HIGHLIGHT

Ganyang Virus-virus Bahasa!

19 September 2012 19:28:30 Dibaca :

Awalnya saya kira akun facebook saya terkena virus, karena tiba-tiba saya melihat beberapa status ditulis dengan huruf ajaib yang hampir tidak bisa dibaca. Beberapa varian virus komputer memang bisa mengubah huruf menjadi kotak-kotak atau bentuk abstrak karena file-nya corrupt atau rusak. Oh, ternyata ini bukan ulah virus komputer tapi virus bahasa yang dilakukan oleh oknum anak remaja masa kini yang biasa disebut 'alay' alias anak lebay.


Baiklah, pikir saya, sekali-dua kali membaca tulisan-tulisan alay ini saya masih bisa memaklumi. Terkadang lucu juga membaca tulisan seperti itu, seperti bermain teka-teki. Tapi ternyata lama-kelamaan virus bahasa ini semakin meluas, seperti penyakit yang menyebar dengan cepat. Ya, virus bahasa ini semakin lama semakin tidak lucu lagi, dan cenderung menganggu seperti penyakit. Akibatnya banyak dari pemilik akun facebook yang harus saya unfriend dari daftar pertemanan.


Bukan sekedar tulisan-tulisan ajaib yang hampir tidak bisa terbaca itu yang menganggu saya, tapi juga pesan dari tulisan itu yang, maaf, tidak penting. Dari sejak membuka mata hingga menutup mata dalam satu hari itu, anak-anak alay bisa melaporkan berbagai aktivitas mereka dan juga perasaan sentimentil mereka di facebook. Seolah tidak ada hal penting lainnya yang bisa dipikirkan.


Saya jadi penasaran, kira-kira dalam mata pelajaran bahasa Indonesia di sekolah, anak-anak lebay ini mendapat nilai berapa ya? Mungkin sebagian dari mereka mendapat nilai bagus, karena dalam pelajaran mereka bisa serius menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Tapi dalam pergaulan sehari-hari, karena tidak mau dibilang kamseupay-meminjam bahasa alay- atau kampungan, mereka akhirnya menjadi bagian dari virus alay ini.


Lantas saya menjadi prihatin, jika pelajaran bahasa Indonesia di sekolah tidak diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, lantas apa gunanya. Apakah bahasa Indonesia hanya sebatas digunakan sebagai formalitas syarat kenaikan kelas atau kelulusan sekolah? Atau mungkin hanya sekedar alat bersosialisasi dan mencari teman? Hanya sejauh ini kah kita menghargai bahasa bangsa kita?



Kecanggihan teknologi komunikasi dan percakapan remeh temeh


Bicara tentang anak-anak alay memang tidak akan ada habisnya. Tapi pencipta dan penyebar virus bahasa sebenarnya tidak hanya didominasi oleh kalangan remaja. Orang-orang dewasa pun melakukan pengrusakan terhadap keindahan bahasa. Mungkin bukan dalam bentuk tulisan yang ajaib, namun dalam isi atau pesan dari kalimat-kalimat yang mereka ucapkan atau tuliskan.


Coba kita tengok percakapan-percakapan yang terjadi di dunia maya dalam segala platform-nya mulai dari jejaring sosial seperti Facebook, Twitter, Yahoo Messenger, juga aplikasi smartphone seperti BBM, WhatsApp, dan sebagainya. Jujur, berapa banyak percakapan tentang pekerjaan atau membicarakan suatu proyek yang kita temukan di sana? Alih-alih kita akan lebih banyak menemukan obrolan tentang gossip, curhat soal percintaan, makanan, jalan-jalan, film, musik, dan sebagainya.


Ironis ketika kecanggihan teknologi komunikasi mencapai kemajuan yang sedemikian maju, ketika arus komunikasi dan informasi bisa diakses dengan keleluasaan tanpa batas, ternyata obrolan yang kita lakukan menggunakan berbagai platform komunikasi itu tidak pernah jauh dari tema-tema sepele dan remeh-temeh.


Bukankah seharusnya segala kecanggihan teknologi komunikasi tersebut membuat wawasan kita semakin terbuka lebar, inovasi dan ide-ide baru bisa lebih mudah tercipta, dan pada akhirnya bisa membawa peradaban manusia semakin melesat ke depan? Bagaimana itu semua bisa terwujud, jika menggunakan bahasa dengan baik dan benar saja kita tidak sanggup.


Tentunya kemajuan peradaban manusia berkaitan erat dengan bahasa. Bahasa adalah alat yang kita gunakan untuk berkomunikasi, media untuk menyampaikan gagasan dan perasaan, sehingga tercapai kesepakatan dan pemahaman bersama dalam interaksi kita dengan sesama.



Bahasa, mitos, dan propaganda


Mungkin banyak dari kita yang belum memahami pentingnya sebuah bahasa, sehingga tidak memberikan apresiasi yang semestinya dalam penggunaannya. Bahasa bagi mereka hanya sebatas alat bersosialisasi, menambah teman, dan menggosipkan kehidupan orang lain.


Padahal, dari bahasa-lah sistem kemasyarakatan tercipta. Cerita tentang dewa-dewa dengan kekuatan baik dan jahat diceritakan turun-menurun kemudian membentuk mitos dan kepercayaan. Kepercayaan ini yang kemudian mengatur perilaku manusia agar tidak membuat dewa marah dan memberikan hukuman, maka muncullah norma dan adat. Semua unsur-unsur budaya manusia yang terdiri dari ide, tindakan, dan produk itu awalnya tercipta dari interaksi sesama manusia dengan bahasa sebagai mediumnya.


Dalam konteks modern, mitos-mitos bukannya hilang tapi malahan semakin bertambah banyak. Mitos modern ini biasa disebut mitos budaya massa. Roland Barthes, seorang filsuf-kritikus sastra-dan semolog Prancis yang terkenal itu, mengatakan pada dasarnya mitos itu adalah proses membuat sebuah pandangan menjadi alamiah. Padahal pada hakikatnya mitos itu diciptakan manusia dengan tujuan tertentu, sebagai respon dari femonena alam dan kehidupan, atau sebagai alat propaganda demi kepentingan penguasa. Namun mitos-mitos modern dibalut sedemikian rupa sehingga seolah menjadi sesuatu yang wajar atau alamiah, dan orang bisa menerima dan mengikuti sebuah gagasan atau pandangan dengan mudah dan sukarela.


Dunia modern ini penuh dengan mitos. Sering kali kita melakukan sesuatu yang tidak benar-benar kita pahami alasannya. Misalnya alasan kita membeli barang-barang yang sebenarnya tidak kita perlukan, alasan memilih pemimpin daerah yang sebenarnya tidak benar-benar berpihak pada rakyat, hingga hal sepele seperti alasan memakai baju tertentu yang sebenarnya tidak cocok dengan kita, jangan-jangan semua itu kita lakukan karena kita berada di bawah mantra bernama mitos modern yang menelusup dengan halus di alam bawah sadar kita melalui berbagai propaganda iklan dan tayangan di media massa.



Bahasa adalah cermin intelijensia


Tutur kata seseorang mencerminkan karakter dan tingkat intelijensia mereka. Misalnya seseorang yang lebih suka mengucapkan sumpah serapah dibandingkan dialog yang sehat, tentunya bukan termasuk kategori kaum terdidik. Atau seseorang yang suka mengumbar perasaan yang galau, pada titik tertentu akan dianggap kekanak-kanakan karena tidak bisa mengelola emosional mereka.


Penggunaan bahasa yang baik dan benar akan membuat cara berpikir kita menjadi lebih tertata dan runtut, sehingga membuat kita akan dengan mudah mengungkapkan gagasan dan perasaan kita kepada orang lain, dan orang lain-pun akan dengan mudah memahaminya. Terkadang bagaimana cara kita mengatakan sesuatu itu lebih penting dari pada apa yang dikatakan.


Jadi jika kita bisa mengungkapkan gagasan dan perasaan kita dengan lebih apik dan runtut dan kronologis dan mudah dipahami orang lain, kenapa kita harus mengungkapkannya dengan bahasa yang tidak benar dan berpotensi menimbulkan kesalahpahaman?



Bentuk nasionalisme yang paling dasar dan sederhana


Jika kita ditanya apakah kita cinta bangsa ini, apakah kita rela mati demi bangsa ini? Hampir semua warga negara Indonesia akan menjawab dengan mantap bahwa mereka cinta dan bersedia maju perang membela bangsa. Jika bangsa Indonesia dihadapkan pada masalah konflik perbatasan dengan Malaysia, atau ketika Malaysia mengklaim beberapa produk budaya asli Indonesia, hampir semua dari kita akan dengan lantang berseru "Ganyang Malaysia!"


Namun jika ditanya apakah Anda telah menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar dalam kehidupan sehari-hari, mungkin hanya sebagian kecil dari kita yang memenuhi syarat tersebut. Padahal, menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar adalah wujud paling dasar dan paling sederhana dari kecintaan kita terhadap tanah air ini.


Sebenarnya apa yang membuat berbagai suku bangsa di Indonesia merasa terikat satu sama lain, apa yang membuat orang Jawa merasa bersahabat dengan orang Batak misalnya? Jika kita menjawab karena kita berpijak di bumi yang sama, toh pulau Jawa dan pulau Sumatera tempat orang Batak itu berasal merupakan dua pulau yang berbeda. Jika dilihat dari sisi budaya, makanan, atau karakter penduduk, ternyata orang Jawa dan Batak tidak memiliki kesamaan. Lantas apa yang membuat mereka merasa menjadi satu bagian dalam negara yang sama?


Kesadaran berbangsa dan bertanah air Indonesia yang paling dasar dan sederhana adalah karena ikatan bahasa. Ya, bahasa Indonesia-lah yang menyatukan kita dari Sabang sampai Merauke, yang membuat orang Betawi tidak akan merasa asing meski berada di Papua sekalipun, yang membuat orang Jawa, orang Sunda, orang Bugis, dan suku-suku yang lain bisa bahu-membahu bekerja sama dan hidup berdampingan. Tidakkah indah bahasa Indonesia itu?


Mungkin kini saatnya kita atas nama kemajuan bangsa, berani berseru, “Ganyang virus-virus bahasa!” dan kembalikan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai pada tempatnya.

De Lucara

/delucara

Hi my name is De. am ambiguous. am undefined. am lazy but hardworking. am grumpy but patient. am careless but careful. Maybe...am just not black or white, but gray.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?