Deni Ainur Rokhim
Deni Ainur Rokhim pelajar/mahasiswa

Dikala pena lebih tajam, alangkah baiknya pena tersebut menjadi alat dakwah dan informasi yang berkarimah

Selanjutnya

Tutup

pilihan headline

Menelisik Potensi Ekonomi Ikan "Resek" di Kelurahan Kalanganyar Sidoarjo

12 April 2017   06:22 Diperbarui: 16 April 2017   20:51 217 5 2
Menelisik Potensi Ekonomi Ikan "Resek" di Kelurahan Kalanganyar Sidoarjo
Nelayan menjual ikan teri hasil tangkapan di Tempat Pelelangan Ikan Tambaklorok, Kota Semarang, Jawa Tengah. (Kompas Print)

Luas lautan Indonesia mencakup dua per tiga dari keseluruhan luas negara Indonesia. Hal tersebut menjadikan mata pencaharian sebagai nelayan tradisional jadi pilihan hidup sebagian besar penduduk Indonesia. Selama ini dalam melakukan kegiatan penangkapan hasil laut baik udang maupun ikan, nelayan tradisional selalu mendapatkan hasil tangkapan utama maupun sampingan. Hasil tangkapan utama dapat berupa udang, ikan tengiri, kakap, tuna, dan hasil laut lainnya yang mempunyai nilai ekonomis yang tinggi. Sedangkan hasil tangkap sampingannya biasanya berupa ikan-ikan ekonomis rendah seperti gulamah, tigawaja, gerot-gerot, nomei, mimi dan sejenisnya yang jumlahnya relatif banyak apalagi jika sedang musimnya. 

Sebagai contoh di Laut Arafura potensi hasil tangkap sampingan pukat udang diperkirakan mencapai 332.186 ton ikan resek/tahun, terdiri dari berbagai jenis ikan seperti gulamah, mimi, tigawaja, gerot-gerot dan nomei. Namun demikian, pemanfaatan ikan-ikan tersebut masih sangat rendah dan bahkan sebagian besar dibuang kembali ke laut. Fakta ini sangat memprihatinkan, karena di sisi lain kondisi masyarakat di beberapa daerah masih hidup dengan keterbatasan gizi dan bahkan dijumpai kasus busung lapar yang telah menjadi pemberitaan hangat di media ini.

Pada saat ini, umumnya mereka (nelayan tradisional) lebih terfokus untuk menjual hasil tangkapan utama, seperti udang, ikan kakap, tengiri, rajungan, dan tangkapan utama lainnya kepada pengepul maupun agen, sedangkan hasil tangkapan samping (resek) yang jumlahnya sangat banyak tersebut kurang dimanfaatkan, bahkan dibiarkan begitu saja.

Hal yang saya ungkapkan di atas terjadi di Kelurahan Kalanganyar Sidoarjo. Kelompok-kelompok nelayan di daerah tersebut selalu mendapatkan ikan-ikan resek dalam jumlah yang cukup banyak saat melaut apalagi jika musimnya. Sampai saat ini ikan-ikan resek tersebut hanya dimanfaatkan dengan cara dikeringkan untuk dibuat ikan asin, untuk pembuatan terasi dan diasapkan untuk dibuat ikan asapSedangkan apabila dijual, harganya tidak akan lebih dari 2000 rupiah per kilonya. 

Padahal, sumber daya ikan resek di daerah tersebut sangat melimpah. Pada kondisi cuaca biasa, setiap harinya perahu yang melaut minimal mendapatkan 4-6 kg ikan resek. Dan jika sedang musimnya, yaitu sekitar bulan November sampai dengan Februari, sumber daya ikan resek ini sangat melimpah (sekitar 15 kg setiap perahu) bahkan sampai terbuang. Menurut nelayan-nelayan di daerah tersebut citarasa daging ikan resek tidak kalah dengan ikan-ikan ekonomis lainnya, contohnya ikan ekonomis adalah ikan tengiri.

Sebenarnya ikan-ikan resek tersebut mempunyai potensi yang besar untuk dikembangkan menjadi produk lanjutan seperti sosis ikan, bakso ikan, empek-empek, tempura, maupun produk berbahan utama/pendukung ikan, terutama ikan-ikan ekonomis rendah. Jika hal tersebut dapat dilakukan dapat dipastikan nilai ekonomisnya akan jauh meningkat. Pada dasarnya, kualitas nilai gizi yang terkandung di dalam ikan-ikan resek tersebut sama layaknya ikan-ikan konsumsi umumnya seperti tengiri, hanya diperlukan cara yang berbeda untuk mengelolanya sehingga citarasa yang dihasilkan dapat diterima konsumen.

Sebenarnya, terdapat alat atau mesin yang dapat menggiling ikan-ikan resek tersebut menjadi daging gilingan yang siap untuk diolah lebih lanjut, tetapi sayangnya harganya sangat mahal (6-14 juta rupiah) sehingga tidak dapat dijangkau oleh para nelayan tradisional. Selain membutuhkan pembakaran bensin atau sumber listrik untuk mengoperasikannya, alat/mesin tersebut juga tidak mudah dipindahkan karena ukuran dan beratnya yang besar.

Oleh karena itu, kelompok-kelompok nelayan di daerah tersebut perlu dibantu supaya mereka dapat meningkatkan nilai ekonomis ikan-ikan resek tersebut. Program ini menawarkan 3 bantuan sekaligus. Pertama, berupa alat penggiling ikan-ikan resek yang mobile dan mudah dioperasikan sehingga siap dijadikan bahan campuran produk makanan seperti tempura, bakso ikan, sosis ikan, maupun makanan laut lainnya. Kedua, pembekalan/training tentang pentingnya pemasaran suatu produk (The Importance Of Marketing) kepada para nelayan tradisional. Ketiga, saya juga akan mencarikan pembeli/pabrik/pengolahan ikan/home industri makanan laut yang bersedia membeli daging ikan resek yang telah dihaluskan dan siap pakai tersebut dengan tujuan agar para nelayan tradisional di Kalanganyar Sidoarjo nantinya dapat memasarkannya secara mandiri.

Jika diamati lagi, Kalanganyar Sidoarjo mempunyai potensi yang besar sebagai penyuplai hasil perikanan dengan data total hasil perikanan tahun 2014 mencapai 36,03 ribu ton atau naik 1,13% dibanding tahun sebelumnya. Di tahun 2015, hasil perikanan di Kalanganyar meningkat meski terjadi anomali cuaca. Total hasil perikanan meningkat menjadi 39,83 ribu ton. Akan tetapi, hasil perikanan tersebut digunakan untuk menyuplai industri makanan dengan bahan dasar ikan, terutama untuk kalangan ekonomi menengah ke bawah. Hal ini didukung dengan adanya data yang menyebutkan bahwa sebesar 38,81% adalah industri pengolahan dan sebesar 42,36% adalah perdagangan, hotel dan restoran.

Dengan usaha tersebut, diharapkan nilai ekonomis dari ikan-ikan resek dapat ditingkatkan. Begitu pula dengan penghasilan kelompok-kelompok nelayan di Kalanganyar Sidoarjo.