HEADLINE FEATURED

12 Mei: Merayakan Tragedi Trisakti dengan Sengketa

12 Mei 2011 13:11:13 Diperbarui: 12 Mei 2017 14:03:37 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :
12 Mei: Merayakan Tragedi Trisakti dengan Sengketa
KOMPAS/AGUS SUSANTO

Kami terhenyak mendengar bahwa Universitas Trisakti akan tutup selama satu tahun setelah tanggal 19 Mei 2011. Informasi, yang kini kami yakini sebagai rumor takberdasar ini, adalah jawaban anak kawan kami, mahasiswa semester akhir Universitas Trisakti, ketika dia ditanya kapan selesai kuliah. Kami terpana selama mendengar penuturan tentang keadaan kampusnya akhir-akhir ini. Bagaimana mungkin universitas sebesar Trisakti mengalami gonjang-ganjing seperti itu? 

Anak kawan kami ini--demi keamanannya, tidak perlu disebutkan identitasnya-- menuturkan bahwa sengketa antara Yayasan Trisakti dengan Rektor Prof. Dr. Thoby Mutis belum menampakkan akhir penyelesaiannya. Keputusan hukum sudah ada, tinggal dilaksanakan. Tapi penolakan malah semakin mengeras dan bisa membesar. Ada sekelompok mahasiswa bahkan yang melibatkan diri, menyiapkan perlawanan fisik jika keputusan hukum dari pengadilan dijalankan pada 19 Mei nanti. Eksekusi. "Beginikah kampus reformasi itu?" tanya kami. "Para alumnus takusah bernostalgia ke tahun 1998. 

Tidak perlu juga mengingat para martir yang membanggakan itu: Elang Mulya Lesmana, Hafidhin Royan, Hery Hartanto dan Hendriawan Sie, yang gugur dalam tragedi Trisakti 12 Mei. Nama-nama mereka sudah tidak lagi menjadi buah bibir kami. Yang sekarang kami celotehkan di ruang kelas, di tempat-tempat kami nongkrong, adalah segala hal yang membuat pikiran kami sendiri terombang-ambing. Segala soal mengenai nasib civitas akademika yang tidak jelas dan serba muram menatap hari esok, seperti isu penutupan kampus selama satu tahun itu," jawabnya lagi sengit. 

Darinya, kami mendengar perkembangan terakhir sengketa antara Yayasan Trisakti dengan Prof. Dr. Thoby Mutis; pengaruhnya terhadap kehidupan kampus, khususnya mahasiswa. Sementara gambaran yang lebih lebar mengenai duduk perkara Universitas Trisakti kami dapatkan dari portal-portal berita dan blog-blog di internet, ditambah saling tukar informasi dengan sesama alumnus. Kami, selaku alumnus Usakti, jelas tidak ingin nasib buruk menimpa mahasiswa Usakti dan mencabik-cabik almamater. Kami tidak berhak menilai pihak mana yang benar dalam sengketa itu. Karena kebenaran tampaknya tidak dianggap penting lagi oleh mereka yang bertikai, melainkan kemenangan. Kemenangan mendapatkan hak penguasaan aset dan pengelolaan kampus. 

Soal-soal ideal menyangkut pentingnya pendidikan bagi anak bangsa, peningkatan kualitas pendidikan, dan nama besar Universitas Trisakti, kini tergerus oleh tafsir dan logika atas masa lalu Trisakti demi membenarkan pihak sendiri. Bukankah jalan 'keadilan' sudah ditempuh? Bukankah keputusan hukum sudah ditetapkan? Bukankah akan menjadi tauladan yang indah jika para pihak menerima keputusan hukum dengan lapang dada? Soal menggugat dan melawan, siapapun bisa melakukannya. 

Jika pihak Thoby menyebut-nyebut soal adalanya aset negara di Universitas Trisakti, yang menjadi pembenarannya, kenapa keputusan negara yang sama, lewat pengadilan, malah ditentangnya? Bukankah ambiguitas sikap seperti itu memertontonkan contoh yang kurang baik dari seorang pelaku pendidikan tinggi di negeri ini? 

Tepat tiga belas tahun lalu, 12 Mei 1998, empat mahasiswa Trisakti gugur terhormat, menjadi tumbal agung reformasi. Mereka gugur bukan karena berebut pengelolaan dan kepemilikan aset kampusnya. Mereka gugur demi cita-cita yang lebih besar, melebihi cita-citanya sendiri. Jika hari ini ada pihak yang bersengketa mengambil untung dari perayaan Tragedi Trisakti, demi pembenaran pihak sendiri, betapa memalukan! 

Ketika menulis ini, seorang kawan sesama alumnus mengirimkan pesan pendek: Untuk pertama kali dalam sejarah peringatan Tragedi Trisakti 12 Mei, mahasiswa tidak akan turun ke jalan. Sebuah keputusan yang luar biasa mereka lakukan. Akan menarik nanti untuk kita lakukan rekam jejak dan studi kasus membangun kompetensi, melakukan perubahan. Dinamika pengambilan keputusan memperkaya tradisi yang bernilai sejarah tinggi... Tapi sayang, seseorang yang terlibat dalam sengketa berinisal AS, akan menggunakan sekelompok orang berjaket almamater untuk demo di PN, mengatasnamakan mahasiswa. 

Salut untuk mahasiswa Trisakti. Semoga keadilan hukum ditaati tanpa sengketa lagi.

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana