PILIHAN HEADLINE

TV One Sedang Beralih Menuju TV Hiburan?

17 April 2017 10:16:40 Diperbarui: 18 April 2017 11:43:26 Dibaca : 579 Komentar : 5 Nilai : 5 Durasi Baca :
TV One Sedang Beralih Menuju TV Hiburan?
Sumber gambar : TVOneNews on Twitter

Baru sekitar dua hari ini saya memperhatikan ada yang berbeda dengan materi tayangan TV One. Televisi yang sejak awal berdiri sanget lekat dengan tayangan-tayangan berita ini, tiba-tiba saja mulai menayangkan serial Turki. Perubahan yang terkesan tiba-tiba ini menjadi tanda tanya di benak banyak pemirsanya. Kehadiran tayangan TV One yang dalam suasana politik meriah kadang panas semenjak pilpres 2014 seolah selalu disandingkan dan dibandingkan dengan televisi berita lain, seperti MetroTV dan Kompas TV. Bahkan, tak jarang penikmat tayangan politik menyatakan TV One dan MetroTV seakan berada pada dua kubu berseberangan saat menawarkan sudut pandang pemberitaan. 

TV One dengan jargon Memang Beda sering dijadikan sasaran bully di media sosial. Yang paling diingat sebagian besar penduduk Indonesia adalah perbedaan hasil polling cepat pilpres lalu dengan TV-TV lainnya. Dengan maksud candaan sehari-hari kita tak asing dengan ungkapan, coba lihat TV One, siapa tahu sekarang sudah lebaran? Haha. 

Meskipun demikian, TV One masih merupakan saluran TV berita yang cukup diandalkan saat liputan aktual, misal terkait terorisme, kasus-kasus yang menyita banyak perhatian, seperti Sidang Jessica, isu-isu politik. Diskusi Indonesian Lawyer Club menjadi acara favorit masyarakat yang ingin menyimak isu-isu terpanas dunia politik dalam negeri dengan menghadirkan narasumber dengan debat yang hangat. Kadang di sela-sela jam istirahat kantor, YouTube sebagian teman memutar ulang ILC untuk saling melempar komentar. Kami penonton awam ini merasa ikut peduli bangsa walau hanya di depan layar kaca. Kami mengangguk paham walau tak bisa menyumbang apa pada berdebat di sana. Setidaknya kami ikut tercerahkan dengan bahasa-bahasa tinggi para narasumber. 

Namun, kini TV One seperti sedang melakukan tes pasar. Mulai 15 April 2017 ia tak lagi mengandalkan berita sebagai program utama. Tak tanggung-tanggung, TV One menayangkan 5 serial Turki sepanjang hari dengan pembagian jadwal tayang dalam dua babak, yaitu pukul 7.00 - 12 siang, dan malam hari 21.30 - 23.30. Serial yang ditayangkan pagi hari adalah Sheharazat 1001, Orphan Flowers, Endless Love. Pada malam hari ada Winter Sun pukul 20.30 dan Tom Apart pukul 21.30. Sebagian besar serial ini pernah tayang sebelumnya di ANTV. Apakah mungkin TV One memutuskan berubah haluan dari TV berita ke TV hiburan layaknya ANTV dan MNC TV?

Mungkinkah televisi dengan tayangan berita memiliki pilihan sulit saat harus memilih independensi, integritas, dan idealisme dengan kepentingan ekonomi yang dikuasai pasar? Menyajikan hal serius tapi tetap memperoleh apresiasi pemirsa memang butuh kreativitas pengemasan yang menarik. Dari penilaian saya secara subyektif, Metro TV mampu menunjukkan konten berita dan informasi yang dalam kemasan yang tidak membosankan untuk terus diikuti, misalnya 360, Economic Chalenge MetroTV. Ajang adu film dokumenter Eagle Award. Di samping tayangan hiburan edukatif seperti Kick Andy, dan yang baru dengan sasaran anak muda yang kreatif, yaitu Big Circle. 

Zaman masih sekolah dasar, saya mengingat TPI (Televisi Pendidikan Indonesia) yang awal berdirinya hanya ingin menayangkan siaran edukasi. Setelah berubah nama menjadi MNC TV, berpindah haluan menjadi saluran hiburan. Akankah TV One juga akan demikian?

Di balik tulisan ini pun saya adalah bagian dari penggemar pria-pria maskulin Turki yang masih memandang heran logo TV One di pojok atas layar TV. Sementara ayah saya sejak kemarin Minggu tak lagi menyaksikan tinju kegemarannya, dan tidur lebih awal pada malam hari karena TV kini dikuasai para wanita di rumah. 


dian equanti

/dianequa

TERVERIFIKASI

mengajar bidang ilmu geografi
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.
LABEL hiburan tvone

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana