mohammad mustain
mohammad mustain wartawan

Memotret dan menulis itu panggilan hati. Kalau tak ada panggilan, ya melihat dan membaca saja.

Selanjutnya

Tutup

pilihan headline

Dancukan Politik

8 Agustus 2017   12:58 Diperbarui: 9 Agustus 2017   09:07 3513 19 18
Dancukan Politik
Foto dewa di Klenteng Kwan Sing Bio Tuban/foto dokpri

Jangan marah atau tersinggung baca judul tulisan ini. Itu hanya istilah untuk menggambarkan sebuah benda, makhluk hidup, atau seseorang yang memenuhi kaidah "danjukan" dan "politik. Kalau anda tidak memenuhi persyaratan itu, cuek saja dan nikmati saja tulisan ini sebagai intermesso yang membahagiakan.

Danjukan berasal dari kata dasar 'dancuk' yang diberi akhiran 'an'. Makna kata 'dancuk' hingga saat ini belum ditetapkan secara pasti. Yang sudah pasti, kata itu mewakili ekspresi seseorang saat memaki seseorang atau menyapa dengan mesra seseorang. Jadi, makna memaki dan menyapa mesra bisa berdampingan dalam kata dancuk. Nah, ekspresi ini dikatabendakan dengan akhiran 'an'.

Makna kata politik menurut wikipedia.org. "Politik adalah seni dan ilmu untuk meraih kekuasaan secara konstitusinal atau nonkonstitusioal. Di samping itu, politik juga dapat dipandang dari sudut pandang berbeda, yaitu antara lain: politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama".

Jadi, 'dancukan politik' jika dilihat dari makna kata 'dancukan' dan 'politik' bisa menggambarkan seseorang yang dimaki atau disapa mesra dengan kata 'dancuk. Dia juga seseorang yang ingin meraih kekuasaan baik secara konstitusional atau nonkonstitusional atau berusaha mewujudkan kebaikan bersama. Kira-kira seperti itulah maknanya.

Ungkapan ini muncul begitu saja, saat sahabat saya menanyakan keberadaan patung 'dewa' di Klenteng Kwan Sing Bio Tuban, yang tingginya 30 m dan beberapa waktu lalu, diresmikan ketua MPR Zulkifli Hasan. Ada yang kurang pas setelah saya mencoba memahami pertanyaan sahabat saya itu. Mengapa pula patung di klenteng dipertanyakan. Apakah patung telah hidup dan berjalan-jalan dan mengganggu orang-orang?

Di Tuban, yang kerukunan beragamanya sudah terjalin mesra sejak berabad lalu, kehidupan masyarakatnya tidak pernah terusik persoalan SARA. Antara umat muslim, nasrani, khong hu cu, dan umat lain selama ini rukun, damai, sentosa. Masjid, gereja, klenteng, berdiri berdampingan tanpa ada yang merasa dikecilkan. Inilah gambaran Tuban yang sebenar-benarnya.

Karena itulah, pertanyaan soal patung di klenteng tadi mengusik nurani saya. Benarkah ada yang berubah dalam bangunan kerukunan beragama di Tuban? Ternyata setelah tanya sana-sini, bangunan kerukunan beragama itu tetap kokoh tak berubah. Tuban tetap adem ayem, tidak ada permasalahan soal patung dewa di klenteng. Juga, tak ada patung dewa yang tiba-tiba hidup serta membuat heboh karena berjalan-jalan keluar klenteng.

Dari laporan lalu lintas, juga tidak pernah ada laporan kemacetan akibat patung klenteng demo dan jalan-jalan di kota. Adanya cuma berita, kapolres Tuban meminta warga untuk berhati-hati dan bijaksana dalam menyikapi berita soal klenteng di medsos.

Ada memang yang mempermasalahkan patung dewa itu, tapi kok di Surabaya. Itu pun massa aksi demo di depan DPRD Jatim, yang konon meminta Zulkifli minta maaf karena hadir di peresmian patung di klenteng Tuban. Kesimpulan sementara, ini persoalan politik antara massa pendemo dan Zulkifli yang memakai isu patung dewa di Klenteng Tuban.

Sebagai orang yang baik dan bijaksana sekaligus njancuki, saya lantas menghubungi seorang sahabat yang cukup paham Tuban. Saya tanyakan persoalan IMB yang dijadikan dasar untuk menggugat keberadaan patung itu. Dia menyatakan, IMB itu sudah lama diurus tapi memang kurang satu persyaratan sehingga belum keluar. Tetapi, tidak ada permasalahan soal pembangunan patung itu. Keberadaan patung itu kan memang sama sekali tidak mengganggu, wong di dalam klenteng.

Dengan begitu, sebenarnya masalah ini tidak timbul di Tuban tetapi di Surabaya, di depan gedung DPRD Jatim. Jadi mengapa pula orang lantas heboh di medsos? Mereka heboh karena tidak tahu karakter masyarakat Tuban. Terlebih lagi, saat ini persoalan SARA dan kerukunan beragama sedang memasuki fase sensitif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita.

Sebagai gambaran biar tidak salah paham, Klenteng Kwan Sing Bio, salah satu klenteng terbesar di Asia Tenggara, selama ini cukup terbuka bagi masyarakat sekitar. Anda jika ke Tuban silakan mampir ke sana dan melihat-lihat lewat pintu barat, lantas ke belakang. Suasana yang asri khas Tiongkok kuno, bisa dilihat di sana. Banyak yang selfi dan foto-foto si sini. 

Jangan kaget, banyak juga pengunjung berjilbab di sini. Klenteng ini memang sudah jadi destinasi wisata di Tuban. Lokasi wisatanya ada di sisi barat dan belakang. Kalau tempat peribadatan ada di bangunan utama di sisi timur. Jadi, klenteng yang usianya sudah berabad-abad ini sudah menyatu dalam kehidupan masyarakat Tuban. Pada hari ulang tahun klenteng misalnya, masyarakat umum biasanya datang untuk menyaksikan berbagai pentas seni, termasuk wayang po te hi dan barongsai.

Dengan dasar itu, saya teringat dengan ungkapan 'dancukan politik tadi'. Rupanya memang ada yang mencoba menggoyang Tuban dengan keberadaan patung di klenteng itu. Lha namanya klenteng, ya banyak patungnya. Mau yang besar mau yang kecill, ya terserah yang mengurus klenteng. Yang penting kan patung itu tidak hidup dan jalan-jalan. Kalau sampai hidup dan jalan-jalan, Itu baru heboh.

Juga kalau patung itu dibuat di masjid, baru jadi masalah. Tetapi kan tidak ada kejadian semacam itu. Urusan patung sendiri, bagi sebagian masyarakat sudah dipandang sebagai benda seni yang diapresiasi dengan nilai seni pula. Jadi, urusan ini sudah selesai sejak lama. Sekarang kok dipermasalahkan oleh orang luar, jadi jelas ada yang gak pas.

foto dokpri
foto dokpri

Situasi politik kita saat ini memang cenderung abai dengan nilai-nilai keutamaan yang sudah lama tertanam di masyarakat. Paham radikal agama, paham politik sekuler yang cenderung menanggalkan nilai humanisme, paham menghalalkan segala cara dalam mencapai tujuan politik, telah jadi wabah penyakit yang membahayakan.

Pertanyaannya, akankah bangunan kebhinekaan yang sudah kokoh menyatu itu terus digoyang dan digerogoti hanya untuk kepentingan politik praktis? Sebuah pertanyaan yang sangat relevan diajukan sejak lima belas tahun lalu, ketika sebuah skenario dan gerakan sistematis sudah dijalankan untuk sebuah raihan kekuasaan politik.

Aksi-aksi massa yang terjadi beruntun dalam skala besar sejak tahun lalu, yang tujuannya jelas untuk menggoyang dan 'menggulingkan' pemerintahan yang sah, seharus menyadarkan kita bahwa bangunan kebangsaan ini bisa roboh jika tidak dicegah dan diperkuat sedari kini. Paham khilafah, radikalisme Islam, sektarianisme hanyalah sebagian persolan itu. Persoalan lain yang tak kalah pentingnya adalah mental berpolitik kita yang tak lagi punya etika kebangsaan.

Silakan berpolitik, tapi berpolitiklah yang sehat. Jangan mengorbankan kerukunan masyarakat, menggoyang bangunan SARA, menceraiberaikan Indonesia. 

Salam-salaman.