Aksi Jalan Kaki Ciamis : Aksi Bodoh atau Aksi Super Cerdas?

01 Desember 2016 01:53:11 Diperbarui: 01 Desember 2016 01:59:02 Dibaca : Komentar : Nilai :

Banyak perdebatan yang terjadi terkait aksi ribuan santri Ciamis, yang ternyata telah sampai dikabarkan di beberapa negara lain seperti Turki, Arab Saudi dan Malaysia. Tentunya pemberitaan nasional walaupun tidak komperhensif.

Penulis akan mencoba memaparkan beberapa perdebatan tersebut :

* Persepsi aksi bodoh : Sekarang sudah ada transportasi berbagai macam untuk sampai ke Jakarta, bahkan tawaran dari berbagai bus ditolak peserta aksi 300 km Ciamis-Jakarta..

# Persepsi aksi super cerdas : Mereka tetap bertekad melanjutkan aksi, untuk memberikan pembuktian bahwa umat Islam selalu mengagungkan dan memuliakan Al-Quran. Yang pada akhirnya aksi tersebut akan menjadi sejarah emas yang ditulis ulang kembali, bahwasanya dulu para santri-santri muslim pejuang pun berjalan ratusan kilometer dalam mempertahankan ibu pertiwi dari penjajah.

* Persepsi aksi bodoh : banyak anak-anak atau remaja yang diikutsertakan, sebuah kesalahan fatal melibatkan mereka yang tidak mengerti tujuan aksi tersebut secara utuh.

# Persepsi aksi super cerdas : untuk santri remaja tidak sampai ke Jakarta, melainkan hanya sampai kemampuan mereka (misalkan perbatasan Tasik dan Garut). kemudian diantar pulang kembali ke Ciamis. Tapi aksi mereka memberikan efek dahsyat ke pada para pemuda Garut untuk ikut bergabung sekitar 3.000 dan bergelombang terus.. bahkan Peserta aksi dari Bogor sekitar 15rb-20rb memutuskan turut serta jalan kaki, disambut jamaah aksi dari Bekasi berbarengan ke Jakarta..

* Persepsi aksi bodoh : mereka terhasut dengan mengkaitkan isu permasalahan agama hingga begitu semangat, padahal urusan sebenarnya ialah tentang proses politik di DKI Jakarta.

# Persepsi super cerdas : Peserta aksi dari Ciamis sama sekali tidak berurusan dengan politik, karena mereka telah menyaksikan secara sendiri video yang beredar. Bahkan bukan yang dipotong. Tapi video yang berdurasi penuh. Lalu umat Islam menyerahkan keputusan pada alim-ulama di MUI. Dan ketika sikap dan pendapat MUI keluar, umat Islam yang mendukung GNPF  serentak merapatkan shaf menuntut keadilan.

Persepsi aksi bodoh : islam tidak perlu dibela dengan aksi-aksi kekuatan massa sampai harus show jalan kaki, sebab Islam akan selalu mulia tanpa harus berlebihan menyikapi kasus penistaan agama.

Persepsi aksi cerdas : nabi Muhammad SAW tatkala dirinya dihina,beliau bersabar. Namun disaat Quran ada yang mengolok-olok dsbnya..  Silahkan telusuri bagaimana reaksi nabi dan para sahabat menyikapinya. Dan yakinlah bahwasanya Quran akan menjadi saksi dan membela umat islam disaat hari akhir

Persepsi aksi bodoh : mereka diperkirakan ialah peserta bayaran 500rb.

Persepsi aksi cerdas : Para santri Ciamis, Garut, dan Tasik ingin membuka seluruh mata rakyat Indonesia, bahwasanya tiada sepeser pun uang yang diterima.. semata-mata keikhlasan hati ingin menuntut keadilan yang di atur oleh perundang-undangan yang berlaku di republic Indonesia. Logika :  mau kah anda dibayar 500rb untuk jalan kaki 300 km Ciamis-Jakarta?

Penulis membuat artikel ini ditujukan kepada umat islam yang masih mencari atas polemik di pikirannya yang masih berkutat tanpa jelas, karena belum menemukan jawaban atas apa yg terjadi!

Lihatlah deraian air mata masyarakat yang menyambut peserta aksi jalan kaki, yang mana sepanjang jalan banyak yang menyediakan makan dan minum. Bahkan mobil-mobil yang bertugas menerima sudah tidak muat menampungnya.

HANYA KECERDASAN HATI YANG BISA MENJAWAB, BUKAN SEKEDAR PERKIRAAN DAN BAYANGAN AKAL SEMATA

Kabar terbaru : Para peserta aksi dari daerah Padang yang jumlahnya ribuan, berangkat pulang dan pergi menggunakan pesawat terbang untuk ke Jakarta.. ( ingin membuktikan bahwasanya 500rb tiadalah arti )

Inshaa ALLAH Aksi 212 akan berjalan dengan super damai! 

Dan bukanlah sebuah kebetulan bila 411 dijumlahkan jadi 6 yang memberi symbol rukun iman, sedangkan 212 berjumlah 5 memberikan simbol rukun Islam.

Wassalam

 

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.
LABEL humaniora
Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana

Featured Article