di dalam diri kita sendiri. Dengan saling berbagi kita akan merasakan bagaimana kebahagiaan hakiki. Dan kebahagiaan itu akan memberikan atmosfer positif untuk lingkungan sekitar dimanapun kita berada.

Saya jadi memahami bahwa hidup tak melulu soal materi, tapi hidup kita di dunia adalah untuk mempersiapkan kehidupan yang lebih abadi. Menghadapi ketidakpastian dalam hidup jangan sampai membuat kita terpuruk dan pesimis. Teruslah berusaha dan teruslah mencoba. Kalau masih juga jatuh, terus bangkit, ingat bahwa masih banyak di luar sana yang memiliki masalah yang jauh lebih rumit dari dirimu. So, enjoy your life...... 

Ps: Foto merupakan dokumentasi Shofy.

img-20170105-wa0013-586f01e5539773c505dd
img-20170105-wa0013-586f01e5539773c505dd

Arsyad Azizi Iriansyah

/ekalawya

TERVERIFIKASI

Tidak lebih dari anak muda lainnya yang hanya ingin belajar, belajar dan belajar. Dapat dihubungi via email arsyadiriansyah@gmail.com
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana