Anies-Sandi, Membangun Wajah Pluralitas dan Menghancurkan Isu SARA di DKI Jakarta

21 April 2017   18:46 Diperbarui: 21 April 2017   19:19 45 1 1

Kemenangan Anies-Sandi sebagai gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta berada di ambang pintu. Walaupun KPU belum mengeluarkan pernyataan resmi tentang kemenangan pasangan ini, namun secara umum lembaga-lembaga survey menggambarkan kalau Anies-Sandi sudah mengungguli pasangan Ahok-Djarot. Dengan pencapaian ini, Anies-Sandi akan menjadi nahkoda baru yang akan memimpin ibukota negara Indonesia, DKI Jakarta.

Banyak program dan janji yang pernah keluar dari mulut pasangan ini semasa kampanye. Seperti biasa, rakyat menunggu bukti. Rakyat tidak berhenti mendukung di kotak suara. Para pemimpin baru ini harus sadar bahwa rakyat akan terus mengiringi perjalanan mereka hingga berada di balai kota.

Karenanya rakyat DKI mempunyai banyak harapan bagi pasangan ini. Salah satu harapan yang yang mesti diingat oleh pasangan ini yakni agar mereka bisa mengatasi isu SARA yang kerap muncul di tanah ibukota dan membangun wajah pluralitas ibukota negara. Pertanyaannya, mampukah mereka mengatasi isu SARA di ibukota negara?

Isu SARA kerap mengiringi kehidupan bangsa kita termaksud kehidupan di ibukota. Padahal bangsa ini bukan hanya dihuni oleh satu kelompok tertentu, tetapi didiami oleh pelbagai macam kelompok dari latar belakang yang berbeda-beda. Namun kenyataan menunjukkan kalau  kerap ada kelompok tertentu yang merasa superior dari kelompok lain. Sikap superioritas ini berujung pada tindakan represif dan isu-isu negatif yang menghancurkan karakter dari kelompok tertentu.

Ada beberapa isu-isu SARA yang sering mewarnai kehidupan bangsa kitai. Contohnya, kalau ada yang maju menjadi pemimpin politik, yang bersangkutan mesti berada satu alur dengan suara mayoritas. Paling kurang, yang bersangkutan mempunyai latar belakang yang sama dengan kelompok mayoritas. Kalau latar belakangnya berseberangan dengan suara mayoritas, makan peluang yang bersangkutan menjadi pemimpin begitu sulit.

Atau juga, pembangunan tempat-tempat ibadah dari kaum minoritas dan waktu beribadah yang kerap ditentang dan ditolak oleh kelompok-kelompok tertentu.

Dengan sekelumit persoalan yang berhubungan dengan isu SARA, tentunya rakyat Jakarta berharap agar Anies-Sandi bisa mengatasi persoalan-persoalan seperti ini. Alasanyan, Jakarta bukan hanya milik kelompok tertentu. Pelbagai suku, golongan dan latar belakang yang berbeda-beda hidup di Ibukota. Singkatnya, Jakarta mempunyai wajah pluralitas. Dan wajah pluraritas ini mesti dijaga oleh pasangan pemimpin baru, Anies-Sandi.

Hemat saya, pekerjaan Anies-Sandi bukan hanya berhenti pada bagaimana mereka merangkul semua golongan dan kelompok yang ada di ibukota. Hal yang paling utama adalah bagaimana aspirasi setiap kelompok dari latar belakang berbeda-beda bisa diakomodasi tanpa menimbulkan konflik dan perpecahan. Tentunya hal ini tidak segampang membalikkan telapak tangan. Setiap aspirasi rakyat berbeda-beda dan kerap berseberangan satu sama lain.

Di lain pihak, kita tidak mau kalau ibukota berpihak pada kelompok tertentu dan mengesampingkan kelompok lain. Ingat, Jakarta adalah miniatur Indonesia. Dan kalau diskriminasi yang berbau SARA terjadi di Jakarta, maka kewibawaan Jakarta sebagai ibukota negara ikut tercoreng.

Pemimpin baru mesti menjaga Jakarta yang berwajah pluralitas. Setiap orang dan kelompok dari latar belakang yang berbeda-beda mesti mendapat tempat yang sama. Siapa saja yang berkompeten untuk membangun ibukota mesti dirangkul. Dan keputusan politik pemimpin tidak boleh mementingkan kelompok tertentu dan mengabaikan kelompok lain.

Isu SARA akan menjadi salah satu catatan penting bagi pemerintahan Anies-Sandi. Sekarang mereka berada pada situasi sukacita atas keterpilihan mereka. Tetapi eforia dan sukacita kemenangan bisa saja berubah saat aneka persoalan ibukota termaksud isu SARA sudah ada di atas meja kerja mereka.

Di sini, rakyat tidak hanya membutuhkan retorika dan pemanis bibir tentang bagaimana hidup bersama sebagai sebuah masyarakat pluralitas, tetapi rakyat butuh langkah-langkah konkret dalam mengatasi isu-isu yang menghancurkan wajah pluralitas ibukota.

Tentunya, DKI Jakarta tidak mau mengulangi lagi catatan kelam yang menempatkan isu SARA sebagai kendaraan untuk menjegal kaum minoritas. Dan, tugas ini akan ada di tangan Anies-Sandi. Mereka berjanji untuk merangkul semua golongan. Tetapi lebih dari itu, mereka juga mesti memperlakukan semua orang secara sama dan menindak tegas kelompok-kelompok yang menciderai wajah pluralitas DKI Jakarta.***