Makalah 1

24 Oktober 2010 16:10:15 Dibaca :


BAB 1



HAKEKAT PERKEMBANGAN ANAK DIDIK



Penegertian Perkembangan dan Pertumbuhan



Dalam kehidupannya manusia selalu mengalami perkembangan dan pertumbuhan. Perkembangan yakni pola perubahan organisme (individu) baik dalam struktur maupun fungsi (fisik maupun psikis) yang terjadi secara teratur dan terorganisasiserta berlangsung sepanjang hayat. Sedangkan pertumbuhan yaitu perubahan dalam aspek jasmaniah seperti berubahnya struktur tulang, tinggi dan berat badan, proporsi badan, semakin sempurnanya jaringan saraf, dan sejenisnya. Dengan kata lain, pengertian pertumbuhan itu lebih bersifat kuantitatif dan terbatas pada pola perubahan fisik yang di alami individu sebagai hasil dari proses pematangan. Atau singkatnya dapat disimpulkan bahwa pengerian pertumbuhan tercakup dalam pengertian perkembangan, namun tidak setiap pertumbuhan dalam arti perkembangan merupakan pertumbuhan.



Anak sebagai Suatu Totalitas



Sebagai objek studi psikologi perkembangan, anak dip[andang sebagai suatu totalitas. Konsep anak sebagai suatu totalitas sekurang – kurangnya dapat mengandung tiga pengertian berikut; (a) anak adalah makhluk hidup (organisme yang merupakan suatu kesatuan dari keseluruhan aspek yang terdapat dalam dirinya); (b) dalam kehidupan dan perkembangan anak, keseluruhan aspek anak tersebut saling terjalin satu sama lain; dan(c) anak berbeda dari orang dewasa bukan sekedar secara fisik, keseluruhan aspek yang terdapat dalam diri anak tersebut secara terintregasi saling terjalin dan saling memberikan dukungan fungsional satu sama lain. Sebagai misal, anak yang sedang sakit panas bisa berubah perilakunya, anak yang habis dimaarahi orang tua bisa jadi tidak nafsu makan, anak yang sedang malu mukanya menjadi merah, anak yang sedang aktif melakukan berbagai aktivitas fisik bisa aktif pula kegiatan mentalnya. Reaksi – reaksi psikis anak selalu di sertai dengan reaksi fisikny, dan begitu pula sebaliknya.



Perkembangan sebagai Proses Holitik dari Aspek Biologis, Kognitif dan Psikososial



Sesuai dengan konsep anak sebagai suatu totalitas atau sebagai individu, perkembangan juga merupakan suatu proses yang sifatnya menyeluruh (holistik). Artinya, perkembangan itu terjadi tidak hanya dalam aspek tertentu, melainkan melibatkan keseluruhan aspek yang saling terjalin (interwoven) satu sama lain.


Secara garis besar, proses perkembangan individu dapat dikelompokan ke dalam tiga domain; prose biologis, kognitif, dan psikososial (Santrock & Yussen, 1992: Seifert & Hoffnung, 1991). Proses – proses biologis atau perkenbangan fisik mencakup prubahan – perubahan dalam tubuh individu seperti pertumbuhan otak, otot, sistem saraf, struktur tulang, hormon, organ – organ indrawi, dan sejenisnya.


Proses – proses kognitif melibatkan perubahan – perubahan dalam kemampuan dan pola berpikir, kemahiran berbahasa, dan cara individu memperolehpengetahuan ndari lingkungannya. Kalau mengamati prakteknya, Anda bisa melihat tentang proses – proses biologis mempengaruhi proses perkembanagn kognitif, proses – proses kognitif mempengaruhi proses perkembangan psikososial, proses – proses psikososial mempengaruhi pertumbuhan biologis, dan sebaliknya. Sebagai misal, anak yang mengalami kelainan dalam organ suara dapat mengalami keterlambatan dalam perkembangan bahasanya, dan pada gilirannya juga dapat mempengaruhi perkembangan psikososialnya. Ini menggambarkan bagaimana saling terjalinnya antara asek yang satu dengan yang lainnya.



Kematangan vs Pengalaman dalam Perkembangan Anak



Kematangan adalah urutan perubahan yang dialami individu secara teratur yang ditentukan oleh rancangan genetiknya (Santrock & Yussen 1992: 20). Sedangkan pengalaman merupakan peristiwa – peristiwa yang dialami oleh individu dalam berinterksi dengan lingkungan.


Kaum naturasionists mengakui bahwa kondisi lingkungan yang ekstrim dapat menyebabkan gangguan terhadap proses perkenmbangan anak, tetapi mereka meyakini bahwa kecenderungan – kecenderungan dasar pertumbuhan dan perkembangan individu telah terpola secara genetik. Sebaliknya, kaum environmentalists menekankan pentingnya pengalaman dalam perkembangan anak.


Di samping dua kelompok aliran di atas, ada pula para ahli perkembangan (interactionists) yang mempercayai bahwa hampir semua kualitas fisik dan psikis individu merupakan hasi dari pengauruh pembawaan dan lingkungan. Sebagaio misal, tinggi badan anak tergantung kepada rancangan genetik yang diturunkan dari orang tuanya (pembawaan), di asamping tergantung pula kepada gizi dan latihan yang diperoleh selama proses pertumbuhan (lingkungan); pertumbuhan kognisi anak tergantung kepada taraf intelegensi yang dimilikinya (pembawaan), di samping tergantug pula pada kualitas pengalaman belajar yang diperoleh selama hidupnya (lingkungan); anak juga secara biologis sudah terprogram untuk belajar bahasa (pembawaan), namun merka hanya akan belajar bahasa yang mereka dengar (lingkungan).



Kontinuitas vs Diskontinuitas dalam Perkembangan



Apakah perkembangan itu merupakan sesuatu yang sinambung (continue) atau tidak sinambung (discontinue)?. Para ahli kontinuitas meyakini bahwa perkembangan itu terjadi secara halus dan stabil melalui penambahan atau peningkatan bertahapdalam hal abilitas, keterampilan, dan atau pengetahuan baru pada suatu langkah yang ralatif sama. Sementara itu, para ahli diskontinuitas beranggapan bahwa perkembangan terjadi pada priode – periode kecepatan yang berbeda, berganti – ganti antara periode yang hanyasedikit perunahannya dengan periode yang tajam dan cepat perubahannya.


Ketrkaitannya dengan perkembangan, para ahli kontinuitas berpendapat bahwa perilaku – perilaku awal secara bersama akan membangun dan membentuk perilaku – perilaku selanjutnya atau sekurang – kurangnya perkembangan – perkembangan awal itu memiliki ketrkaitan dengan perkembangan selanjutnya. Sebaliknya, para ahli diskontinuitas menyatakan bahwa beberapa aspek perkembangan muncul secara independen dari apa yang sudah muncul sebelumnya dan tak dapat diprediksi dari perilaku – perilaku sebelumnya.



BAB II



PERKEMBANGAN BIOLOGIS DAN PERSEPTUAL ANAK



1. Perkembangan Fisik dan Perseptual Anak Sekolah Dasar





  1. Perkembangan fisik


Kondisi fisik berpengaruh pada aktivitas – aktivitas anak termasukaktivitas belajar dan aktivitas – aktivitas mental, serta berpengaruh juga terhadap perkembangan kepribadian anak secara keseluruhan.






    1. Tinggi dan berat badan



Pertumbuhan fisik anak pada usia SD cenderung lebi lambat dan relatif konsisten. Laju perkembangan seperti ini berlangsung sampai terjadinya perubahan – perubahn besar pada awal masa pubertas.






    1. Proporsi dan bentuk tubuh



Proporsi tubuh anak SD kelas – kelas awal umumnya masih kurang seimbang. Kekurang seimbangan ini berkurang ketika anak mencapai kelas 5 atau kelas 6. Proporsi tubuh anak umumnya sudah mendekati keseimbangan pada kelas – kelas akhir SD.






    1. Otak



Dalam otak terdapat pusat – pusat saraf yang mengndalikan perilaku individu. Bila dibanding dengan pertumbuhan bagian – bagian tubuh lainnya, pertumbuhan otak dan kepala jauh lebih cepat. Menurut Santrock & Yussen (1992), sebagian besar pertumbuhan otak itu terjadi pada masa usia dini.






    1. Keterampilan motorik



Selama masa anak, kemampuan gerak motorik menjadi jauh lebih halus dan lebih terkoordinasi daripada masa sebelumnya. Dalam keterampilan – keterampilan oyang melibatkan aktivitas otot besar, anak laki – laki lazimnya lebih baik dari pada anak perempuan.




  1. Perkembangan Perseptual


Aktvitas perseptual pada dasarnya merupakan proses pengenalan individu terhadap lingkungannya. Semua informasi – informasi tentang lingkungan sampai kepada individu melalui alat – alat indera yang kemudian diteruskan melalui saraf sensorik ke bagian otak.






    1. Persepsi visual



Persepsi visual adalah persepsi yang didasarkan pada penglihatan. Dilihat dari dimensinya, ada 6 jenis persepsi visual yang dapat dibedakan, yaitu:


- persepsi kontanitas ukuran


- persepsi tentang objek atau gambar pokok dan latarnya


- persepsi keseluruhan dan bagian


- persepsi kedalaman


- persepsi gerakan






    1. Persepsi pendengaran



Persepsi pendengaran merupakan pengamatan dan penilaian terhadap suara yang diterima oleh bagian telinga.


Seperti halnya persepsi penglihatan, perkembangan persepsi pendengaran mencakup beberapa dimensi, yaitu:


- persepsi lokasi pendengaran


- persepsi perbedaan


- persepsi pendengaran utama dan latarnya



2. Faktor Heriditas dan Lingkungan dalam Perkembangan Anak



Individu manusia adalah makhluk Tuhan yang paling sempurna bila dibanding makhluk – makhluk lainnya. Meskipun pada saat kelahirannya anak manusia tampak seperti tak berdaya bila di banding dengan anak hewan miasalnya, ia sesungguhnya memiliki mpotensi yang sangat besar. Dengan berbagai potensi yang dimilikinya, anak manusia bisa berkembang dan mengalami banyak perubahan dalam kehidupannya baik secara fisik mauoaun secara psikis.


a. Mekanisme pewrisan secara genetik


Setiap spesies, termasuk manusia, memiliki mekanisme tertentu untuk mewariskan sifat dan karakteristik bawaan dari suatu generasi ke generasi berikutnya yaitu melalui prinsip – prinsip ganetika.


b. Prinsip – prinsip pewarisan secara genetika


Penentuan warisan secara genetik merupakan masalah yang sangat kompleks sehingga masih banyak aspek yang masih belum diketahui secara pasti tentang hal tersebut. Namun demikian, beberapa prinsip genetika telah ditemikan oleh para ahli, yaitu:


- gen – gen dominan resesif


- gen – gen jenis kelamin


- karakteristik – karakteristik yang di wariskan secara poligenik


- perbedaan genotip – penotip


- rentang reaksi


- dan kanalisasi (Santrock & Yussen, 1992)


c. Pengaruh interaksional antara faktor heriditas dan lingkungan dalam perkembangan


Pemahaman terhadap mekanisme dan prinsip – prinsip pewarisan genetika dengan sendirinya talah memberikan dasar pemahaman tentang bagaimana faktor keturunan dan faktor lingkungan berperan dalam perkembangan individu (manusia). Gen – gen yang diwariskan oleh orang tua telah memuat kode – kode informasi genetik sehingga berperan sebagai “blue print” bagi pekembangan individu. Sebaliknya, lingkungan interaksional tempat individu tumbuh dan berkembang berperan sebagai sarana yang memfasilitasi atau membatasi teraktualisasikannya karakteristik – karakteristik potensial yang diwarisi individu secara genetik.




3. Implikasi bagi Penyelenggaraan Pendidikan di SD



Pemahaman kita tentang karakteristik perkembangan fisik anak serta faktor dan akibat yang dapat ditimbulkan, akhirnya membawa implikasi praktis bagi penyelenggaran pendidikan di SD. Implikasi – implikasi tersebut di antaranya berkenaan dengan penyelenggaraan pembelajaarn secara umum, pemeliharaan kesehatah dan nutrisi anak, pendidikan jasmani, serta penciptaan lingkungan dan pembiasaan berperilaku sehat.


• Implikasi bagi penyelenggaran pembelajaran, misal:


Dalam melakukan suatu kegiatan pembelajaran diperlukan suatu cara pembelajaran yang “hidup” dalam arti memberikan banyak kesempatan kepada anak untuk mengfungsikan unsur – unsur fisik dan atau aspek – aspek perseptualnya. Yaitu dengan pembelajaran yang sifatnya langsung. Dengan metode pembelajaran yang seperti ini akan memunculkan kegemaran dalam belajar, memberikan banyak dampak positif, serta berkembangnya aspek kognisi dan kreativitas, fisik – perseptual dan sosial.


Konkritnya, cara pembelajaran yang diharapkan adalah memiliki karakteristik sebagai berikut:


- programnya fleksibel


- tidak dilakukan secara monoton dan verbalistik


- Menggunakan berbagai media dan sumber belajar.


Sehingga diharapkan anak akan terlibat scara penuh dengan menggunakn berbagai proses mental perseptual.

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?