Darwin Arya
Darwin Arya Penulis Travel, Kuliner & Leisure

Penulis Kuliner, Travel & Leisure || darwinarya@gmail.com || WA 087821143211

Selanjutnya

Tutup

Media featured highlight

Sebut Jurnalis Warga, Justru Ditertawakan

31 Desember 2015   17:17 Diperbarui: 9 Maret 2017   22:00 1049 17 13

Kejadian kurang menyenangkan saya alami sewaktu melakukan kegiatan jurnalistik, kemarin malam. Ibarat pepatah, "tak kenal maka tak sayang", bukannya dipermudah justru dipersulit. Meski begitu, saya selalu beranggapan bahwa ada hikmah dibalik tiap peristiwa.

Saya dan kekasih, bersama dua orang teman berencana pergi ke sebuah pusat perbelanjaan di Denpasar, Rabu (30/12) malam.

Selagi perjalanan itu, dipersimpangan jalan Raya Puputan, saya melihat adanya sekumpulan pecalang sedang mengerumuni tukang terompet pinggir jalan.

Insting jurnalistik saya langsung 'menyala'. Saya sangka para polisi adat itu sedang merazia atau melarang penjaja terompet berjualan. Maklum, hingga H-2, saya tidak menjumpai satu pun tukang terompet di sisi jalan.

Sepanjang jalan saya jadi kepikiran. Kalau Sat Pol PP yang merazia sudah biasa. Tapi kalau pecalang, rasanya belum pernah saya temui sebelumnya.

Saya kemudian 'bernegoisasi' dengan kekasih saya. Itu ada berita baru, sayang kalau dilewatkan begitu saja. Tentu saya membujuknya dengan untaian kata manis disertai bumbu gombal dan nada memelas.

Akhirnya saya diijinkan. Saya drop dia di pusat perbelanjaan. Toh ada dua teman lain yang bisa menjaga dan mengawalnya. Sementara saya melakukan peliputan.

Baru jalan beberapa meter, saya terjebak kemacetan di jalan Raya Diponegoro. Aduh! Saya lupa kalau sekarang lagi momen-nya orang belanja gila-gilaan akhir tahun.

Selap-selip sana sini diantara celah mobil, terbebas juga saya dari kepadatan arus. Namun sayang, sesampainya di lokasi kejadian, razianya sudah berpindah tempat entah kemana.

Ketimbang pulang tanpa hasil, saya mintai keterangan si pedagang terompet.

Adit, 26, menuturkan bahwa pecalang-pecalang itu sedang merazia petasan / mercon. Pria asal Lumajang, Jawa Timur, itu mengaku baru sekali ini berjualan terompet di Denpasar.

"Ada yang disita, tapi jumlahnya gak seberapa. Kalau teman-teman lain di daerah sana (sekitar Sandi Bajra Niti Mandala) banyak yang kena. Rugi sekitar sejutaan, Mas" ujarnya pasrah.

Saya lantas menanyakan kemana arah pecalang pergi, "Katanya balik ke Banjar, Mas" jawabnya singkat.

Saya kembali memacu kendaraan mengarah ke Banjar yang dimaksud. Tetapi nihil.

Dalam pencarian tak menentu arah itu, saya bertemu dua orang pecalang yang mengendarai motor. Saya buntuti, mungkin mereka sedang berburu pedagang lain. Dugaan saya meleset, mereka justru pulang ke rumah masing-masing.

Selagi berhenti itu, saya hampiri mereka. Keduanya bilang razia telah usai. Kalau mau bisa langsung ke Banjar (lokasi Banjar-nya berbeda dengan dugaan saya). Katanya, di sana masih berkumpul aparat desa beserta aparat kepolisian. Kalau mau liputan bisa langsung ke sana.

Saya pikir belum terlambat. Saya masih bisa ambil foto bukti-bukti mercon sitaan petugas, berikut informasi penting lainnya.

Saya kembali tancap gas menuju lokasi yang dimaksud.


Berbuah Interogasi Panjang Lebar Sekaligus Diceramahi

Sampai di sana, saya langkahkan kaki dengan santai masuk ke dalam ruang kantor khusus. Di dalamnya terdapat sekitar enam orang. Ada yang sedang membuat laporan di depan komputer PC, ada juga yang mengobrol santai. Sementara di sekitar gedung kantor, terdapat banyak pecalang bertubuh gempal dan berwajah sangar sedang duduk-duduk sembari membahas suatu hal.

Menyadari kehadiran saya, mendadak suasana hening. Semua orang menghentikan apa yang sedang mereka kerjakan. Puluhan pasang mata menyorot tajam ke arah saya.

"Permisi Pak, tadi ada razia mercon ya?" tanya saya ramah diikuti senyum yang mengembang.

"Iya" jawab salah satu diantara mereka singkat. Wajahnya diliputi penuh tanya.

"Iya Pak, saya Jurnalisme Warga Kompasiana, mau tanya-tanya soal kegiatan tadi, sekalian mau bikin peliputan," kata saya memperkenalkan diri sambil mengajak bersalaman.

"Bapak darimana? Dari Kompas?" tanya pria lain.

"Saya Darwin, jurnalis warga Kompasiana Pak, bukan Kompas. Kompasiiiaaanaa," ujar saya mengulang dengan tempo lebih lambat sekaligus panjang diiringi penekanan nada pada bagian 'iana'-nya.

"Coba tunjukkan ID-nya, saya mau lihat, kasih saya tanda pengenal"

"Lho Pak, saya jurnalis warga, mana ada kartu anggota?"

"Lho terus? Maksudnya bagaimana ini?"

"Jurnalis warga itu masyarakat biasa yang melakukan kegiatan jurnalistik"

Mendengar penjelasan saya, saya justru ditertawakan orang banyak.

"Trus apa nama media cetaknya?" kata orang yang sama.

"Ngga ada Pak, kita media online" kata saya polos.

Saya yang gemas nekat juga berbicara, "Bapak ada koneksi internet enggak di hp? Saya lagi ngga ada kuota. Coba Bapak baca sendiri di website-nya".

Lagi-lagi saya jadi bahan tertawaan orang.

"Begini lho Pak, saya kan tadi melihat pecalang sedang mengadakan penertiban mercon. Nah menurut saya itu kegiatan yang bagus dan saya kepengen nulis kegiatan tadi" kata saya memberi penjelasan sesederhana mungkin.

"Trus mas nya bilang jurnalis warga, warga daerah mana?"

Kedua alis saya langsung berkerut mendengar pertanyaan aneh itu. Dalam hati saya menjawab, ya warga Indonesia lah Pak, memangnya mana lagi.

"Coba mana tunjukkan identitas Kartu Penduduk Musiman (Kipem) nya" kata pria itu.

"Saya ngga punya Pak"

"Berarti Mas bukan warga sini. Duduk dulu Mas, sini sini, duduk dulu"

Wah ini, kayaknya bakal ribet ini, bakal lama, gumam saya dalam hati. Berburu berita lenyap sudah. Berganti interogasi panjang lebar  dari pejabat desa.

Setelah diceramahi sekitar 15 menit nonstop, akhirnya pria tadi mempersilahkan saya bicara ke kepala adat tentang hasil kegiatan.

"Jadi Pak, berapa banyak mercon yang berhasil disita?" tanya saya berusaha mengorek informasi.

"Nanti Mas, nanti aja dulu ini lagi diketik. Nanti saya kasih hasil print-print'annya. Semua udah lengkap ada di sana semua," kata kepala adat, enggan dimintai komentar.

Sejauh yang saya lihat, hanya ada beberapa mercon yang disita. Jumlahnya tak lebih dari belasan buah. Bentuknya seperti selongsong berbahan karton sepanjang kira-kira 60 cm. Setau saya, mercon itu yang biasa mengeluarkan tebakan beberapa kali ke udara.

"Ini mas, hasil kegiatannya" katanya sembari menyerahkan dua lebar kertas yang dicetak berwarna.

Didalamnya berisi istilah-istilah bahasa Bali yang saya tidak mengerti. Tertera juga lokasi diselenggarakan acara, personel yang diterjunkan dan lain sebagainya.

Saya amati berulang kali, membolak-baliknya.

"Pak ini kan press release? Saya enggak mungkin nulis ini. Saya mau berdasarkan fakta di lapangan. Kalau formatnya seperti ini, muatan beritanya sudah berkurang banyak," kata saya protes, "Tadi kata pecalang yang saya tanyakan, katanya besok (hari ini, 31/12) mau diadakan penyisiran lagi? Saya ikut pas acara itu saja".

"Iya memang besok ada razia lagi, tapi kita lebih fokus ke pengamanan malam tahun baru"

Dari penjelasannya, bisa saya pastikan tidak akan ada razia mercon lagi. Yang ada juga kegiatan lain.

Sampai sini suasana mulai cair. Bapak-bapak itu udah bisa diajak bercanda. Meski demikian, bukan berarti saya selesai diceramahi, oh tidak.

Bertubi-tubi nasehat & penjelasan sana sini terus saya terima. Mulai dari sejarah, budaya, semua lengkap dibahas. Saya manggut-manggut pasrah. Mau memotong pembicaraan pun sungkan, tak enak hati. Lha mau bagaimana lagi, sang pemateri sedang semangat-semangatnya ngobrol.

Sekitar 1 jam 15 menit kemudian, saya baru bisa 'lepas' dari sana. Hikmah yang saya peroleh dari peristiwa ceramah serta nasihat panjang itu adalah, saya jadi kenal dekat semua pejabat desa tersebut. Saya pun diberi kartu nama kepala lingkungan.

Sewaktu saya hendak berpamitan, satu kalimat yang bikin saya mlengos gemas. "Kadang ..(jeda beberapa detik).. Ada orang lain yang mau membantu kita, tapi kita justru memandangnya lain," katanya penuh sungguh-sungguh.

Dalam hati saya berseloroh, ya kasep Pak. Nasi udah jadi bubur.

Saya bergegas tancap gas menuju pusat perbelanjaan, menjemput kekasih saya. Tadinya saya janji ngga akan lama. Kenyataanya ini udah hampir dua jam.

Begitu bertemu denganya, saya pasang muka lemas. Saya jelaskan apa yang baru terjadi. Sekarang, giliran kekasih saya yang menceramahi saya panjang lebar. Malah jauh lebih pedas dan ganas.

(menghela napas panjang berulang kali)