Daniel H.T.
Daniel H.T. wiraswasta

Bukan siapa-siapa, yang hanya menyalurkan aspirasinya. Berasal dari Fakfak, Papua Barat. Twitter @danielht2009

Selanjutnya

Tutup

Kerusuhan Mei 1998, Saya Malah "Patroli" Keliling Kota

21 Mei 2012   17:34 Diperbarui: 25 Juni 2015   05:00 7070 0 0
Kerusuhan Mei 1998, Saya Malah "Patroli" Keliling Kota
13376214821588160552

[caption id="attachment_178284" align="aligncenter" width="480" caption="Kerusuhan Mei 1998 di Jakarta (Sumber: http://akumassa.org)"][/caption]

Salah satu hal paling konyol yang pernah saya rasakan adalah di masa-masa terjadinya kerusuhan Mei 1998, empat belas tahun yang lalu. Ketika semua orang memilih diam di dalam rumah, bahkan di Jakarta banyak sekali orang yang lari keluar negeri bersama semua anggota keluarganya, saya seorang diri malah “patroli” keliling kota! Meskipun memang bukan di kota Jakarta, tetapi tetap saja itu adalah sesuatu yang konyol.

Sebelum pecah kerusuhan besar yang membawa korban ribuan jiwa di Jakarta itu, situasi di Indonesia, terutama sekali di Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia dilanda situasi dan kondisi yang serba mencekam. Sementara itu krisis moneter dan ekonomi kian hari kian memburuk.

Di masa seperti itu, suatu ketika, sekitar awal Mei 1998, siang, saya seorang diri jalan-jalan di Tunjungan Plaza (TP), Surabaya. Ketika itu, baru ada Tunjungan Plaza 1 – 3. Tunjungan Plaza 4 belum ada.

Ketika berada di gerai Adidas di Lantai 3, TP 1, tiba-tiba terdengar suara gaduh. Semula kami semua yang berada di gerai Adidas itu bingung, tidak tahu apa yang sedang terjadi. Kami hanya melihat tiba-tiba semua orang berlari turun ke bawah, berdesak-desakan di eskalator. Kemudian terdengar ada yang bilang, ada bom! Serentak kami yang ada di gerai Adidas itu pun ikut-ikutan berlari mengikuti arus massa yang sedang panik itu. Menuju eskalator ke arah bawah untuk keluar secepatnya dari TP.

Meskipun ikut berlari dan berdesak-desakan untuk secepat mungkin mencapaipintu keluar TP, waktu itu saya tidak panik. Yang saya pikirkan hanya adalah secepat mungkin mencapai lantai paling bawah untuk mencapai pintu keluar. Saya bahkan sempat berteriak-teriak kepada semua orang supaya jangan panik. Teriakan saya itu juga diikuti beberapa orang. “Jangan panik, jangan panik! Nanti ada yang jatuh, nanti ada yang terinjak-injak ...” begitu kira-kira beberapa orang mengingatkan. Seingat saya waktu itu massa yang berdesak-desakan mencari pintu keluar itu rata-rata tidak terlalu panik. Semua dengan tertib menuju secepatnya pintu keluar.

Ketika kami sampai di lantai dasar dekat pintu keluar, ternyata suasana sudah mulai membaik. Hanya terjadi kerumunan banyak sekali orang di dekat pintu keluar sampai di lobby. Tidak kelihatan lagi orang yang berupaya lari keluar, menjauh dari TP. Pada saat itulah saya melihat entah dari mana munculnya beberapa orang laki-laki bertubuh kekar dan berambut cepak. Beberapa di antaranya dengan seragam hitam-hitam (?). Mereka semua lengkap dengan senjata di tangannya. Mereka semua berjaga-jaga dengan mata-mata tajam mengawasi, berbaur dengan kerumunan massa. Saya tidak tahu dari kesatuan mana tentara atau intel-intel itu.

Ternyata, yang diteriaki bom tadi itu, bukan bom. Tetapi hanya bunyi yang entah bunyi apa dari arah lift di lantai 4. Kemudian ada orang yang spontan berteriak, “Bom !” Sehingga membuat semua orang yang sedang berada di TP itu mendadak panik dan segera berupaya lari keluar TP itu.

Suasana Surabaya memang ketika itu tidak kondusif berbagai isu menyeramkan terdengar di mana-mana. Tidak heran sedikit saja ada pemicu, dan salah paham, sudah cukup membuat orang panik seperti itu.

Sekarang, lift di TP 1 yang saya maksudkan itu, yang kalau di lantai 4 berada di depan Resto Fajar itu sudah tidak ada lagi, sejak direnovasi beberapa tahun lalu. Resto Fajar juga sudah pindah lokasi, di antara TP 1 dan 3. Lokasi Resto Fajar sekarang adalah bioskop XXI.

Nah, kisah paling konyol saya di Mei 1998 itu adalah ketika saya dengan bodohnya malah seorang diri mengendarai mobil Taft keliling kota Surabaya. Padahal semua orang memilih cari aman dengan berdiam di rumah, atau ada yang juga sudah lari keluar negeri.

Maksud saya “patroli”itu adalah ingin tahu seperti apa kondisi kota Surabaya pada waktu itu. Saya lupa, apakah setelah meletus kerusuhan besar di Jakarta (13 – 15 Mei 1998), ataukah sebelumnya. Yang pasti waktu saya keliling kota Surabaya, mulai dari kawasan Mayjen Sungkono, Ahmad Yani, Raya Darmo, Urip Sumoharjo, Basuki Rachmat, sampai ke kawasan Kertajaya, semuanya terlihat mencekam sekali. Suasana kota sepi sekali, semua toko dan kantor tutup. Di hampir setiap perempatan jalan dan beberapa kantor bank, dan lain-lain terlihat dijaga banyak tentara bersenjata lengkap. Ada pula yang dilengkapi dengan panser-panser.

Kenapa saya bilang bodoh dan konyol? Karena saya tidak pikir panjang, bagaimana seandainya ketika “patroli” di kota Surabaya itu, mendadak meletus kerusuhan besar seperti di Jakarta, dan saya terjebak di tengah-tengahnya? Bukankah kemungkinan besar saya akan menjadi korban kerusuhan?

Namun, dari pengalaman itu, dan dari hasil pengamatan saya ketika itu, serta kemudian dalam beberapa peristiwa serupa dalam skala yang lebih kecil, seperti Peristiwa Semanggi, di Jakarta, boleh dikatakan Surabaya adalah satu-satunya kota besar, bahkan terbesar kedua setelah Jakarta, yang relatif paling aman. Ketika meletus kerusuhan besar yang berdarah-darah dan merengut ribuan korban jiwa selama beberapa hari di Jakarta, yang kemudian merembet ke kota-kota (besar) lainnya seperti Medan, Makassar, dan terutama di Solo, situasi dan kondisi Surabaya relatif aman terkendali. Tidak ada aksi-aksi anarkis yang destruktif secara signifikan. Tidak ada pembakaran dan penjarahan toko-toko milik orang-orang WNI keturunan Tionghoa, seperti di Jakarta, Solo, Medan, dan lain-lain. Sepanjang masa krisis dan kerusuhan-kerusuhan itu, Surabaya “tidak ikut-ikut”. Meskipun tetap diliputi dengan suasana mencekam, kota Surabaya adalah satu-satunya kota besar yang relatif aman.

Kata pengamat, dan saya setuju, itu antara lain karena hubungan kemasyarakatan warga kota Surabaya, yang terdiri dari berbagai etnis dan agama itu jauh lebih baik daripada situasi dan kondisi di kota-kota (besar) lainnya, yang terkesan serba eksklusif. Terutama sekali di Jakarta. Di samping itu ada juga karakteristik warga Surabaya yang serba blak-blakan. Tidak suka dibilang tidak suka. Tidak berpura-pura baik di depan, tetapi menyimpan dendam di belakang. Yang seperti api dalam sekam, bisa meledak setiap waktu.

Hubungan antara etnis Tionghoa dengan warga “asli” Surabaya, misalnya relatif sangat baik. Ada juga pemersatu di antara mereka yang kerap menggunakan bahasa daerah khas Suroboyoan yang sama dalam pergaulan sehari-hari. Semuanya bersatu dalam sebutan “Arek Suroboyo”.

Berpikir dan merenung, saya berkata kepada diri saya sendiri, lain kali, jangan lagi melakukan tindakan konyol seperti di Mei 1998 itu. Tentu saja yang jauh lebih penting, kita berdoa bersama agar peristiwa seperti Kerusuhan Mei 1998 jangan lagi terulang kembali. Tetapi, mungkin apa yang saya lakukan itu juga terdorong dari naluri dan semangat seperti seorang wartawan, ya? Yang selalu ingin tahu secara langsung suatu peristiwa. Meskipun, saya bukan wartawan. ***