PILIHAN

Merawat Nasionalisme Perlu Berkesinambungan

20 Mei 2017 14:17:29 Diperbarui: 20 Mei 2017 22:37:08 Dibaca : 78 Komentar : 1 Nilai : 5 Durasi Baca :
Merawat Nasionalisme Perlu Berkesinambungan
Monumen perjuangan etnis Tionghoa-Jawa diabadikan di Taman Budaya Tionghoa-Indonesia, TMII (Dokpri)

Kebangkitan Nasional jelas tidak bisa dilepaskan dari sosok Boedi Oetomo. Organisasi ini menjadi "motor" dan menginspirasi bangsa ini untuk bangkit. Ya, bangkit melawan penjajah dengan semangat nasionalisme yang akhirnya membawa bangsa ini menjadi besar dan merdeka.

Para pelajar dan generasi muda di negeri ini penting memahami bahwa pada era Boedi Oetomo itu kebangkitan nasional sejatinya adalah upaya mempersatukan bangsa dengan banyak generasi muda untuk menyatukan visi demi kemerdekaan.

Sesuai Konvensi Hukum Laut Internasional (UNCLOS) 1982, Indonesia berdiri dengan disatukan oleh lautnya yang luas. Laut mempersatukan jiwa dan raga para warganya yang terdiri dari berbagai: agama, etnis, bahasa dan ras di bawah payung Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI.

Hari Kebangkitan Nasional ke-109 ini, yang kini diperingati di berbagai daerah dan ibukota, patut dijadikan momentum peningkatan pemerataan pembangunan, terutama infrastruktur, transportasi dan telekomunikasi hingga ke kawasan perbatasan.

Jokowi Resmikan PLBN Aruk di Sambas, Kalbar (Foto: Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden)
Jokowi Resmikan PLBN Aruk di Sambas, Kalbar (Foto: Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden)

Presiden RI Joko Widodo mengunjungi Kabupaten Yahukimo, Papua, Selasa (18/10/2016). Kunjungan ini dalam rangka peresmian Bandara Nop Goliat Dekai, serta penetapan satu harga BBM untuk Papua.
Presiden RI Joko Widodo mengunjungi Kabupaten Yahukimo, Papua, Selasa (18/10/2016). Kunjungan ini dalam rangka peresmian Bandara Nop Goliat Dekai, serta penetapan satu harga BBM untuk Papua.

Karena itu, patut pula disyukuri bahwa bagi Pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) sejak 2014, dalam menangani pembangunan infrastruktur tidak mengenal dikotomi. Ini proyek baru maupun proyek lama. Pembangunan infrastruktur dipandangnya sebagai satu kesinambungunan yang tidak akan pernah berhenti.

Proyek strategis nasional mendapat perhatian besar Jokowi. Baik yang sudah dipersiapkan oleh kabinet sebelumnya maupun yang dirancang Kabinet Kerja sendiri.

Melalui Kabinet Kerjanya, kini ia mencurahkan perhatian di kawasan perbatasan. Belakangan, membangun Indonesia dari wilayah perbatasan dikenal sebagai membangun dari pinggiran. Pembangunan kawasan itu diarahkan guna memperkuat potensi daerah perbatasan.  

Substansinya menekankan perlu peningkatan produktivitas rakyat dan memperkuat daya saing negara di tingkat global. Karena itu percepatan sejumlah proyek yang telah dimulai pada era sebelumnya menjadi prioritas kabinet kerja.

Dapat disebut antara lain proyek jalan tol Cipali (Cikopo - Palimanan) dapat dioperasikan menjelang Lebaran 2015. Waduk Jatigede (Jawa Barat) dapat diselesaikan.

Jokowi hingga kini sudah enam kali berkunjung ke Papua
Jokowi hingga kini sudah enam kali berkunjung ke Papua

Salah satu cara menanamkan nasionalisme kapada anak didik dengan cara berlatih disiplin (Dokpri)
Salah satu cara menanamkan nasionalisme kapada anak didik dengan cara berlatih disiplin (Dokpri)

Percepatan pembangunan juga dilakukan pada Jembatan Soekarno Manado dan Jembatan Merah Putih Ambon yang telah beroperasi 2015, juga percepatan pembangunan Waduk Nipah di Madura dan Waduk Bajulmati di Banyuwangi (Jawa Timur). Demikian pula masalah berlarut-larut dalam sengketa uang ganti rugi lahan atas genangan lumpur Lapindo di Sidoarjo juga bisa diatasi.

Pemerintahan Jokowi menyadari bahwa pembangunan semua itu belum cukup menjamin rakyat dapat hidup sejahtera dan makmur. Sebab, masalah papan masih dapat dipandang sebagai persoalan laten.

Pasokan rumah tidak bisa sepenuhnya diserahkan kepada swasta. Pasokannya terbatas dan berimbas pada mahalnya harga rumah untuk rakyat. Karena itu, Jokowi, melalui Kementerian PUPR, melaksanakan program sejuta rumah untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Presiden mendorong masyarakat untuk membeli rumah daripada mengontrak.

Rakyat Indonesia memang harus didorong memiliki rasa optimistis dengan potensi, kemampuan serta kekayaan yang dimiliki. Kebangkitan Nasional harus menjadi momen penting untuk kembali menyatukan tekad bagi kepentingan yang lebih besar, menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi dan golongan.

Pembangunan infrastruktur di kota besar dan kawasan pinggiran, kini berjalan menggembirakan. Kendati begitu menggaungkan semangat persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia - dari berbagai macam latar belakang suku, agama, ras, golongan dan bahasa, penting dilakukan terus menerus bagai sebuah pohon yang perlu dirawat secara berkesinambungan.

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.
LABEL humaniora

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana