HEADLINE

Pemulung Bisa, Warga?

15 Februari 2012 20:25:43 Dibaca :
Pemulung Bisa, Warga?
suasana pelatihan di RW 03, Kelurahan Bambu Apus, Jakarta Timur (Dok. Pribadi)

Pernah melihat lautan sampah di Jakarta? Ya, seperti itulah umpatan yang sering terdengar ketika orang-orang melihat sungai-sungai yang ada di Jakarta. Itu baru sungai, ada lagi pemukiman padat penduduk yang banyak dihiasi oleh sampah-sampah rumah tangga. Bisa jadi ancaman penyakit, bau tidak sedap, serta kualitas air yang tidak sehat bisa mengintai kita setiap saat. Pemandangan yang berbeda terlihat ketika sejenak mengunjungi RW 03, Kelurahan Bambu Apus, Jakarta timur. Pohon-pohon tumbuh rimbun nan hijau. Tong sampah organik dan non organik tertata rapi didepan rumah. Sampah-sampah bekas makanan dan lainnya hampir tak nampak sedikit pun disepanjang jalan yang meliputi RW tersebut. Namun bukan tanpa masalah, masyarakat RW 03 memiliki pengetahuan yang minim tentang pengelolahan sampah. Hj, Endang, warga RW 03 mengkui kebenaran hal tersebut. “Secara pengalaman kami sama sekali belum pernah mengelolah sampah. Hampir di setiap hajatan atau acara besar yang ada di RW kami, selalu menjadi incaran para pemulung-pemulung ketika sampah botol plastik bertebaran usai acara, kami ingin secara mandiri tahu mengelolah sampah, tapi apalah daya, pengetahuan membuat kami tidak dapat berbuat banyak.” Wanita yang menjadi panutan dikalangan RW 03 ini, banyak bercerita tentang pemulung di RW 03. Bahkan ia mengatakan banyak dari pemulung enjoy dengan pekerjaannya, bisa beli motor pula. Bisa jadi realita tersebut dapat mengubah pola pandang mereka bahwa sampah tak selamanya menjadi sesuatu yang tidak memiliki nilai guna. Merasa masalah sampah itu penting, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jakarta dan Green Student Movement menggagas pelatihan aksi konservasi air dan pengelolahan sampah di RW 03, Kelurahan Bambu Apus, Jaktim. Pada hari selasa (15/02/2012), bertempat di kediaman ketua RT, sekitar puluhan warga berkumpul untuk mengikuti pelatihan. Tampak bapak-bapak, ibu-ibu membawa serta anak-anaknya menghadiri pelatihan yang dirasa penting bagi mereka. Bagong Suyoto, Dewan Daerah WALHI Jakarta, merasa senang melihat antusias warga RW 03. “semangat para ibu-ibu beserta bapak-bapak RW 03 membuat saya ingin mewujudkan mimpi mereka. Mereka bermimpi bisa mengelolah sampah yang mereka hasilkan sendiri menjadi sesuatu yang berguna.” “kami memang bukan malaikat, tapi paling tidak kami sedikit membantu impian mereka agar menjadi nyata. Oleh karena itu kami berada disini” tambah pria yang berkediaman di Bantar Gebang. Satu kunci dalam setiap memulai hal yang baru adalah niat yang kuat. “niat menjadi modal utama bila ingin membuat perubahan. Materi yang saya berikan belum tentu membuat warga paham benar, maka dari itu kami melengkapinya dengan praktek langsung. Kami juga memberikan beberapa tong komposter untuk tahap awal. Setelah itu kami mengusahakan agar warga RW 03 dapat memiliki mesin pencacah agar lebih optimal” jelasnya mengakhiri pembicaraan. Learn to be an Optimist Total keseluruhan sampah warga Jakarta mencapai kurang lebih 6.000 ton/hari. Mendengar jumlahnya saja, tentu membuat mayoritas masyarakat pesimis dapat menguranginya. Banyak anggapan bahwa upaya yang dilakukan akan sia-sia. Ngimpi, mungkin itu yang terlontar. Jika kita mengingat kembali apa yang pernah dilontarkan oleh Phytagoras, seorang filsuf Yunani “engkau tidak akan pernah tahu apa yang akan diberikan hari esok.” Jadi jangan pesimis dahulu sebelum melakukan sesuatu, sebab kita tidak dapat menerka-nerka apa yang akan terjadi selanjutnya. “kalau kita udah niat do something and act something. Apapun itu secara pasti bakal selalu optimis. Apalagi ini problema sampah. Dibeberapa tempat seperti Sukunan dan lain-lainnya berhasil mengelolah sampahnya sendiri. Bisa dibayangkan jika semua RT atau RW di Jakarta bisa seperti itu. Maka bisa dipastikan TPA-TPA yang ada tidak menggunung seperti sekarang ini” imbuh Harry Kurniawan, Divisi Acara Green Student Movement. @dethazyo

13293363231863060539
(Dok. Pribadi)
13293365161598566709
(Dok. Pribadi)
1329336618196220018
(Dok. Pribadi)
1329336791510041938
(Dok. Pribadi)
13293369172045686536
(Dok. Pribadi)
13293370041494796671
(Dok. Pribadi)
1329337072656188909
(Dok. Pribadi)
1329337158917537889
(Dok. Pribadi)
1329337248325654162
(Dok. Pribadi)
1329337338335756962
(Dok. Pribadi)

Detha Arya Tifada

/dethazyo

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Environmental youth activist, journalist science in Social and political science institute jakarta.. see more about me in... http://tifada.com
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?