Penggunaan Anggaran Pendidikan di Indonesia

18 Mei 2017 14:12:11 Diperbarui: 19 Mei 2017 06:18:10 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :

          Indonesia merupakan negeri yang kaya akan sumber daya alam, kaya akan sumber daya manusia. Akan tetapi,kekayaan itu tidak digunakan dengan sepenuhnya oleh masyarakat di Indonesia, sebagian merupakan hak milik negara. Jika Indonesia dibandingkan dengan negara lain, Indonesia dianggap negara yang miskin. Contohnya adalah miskinnya pendidikan. Singapore merupakan negara yang lebih kecil dibanding Indonesia, tidak memiliki sumber daya alam yang melimpah seperti Indonesia, akan tetapi Singapore lebih maju dalam hal pendidikan dibanding Indonesia. 

Lalu bagaimana dengan pendidikan di Indonesia? Masyarakat Indonesia sendiri menyadari bahwa Pendidikan tidaklah berjalan dengan baik, masih banyak masyarakat yang belum mendapatkan pendidikan,banyak masyarakat yang tidak ingin menempuh pendidikan entah karena biaya ataupun lainnya. Jika membicarakan biaya pendidikan tentu berhubungan dengan anggaran pendidikan di Indonesia.

          Menurut UU Sisdiknas No.20/2003, anggaran pendidikan adalah ‘’Dana pendidikan selain gaji pendidikan dan biaya pendidikan kedinasan dialokasikan minimal 20% dari APBN pada sektor pendidikan dan minimal 20% dari APBD.’’. Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20% dari APBN serta APBD guna memenuhi kebutuhan penyelenggaraan nasional. Sedangkan jika anggaran pendidikan dilihat dari UU Sisdiknas,dana pendidikan dan biaya kedinasan,anggaran pendidikan masih belum mencapai 20% APBN.

          Berdasarkan penjabaran diatas, dapat dilihat contoh nyatanya yaitu masih banyak masyarakat yang belum mendapatkan pendidikan. Pendidikan yang diselenggarakan di Indonesia memandang adanya perbedaan kelas dalam hal biaya pendidikan. Lembaga pendidikan dibeda-bedakan sesuai dengan kualitas yang berpengaruh kepada biaya pendidikan. Pendidikan yang berkualitas disini berarti yang mahal biaya pendidikannya. Hal ini  menyebabkan masyarakat yang kurang mampu tidak dapat mengenyam pendidikan yang berkualitas sehingga mereka hanya bisa mengenyam di lembaga pendidikan biasa. Padahal seharusnya seluruh masyarakat Indonesia dapat merasakan pendidikan yang berkualitas tanpa membeda-bedakan.

          Masalah pendidikan di Indonesia bukan hanya pada tingginya biaya pendidikan untuk mendapat kualitas pendidikan yang baik, tapi juga berhubungan dengan kurangnya sumber daya manusia sebagai pengajar, juga masih banyak pengajar yang memiliki mutu dan kualitas yang belum memadai. 

Sebenarnya banyak yang menjadi penyebab masalah ini terjadi tapi penyebab utamanya adalah kurangnya kesejahteraan yang diberikan kepada para pengajar. Masih banyak pengajar honorer non pns yang memiliki gaji dibawah Rp. 500.000. Tak dapat dipungkiri. Saat ini kebutuhan hidup sehari-hari saangatlah tinggi oleh karena itu banyak pengajar yang memilih meninggallan profesinya karena berpikir realistis untuk memilih profesi lain yang dapat menunjang hidupnya.

          Guru merupakan kunci utama keberhasilan ajar mengajar dalam kelas, jadi apabila kualitas guru kurang baik akan menyebabkan gagalnya proses belajar siswa. Masalah ini dapat diatasi apabila pemerintah lebih baik dalam mengatur anggaran pendidikan, dimulai dari pelatihan peningkatan mutu mengajar, perbaikan kualitas dan kuantitas sekolah, menaikan gaji dan tunjangan guru. Dengan hal ini dapat dipastikan kualitas pendidikan Indonesia dapat lebih maju. Dalam hal lain adalah adanya anggaran pendidikan yang disalahgunakan yang biasanya dilakukan oleh pihak sekolah,baik guru maupun kepala sekolah itu sendiri. Salah satu contohnya adalah dibeberapa sekolah terdapat sejumlah guru yang memakan gaji buta, yaitu tidak melakukan tugasnya sebagai guru melainkan dia hanya berada dibelakang sekolah saja berbincang dengan guru lainnya.

Jadi kesimpulannya adalah anggaran pendidikan di Indonesia belum digunakan dengan baik belum digunakan dengan semestinya. Saya sangat berharap pemerintah di masa depan akan menggunakan anggaran pendidikan lebih bijaksana lagi. Hanya itu yang dapat saya tulis di dalam essai ini, kekurangan dan kesalahan penggunaan kata harap dimaklumi. Terima kasih.

(Delsy A – Kelompok 3 PKMFBS)

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana