HIGHLIGHT

Soal FPI? Saya Akan Tetap Melihat ke Atas

02 Juni 2012 18:08:00 Dibaca :
Soal FPI? Saya Akan Tetap Melihat ke Atas
rocketmaildotme.wordpress.com

Perkara bangsa yang terjadi, saya akan tetap memandang pemerintahnya!

Kenapa harus melihat ke atas, sebab tidak ada lagi yang bawah kecuali saya. Jadi percuma melihat ke bawah, hanya akan menemukan sesuatu yang kosong. Ya, mungkin tidak kosong, tapi terlalu dekat untuk dilihat, jadi tidak akan menjadi pemandangan yang indah. Seringkali sesuatu menjadi indah karena kita melihatnya secara keseluruhan.

Banyak hal yang bisa dilakukan untuk menyikapi sesuatu yang ada di sekitar kita, ketimbang melihat sesuatu yang berada di atas. Memang benar. Tapi sayangnya saya hanya mempunyai dua tangan, tidak cukup untuk merangkul semuanya. Jika pun bisa mengulur tangan pada lambaian-lambaian tangan yang putus asa dan tidak bertenaga, namun hal itu tidak akan efektif.

Benarkah? Tapi kalau tangan kita sama-sama merangkul dengan tangan-tangan lain yang mempunyai niat yang sama, pasti akan terangkul. Benar. sayangnya langkah kita akan menjadi sulit jika ingin bergerak cepat dengan saling berpegangan.

Kalau pun tangan-tangan harus saling membantu, bersatu, saya tidak berpikir untuk merangkul yang berada di samping kita, atau mengangkat tubuh yang sedang terjebak. Saya malah berpikir lebih baik kita menarik yang ada di atas. Atau mendorong yang berada di atas, biar turun ke bawah.

Di dorong? Bagaimana kalau di dorongnya terlalu bertenaga, sehingga yang di atas jatuh. Kalau yang di atas ditarik jatuh masih mending, tangan-tangan kita ini mungkin bisa menyangganya, tapi kalau didorongkan, kalau kebablasan mendorongnya terus jatuh, gak ketulungan pasti, yang ada nanti malah yang di atas merasa kesakitan.

Itu kan resiko yang harus ditempuh. Lagi pula hal itu tidak akan terjadi kalau yang di atas mau ditarik, apalagi cukup dilambaikan tangan saja yang di atas dengan suka rela turun ke bawah.

***

Setiap orang mempunyai pemikiran yang berbeda. Maka berbeda pula dalam menyikapi permasalahan, dari cara memandang sampai memberikan solusinya. Penyelsaiannya ada yang praktis, ada yang lama prosesnya, atau mungkin ada juga yang aneh. Apalagi soal sudut pandang, sudah tidak heran lagi kalau ada pandangan yang aneh.

Jika harus disebut cukup, maka sudah cukup untuk terus disalahkan. Bolak-balik cuma cari kesalahannya saja, yang tadinya seperti sikap heroik malah jadi terkesan seperti kurang kerjaan. Menyangkut soal ormas yang saat ini lagi disudutkan karena anarkisme dan keagresifannya, sudah jangan ditekan lebih dalam lagi. Mereka sudah terpojok, tidak bisa kemana-mana lagi. Semua opini nyaris memenjaranya dalam lingkaran, sehingga mereka tidak akan lepas kemana-mana.

Kenapa tidak boleh disudutkan lebih dalam lagi? Kalau terus digali masalahnya melebihi batasnya, bisa berimbas merugikan pada hal lainnya. Kalau ada hewan yang menggaruk-garuk tanah melebihi batasnya, bisa-bisa tanah sisa galiannya mengotori wilayah yang lainnya.

Kasus FPI kalau memang sudah jelas kesalahannya, tingal ditindak dengan bijaksana. Jangan diotak-atik terus tanpa tindakan, yang akhirnya sedikit demi sedikit mencoreng nama Islam secara keseluruhan. Kesan Islam di masyarakat akhirnya banyak yang mencapnya negatif. Lebih jauh dari itu akhirnya menyeret umat Islam dalam perdebatan yang pro dan kontra terhadap kasus tersebut. Sehingga tumbuh permasalahan internal di dalam Islam. yang kalau di lihat dari luar Islam, Islam agama yang umatnya selalu bermasalah. Masih mending kalau umatnya yang dianggap bermasalah, nah, kalau sudah Islamnya yang dianggap bermasalah? Ini sudah sangat parah. Bisa-bisa hal ini memecah bela umat Islam dan menciptakan jurang-jurang dalam antara umat Islam yang sulit disebrangi apalagi disatukan.

Karena itu, saya harap pemerintah jangan menunggu lama lagi permasalan ini. Putuskanlah apa yang terbaik dan bijaksana. Jika pemerintah hanya berdiam diri saja, apalagi sengaja membiarkan permasalahan ini berlarut-larut. Saya tidak takut mengatakan bahwa pemerintah lah yang tidak mengamalkan Pancasila. Pemerintahlah yang membiarkan rakyat terus bergejolak dalam konfilik yang berkepanjangan, pemerintahlah yang menjadikan rakyat merasa tidak terntram, pemerintahlan yang mendorong masyarakatnya bertengkar alias diadu domba. Pemerintahlah yang memancing masyarakatnya sehingga ada yang bersikap anarkis.

Sekali lagi, pemerintah sudah sangat sangat sangat sangat sangat sangat terlambat bertindak membereskan kasus bangsa. Kalau masih saja diam, apalagi pura-pura buta dan tuli. Maka, kalianlah yang menodai Pancasila dan UUD itu.

Dan inti dari tulisan saya bukanlah menyoal FPI. Tapi kerja pemerintah yang lelet, yang membiarkan persoalan-persoalan bangsa tidak diselesaikan secara optimal setiap periode kepemimpinan. Malah mentransfer kewajibannya sebagai PR untuk periode kepemimpin berikutnya. Ratakalah Pancasila dan UUD yang dijunjung tinggi itu. dari ujung kepala sampai telapak kaki yang kotor sekali pun. Jangan biarkan persoalan bangsa sekecil apapun terus berlarut apalagi sampai menjamur. Apalagi soal moral, meski bagaimana pun, bangsa mempunyai andil yang besar dalam menanamkan moral yang “luhur” untuk negeri ini.

Perhatikan dan tanggapi serius persoalan “kemerosotan moral ini”. Sebab dari moral yang bobroklah para korupsi tumbuh subur dan menjamur, aparat jadi tidak sigap dan siap, hakim-hakim jadi tidak bijak, masyarakat hidup terlalu bebas lepas kendali bak hewan, sex bebas, narkoba, miras, perjudian, pembunuhan, pemerkosaan, pencurian, penipuan, penindasan, dan karena merasa Indonesia sudah terlalu bobrok moralnya lah sekelompok Ormas masyarakat sampai ada yang bertindak karena rasa tidak tahannya melihat moral bangsa ini yang dianggapnya merosot.

Semua itu terjadi karena masalah moral, moral bangsa yang telah hancur, moral Pancasila. Masih kah menganggap Pancasila sebagai Garuda bangsa yang sedang mengembangkan sayapnya dengan gagah? Mana buktinya Pancasila ini gagah? Yang bisa merusak dan menjaga Pancasila ini dengan mudah cuma pemerintah.

Saya tidak tahu sepenuhnya pemerintah harus apa. Sebab pemerintah sendiri lebih tahu apa yang seharusnya dilakukan. Wajib dilakukan. Jangan tunggu Garuda di bunuh. Apalagi Garuda mati dengan sendirinya. Sebab nanti orang akan bertanyam, memangnya yang punya Garuda itu kerja apa?

Saya hanya ada di bawah, cuma bisa memandang ke atas.

Dasam Syamsudin

Dasam Syamsudin

/dasam

Berjuang untuk hidup, hidup untuk berjuang...
Twitter @Dasam03

Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?