Wahyu Triasmara
Wahyu Triasmara profesional

Seorang manusia biasa kebetulan berprofesi dokter yang ingin berbagi cerita dalam keterbatasan & kesederhanaan.

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan headline featured

Kematian Bayi Naila, Salah Siapa?

3 November 2013   14:23 Diperbarui: 11 September 2017   07:45 3181 19 19
Kematian Bayi Naila, Salah Siapa?
Ilustrasi Admin / Shutterstock

Malu dan sedih rasanya melihat dan membaca berita yang menjadi headline diberbagai media mengambil judul "meninggalnya bayi Naila di depan loket pendaftaran rumah sakit dipanguan ibunya". Malu karena lagi-lagi instansi kesehatan yang mendapat sorot pemberitaan miring, sedih karena bayi yang baru berusia 2 bulan itu harus berpulang ke sisiNya. Lalu siapa yang harus bertanggung jawab terhadap masalah ini? apakah benar begitu kematian bayi naila karena sepenuhnya kesalahan pihak rumah sakit? jika benar memang sepenuhnya karena human error pihak rumah sakit, sudah sepatutnya dilakukan tindakan tegas pada rumah sakit tersebut, supaya kedepan tidak terjadi hal serupa lagi. 

Setidaknya ada beberapa poin yang ingin saya garis bawahi, melihat kasus ini tidak hanya dilihat dari sudut pandang informasi pasien saja, tapi berbagai sudut pandang lain supaya kedepan bisa menjadi pembelajaran bagi kita semua. Ada beberapa poin yang harus diketahui juga oleh masyarakat, kenapa seringkali muncul berita yang seolah terjadi "penolakan" pasien dan berita miring lainnya. Berikut ini adalah pendapat saya pribadi melihat kasus naila dari sudut pandang orang yang juga bekerja di bidang kesehatan. 

1. Orang Tua Bayi Naila Punya Jamkesda (jaminan kesehatan daerah) 

Bayi sekecil itu (2,5 bln), dengan informasi mengalami gangguan pernafasan. Organ pernafasan pada bayi memang tidak sebaik orang dewasa, begitu juga sistem kekebalan tubuh anak juga masih rendah sehingga rentan untuk terserang penyakit. Dalam pemberitaan disebutkan orang tua memiliki jamkesda, tp disebutkan juga pada mulanya bayi tidak langsung di bawa ke puskesmas atau rumah sakit krn keterbatasan biaya. 

Ada sesuatu yang bertolak belakang, karena pengguna jamkesda notabene Gratis, jd tidak bisa dijadikan alasan untuk tidak segera membawa anak ke puskesmas/rumah sakit. Seperti yang saya sebutkan diatas, jika anak-anak kekebalan tubuhnya masih sangat rendah, jika ketika sakit tak segera dibawa berobat kondisinya akan semakin jelek / menurun. Apalagi maslaah gangguan pernafasan yang merupakan kesehatan paling vital bagi seseorang. Tentu saja harus segera mendapatkan perawatan. 

2. Sistem Rujukan Puskesmas-Rumah sakit 

Karena tidak punya biaya, akhirnya orang tua hanya membawa ke bidan. Bidan tak sanggup menangani bayi naila sehingga mengirimnya ke puskesmas terdekat. Di puskesmas pun juga karena keterbatasan alat dan obat akhirnya tidak sanggup menangani pasien dan hanya membuat surat rujukan untuk dikirim ke RSUD yang lebih lengkap untuk layanan dokter dan peralatanya. Puskesmas sudah menyarankan dirujuk menggunakan ambulance, tapi orang tua menolak dan memilih menggunakan mobil pribadi milik tetangga. 

Patut juga dipertanyakan kenapa orang tua menolak dirujuk menggunakan ambulance. Sementara untuk kasus kegawatan demikian seharusnya rujukan didampingi oleh petugas paramedis yang dilengkapi peralatan bantuan hidup dasar seperti tabung oksigen, yang ada di dalam ambulance. Rujukan juga terpaksa dilakukan karena memang banyak puskesmas-puskesmas di negara kita tidak memiliki fasilitas dan obat yang memadai. 

3. Bayi Naila Antri Di Loket, Tidak Langsung Masuk UGD 

Bayi naila didaftarkan oleh orang tua di loket pendaftaran untuk pasien poliklinik dan rawat jalan. Bukan langsung masuk ke UGD ( unit gawat darurat) supaya bisa langsung ditangani. Bayi naila mendapat urutan ke 115, sementara saat itu pasien yang dipanggil baru urutan ke 95. Wow... untuk di poliklinik anak saja antrian sampai nomor 115, belum lagi poliklinik yang lain dimana tentunya pasiennya juga pastinya jauh lebih banyak. Bisa dibayangkan kondisi riuh ramainya rumah sakit itu, betapa sibuknya petugas administrasi rumah sakit harus melayani satu persatu pasien yang datang untuk periksa. 

Itulah salah satu keunggulan rumah sakit umum daerah, karena program pemerintah berobat gratis, bahkan orang yang tidak sakit pun pada akhirnya kadang juga ikut antri untuk periksa. Kondisi demikian membuat pasien membludak, saya sebagai petugas kesehatan bisa membayangkan betapa capek, dan konsentrasi petugas disana tentunya tak bisa fokus satu persatu karena biasanya semua pasien ingin didahulukan untuk dilayani. Itulah kenapa seringkali orang menyebut, berobat di rumah sakit umu daerah bukannya sembuh tapi malah tambah sakit karena antrinya begitu panjang. Tak dapat disalahkan juga pendapat demikian, karena setiap orang sakit pasti ingin segera didahulukan utk dilayani. 

Tapi itulah fakta dilapangan kondisi ke Rumah Sakitdaerah kita setiap hari melayani ratusan pasien yang datang untuk berobat tanpa didukung oleh tenaga, dan sarana prasarana yg memadai dalam rangka menghadapi era pengobatan gratis. 

4. Bayi Naila Dipastikan Meninggal Di UGD 

Setelah tadi kita coba membayangkan betapa ramai dan riuhnya suasana loket pendaftaran dan antrian poliklinik. Dari berita yang saya dapat akhirnya bayi naila dibawa ke UGD utk segera ditolong karena ayah naila mendesak petugas loket utk segera didahulukan. Tak bisa juga kita semerta-merta menyalahkan petugas loket. Mereka kebanyakan basicnya bukan orang kesehatan, sehingga tidak tahu kondisi pasien itu gawat, kritis atau tidak. 

Sementara yang terjadi karena ramainya pasien, ditambah petugas juga tak melihat kondisi bayi secara langsung. Membuat mereka berpikir pasien tersebut sama saja dengan pasien-pasien yang mengantri di poliklinik rawat jalan lainnya. Sehingga harus mengikuti prosedur untuk juga ikut antri dan melengkapi berkas persyaratan prosedur pengobatan gratis tersebut. 

5. Bayi Naila Tak di Tangani Karena Surat-surat administratif yang belum lengkap. 

Terlalu tendensius juga menyudutkan rumah sakit karena disebut gara-gara maslaah kelengkapan administrasi bayi naila tidak dilayani? kenapa saya bilang menyudutkan? disebutkan bahwa naila mendapatkan antrian periksa nomor 115, itu berarti walaupun surat-surat belum lengkap naila tetap didaftarkan dan dilayani untuk periksa dengan nomor urut 115. 

Yang akhirnya jadi masalah, petugas administrasi yang notabene bukan orang medis biasanya tidak tahu kondisi pasien itu gawat atau tidak, apa lagi dari informasi dia tak melihat langsung bayi naila. Sehingga barangkali mereka berpikir pasien itu sama dengan pasien lain yang antri berobat jalan di poli anak. Tidak bisa disalahkan juga ketika para petugas itu meminta surat kelengkapan, dsb, karena memang itu adalah prosedur yag diinstruksikan pada mereka. Karena klo semua pasien datang tidak melengkapi prosedur yang ada bisa-bisa justru petugas itu yang nanti pada akhirnya disalahkan. 

6. Dari Puskesmas Bayi Naila Sebaiknya didampingi Petugas Kesehatan 

Dari berita yang saya baca dan sudah sedikit saya jelaskan diatas, penolakan pendampingan petugas kesehatan dan ambulance berasal dari pihak orang tua bayi itu sendiri. Entah apa pertimbangannya, tapi untuk rujukan pada pasien yang kondisinya jelek / gawat / kritis seharusnya didampingi petugas kesehatan dan diantar ambulance. 

Dari sana bisa kita lihat, tanpa pendampingan akhirnya orang tua mengalami kebingungan saat mendaftar di rumah sakit. Dimana seharusnya pasien bisa langsung masuk ke ruang UGD, tapi justru orang tua mendaftkar anak di poli rawat jalan. Akan lain ceritanya jikalau saat itu didampingi petugas kesehatan, biasanya langsung akan diantar ke UGD tanpa melewati antrian pendaftaran dulu. Karena sesama petugas kesehatan tahu akan kondisi penyakit pasien itu gawat / tidak sehingga perlu tidaknya diprioritaskan. Sedangkan petugas administrasi saya kira tak begitu mengerti hal demikian. 

7. Apa Fungsi UGD? 

Namanya saja adl unit gawat darurat, jadi untuk kasus-kasus darurat pasien nantinya akan ditangani di sana. Mungkinkah dengan alasan kemanusiaan, seseorang tega menolak pasien tersebut? apa untungnya bagi petugas loket menolak bayi naila jika memang bayi itu membutuhkan pertolongan segera? yang ada seperti yang saya jelaskan diatas, kemungkinan besar ada miss komunikasi karena berbagai alasan yang sebenarnya tetap saja tak bisa dibenarkan juga untuk dijadikan alasan atas hilangnya nyawa seseorang. Tapi bagi anda, keluarga atau saudara anda yang pernah mengalami kasus-kasus kegawatan darutan pasti tahu benar, bagaimana UGD rumah sakit bekerja. 

Tidak pernah saya jamin ada satu UGD rumah sakit manapun, jikalau ada pasien yang gawat, misal: kasus kecelakaan, kasus serangan jantung tiba2, stroke dll, pasien hanya dibiarkan terkapar begitu saja di ruang UGD. Pasti dengan sigap mereka akan pasang infus, oksigen, kasih obat, untuk menstabilkan kondisi pasien. 

Mereka yang pernah dirawat di UGD pasti tahu itu. Kebanyakan mereka yang hanya bisa bicara miring karena tidak tahu akan kondisi dilapangan, sehingga seolah rumah sakit menelantarkan pasiennya. Petugas UGD itu juga manusia kok, mereka juga punya belas kasihan, bukan barbar atau kanibal yang rela atau tega melihat sesama manusia mati begitu saja. Untuk membuktikan, bisa coba anda Tes dan berpura-puralah sakit parah dan masuk UGD pasti akan segera diberikan pertolongan awal 

8. Sistem Kesehatan Kita Hanya Sistem Pencitraan, APBN kesehatan kita termasuk paling kecil di dunia. 

Para pejabat politik berlomba-lomba menawarkan janji-janji mereka supaya dipilih menjadi kepala daerah atau negara. Janji-janji pengobatan gratis mereka umbar agar rakyat mau pilih mereka. Sementara fakta dilapangan anggaran kesehatan APBN kita termasuk yang paling kecil didunia. Hanya sekitar 2,1% dari total APBN. Padahal amanat undang-undang kita mengharuskan pemerintah memenuhi kewajiban anggaran minimal 5% untuk kesehatan tapi sampai sekarang tak pernah terlaksana. Janji tinggal janji, masyarakat dibuai dengan janji pengobatan gratis.

Sementara minimnya anggaran membuat pelayanan kesehatan tak bisa berjalan maksimal. Bisa dilihat pada kasus bayi naila bagaimana pasien dirumah sakit membludak sementara petugas kesehatan baik dokter dan perawat jumlahnya terbatas, pelayanan di puskesmas tak memadai karena keterbatasan persediaan alat dan obat. 

Lalu bagaimana mungkin pelayanan puskesmas, rumah sakit dapat berjalan dengan baik jika sarana dan prasaran saja tidak mendukung, sementara harus melayani ratusan pasien yang berobat gratis setiap hari tanpa ada dukungan dana anggaran yang memadai dari pemerintah pusat dan daerah? kalo sudah begitu akhirnya para pejabatnya saja yang dapat nama utk slogan "pengobatan gratis", tapi yang menderita adalah pihak rumah sakit dan petugas kesehatan yang berhadapan langsung dengan masyarakat yang pd akhinrya terima banyak komplain, mencibir dan menyalahkan pelayanan rumah sakit yang tidak bagus. 

Kasus bayi Naila memang sangat menyayat hati dan melukai rasa kemanusiaan kita. Kasus semacam ini harus diselesaikan dengan transparan supaya kedepan tidak akan terjadi kesalahan yang sama. Jika perlu jadikan momentum untuk mengkritisi sistem kesehatan kita yang memang begitu buruk akibat terlalu dipolitisasi oleh penguasa. Jika memang rumah sakit salah berikan sanksi tegas, agar kedepan dapat ditingkatkan pelayanannya. 

Namun perlu juga masyarakat tahu, bahwa kondisi sistem kesehatan kita memang begitu buruk, sehingga tak elok rasanya hanya menyalahkan mereka para petugas dan pihak rumah sakit didaerah yang sebenarnya hanya sebagai pelaksana sistem kesehatan yg sudah diatur dan ditentukan oleh para penguasa. 

salam sehat dan peduli sesama dr. Wahyu Triasmara