Eka Adhi Wibowo
Eka Adhi Wibowo Dosen

Dosen Fakultas Bisnis Universitas Kristen Duta Wacana, Yogyakarta

Selanjutnya

Tutup

pilihan

Keluar dari Kemiskinan, Jangan Fokus pada Keterbatasan

20 Juni 2017   12:47 Diperbarui: 20 Juni 2017   12:56 135 0 0

Tulisan ini terinspirasi dari artikel Bp Hasanudin Abdurakhman (Menyusun Rencana Kabur dari Kemiskinan) pikiran saya kemudian menelisik ke masa lalu saat saya masih di bangku Sekolah Dasar. Saat itu saya membaca sebuah cerpen dari salah satu majalah anak-anak SD, saya lupa apa nama majalah itu tetapi saya ingat salah satu penggalan cerpen tersebut yang mengisahkan anak seorang janda miskin yang bekerja sebagai pemulung, namun si anak tersebut memiliki prestasi yang begitu cemerlang di sekolahnya. 

Begitu cemerlangnya prestasi anak itu hingga mendorong sahabatnya untuk mengikuti ke rumahnya. Sahabatnya terkejut ketika di rumahnya ditemukan potongan-potongan koran yang dikliping yang berisi artikel-artikel yang berkualitas. Potongan-potongan koran tersebut didapatkan dari koran-koran hasil pemulungan sang ibu. Dari artikel-artikel yang dikumpulkan itulah si anak tersebut bisa mendapatkan pengetahuan-pengetahuan yang diperlukan dalam pelajaran di sekolah. 

Keterbatasan orang tuanya yang tidak mampu membelikan buku-buku pelajaran tidak menghalanginya untuk menimba ilmu bahkan di tempat sampah sekalipun pengetahuan tetap dapat diperoleh. Singkatnya anak itu terus menerus berprestasi sehingga memperoleh beasiswa untuk meneruskan pendidikan hingga menjadi seorang yang sukses. Ilustrasi cerita di atas mungkin dapat kita temukan dalam kehidupan nyata bahwa begitu banyak orang-orang yang berhasil sukses karena tidak terfokus pada keterbatasan.

Dalam artikel tersebut penulis juga mengutarakan bahwa kemiskinan itu terjadi karena pola pikir dan kemalasan. Hal tersebut sangatlah benar karena untuk bisa produktif kita harus memiliki keterampilan yang harus ditingkatkan terus menerus sesuai dengan bidang pekerjaan kita. Menjadi orang yang cakap dan terampil itu bukan kerja sehari dua hari tetapi ia membutuhkan daya yang besar dan usaha yang terus menerus. 

Selain itu pola pikir juga menentukan bagaimana orang bisa keluar dari kemiskinan, seperti anak yang menjadi tokoh dalam cerpen tersebut yang tidak hanya meratapi nasib dari keterbatasan tetapi terus berusaha tanpa kenal lelah untuk dapat berhasil dalam hidupnya. Filosofi berusaha tersebut masih berlaku hingga kini sehingga harus tetap dipegang dan menjadi pedoman bagi orang-orang yang ingin berhasil dalam hidupnya untuk tidak fokus pada keterbatasan.

Fenomena yang terjadi sekarang justru bertolak belakang dari filosofi kesuksesan itu, saat ini yang banyak terjadi adalah tawaran-tawaran yang seolah-olah menawarkan jalan pintas untuk keberhasilan. Kita dapat simak dari berita-berita mengenai banyaknya orang-orang yang tertipu oleh investasi bodong yang menjanjikan keuntungan besar hingga modus penggandaan uang dengan teknik-teknik ‘spiritual’ yang diluar nalar. 

Gejala-gejala sosial itu menunjukkan bahwa manusia itu mudah dibuat terlena jika ingin cepat kaya tanpa mau berupaya lebih keras untuk meningkatkan kemampuan diri. Menjadi orang dengan kemampuan dan pengetahuan yang tinggi tidak seperti disulap serta merta berubah, dibutuhkan banyak usaha, daya tenaga dan pengorbanan untuk mau terus belajar. Untuk memiliki mental tersebut harus diawali dari mengubah pola pikir untuk tidak terus tertuju pada keterbatasan-keterbatasan yang ada.