Kotak Suara

Berharap Pada Seni Berpolitik di Pilgub DKI II Demi Pendidikan Politik

18 April 2017   21:11 Diperbarui: 18 April 2017   21:22 78 0 0

Politik kerap dimaknai sebagai seni untuk mendapatkan kekuasaan. Sebagai sebuah seni, berpolitik pun bukanlah produk instan tetapi itu dibentuk lewat tahap-tahap tertentu. Seni berpolitik itu muncul lewat kecerdikan para politikus menghadirkan sebuah karya politik, entah lewat visi-misi sebagai seorang politikus maupun langkah-langkah konkret berpolitik.

Seni berpolitik menjadi lengkap bila rakyat ikut menikmati seni tersebut. Di sini, rakyat tidak hanya terbuai oleh karya-karya seorang politikus, tetapi pandangan politik rakyat juga ikut terbentuk. Artinya, berkat karya seni seorang politikus, rakyat bisa terinspirasi dan terdorong untuk membangun pandangan politiknya termaksud hak pilihnya (hati nurani).

Di sinilah makna berpolitik sebagai seni yang mendidik. Dalam arti, seni berpolitik itu bukanlah kegiatan “memutarbalikan lidah”, tetapi sebuah pendidikan yang membangun mentalitas rakyat pada umumnya.

Dalam konteks politik seperti Pilgub DKI putaran II, seni berpolitik itu bisa muncul lewat dua aktor. Pertama, seni berpolitik ditunjukkan lewat kualitas para calon yang bertarung. Seni berpolitik yang mereka telah bangun diharapkan telah membentuk karakter mereka. Ujung-ujungnya, karakter mereka sudah membentuk cara pandang tertentu bagi rakyat.  

Persoalannya bila proses kesenian para kandidat hanya merupakan kegiatan “asal jadi” atau hanyalah hasil jiplakan dari pihak lain. Pada titik ini kualitas para calon pun dipertanyakan. Karenanya butuh kejelian untuk tahu mana yang sungguh-sungguh berkreasi dalam berpolitik dan mana yang asal-asalan.

Selain, para calon tidak hanya menampilkan visi-misi mereka secara jelas dan terang kepada rakyat. Mereka mesti berkreasi guna mengarahkan hati nurani rakyat untuk memilih mereka. Proses kreasi mereka mesti otentik, jelas dan jujur. Bukan sebaliknya, para calon tampil sebagai “pengacau” hati nurani rakyat dengan memberikan pernyataan-pernyataan yang menekan dan merusak citra seni rakyat.

Kedua, rakyat (pemilih) yang terlibat di dalam kontestasi politik. Berkat seni berpolitik dari para politikus, pemilih diharapkan sudah terdidik. Namun peran mereka tidak cukup sampai di situ. Malahan rakyat bisa berperan lebih vital dari para calon pemimpin.

Di sini, rakyat pemilih bukan hanya sebagai aktor pemegang suara. Tetapi lebih dari itu, hati nurani mereka adalah bahan pendidikan bagi orang lain. Ingat bahwa kontestasi politik seperti Pilgub DKI tidak tertutup pada ruang tertentu. Banyak orang yang ikut menyaksikan kontestasi politik di ibukota tercinta. Tentunya rakyat indonesia mempunyai ekspetasi lebih. Betapa tidak, Jakarta adalah ibukota negara dan dijadikan barometer kehidupan politik tanah air.

Karenanya, sangat disayangkan kalau kontestasi politik (Pilgub DKI) hanya mengulangi catatan kelam dari pemilu-pemilu dari daerah-daerah lain. Hati nurani rakyat dicederai oleh kepentingan sesat. Para politikus berkreasi dengan “main curang” guna mempengaruhi para pemilih.

Ragam isu negatif yang beredar sebelum pemungutan suara Pilgub DKI menjadi alarm kalau seni berpolitik di negeri ini masih diperjuangkan. Kelihatannya pihak-pihak yang terlibat di dalam kontestasi politik masih merasa nyaman untuk berkreasi dengan menggunakan cara-cara lama (negatif) agar bisa memenangkan kontestasi politik.

Pilgub DKI Putaran II akan menjadi bukti bagaimana seni berpolitik telah mendidik rakyat. Tentunya, rakyat Indonesia berharap kontestasi politik itu berlangsung penuh kreasi seni yang mendidik.***