HIGHLIGHT

Obyektifitas Versus Subyektifitas - Dikotomikah?

03 Oktober 2012 23:58:51 Dibaca :

Dalam ajang tukar pikiran atau diskusi sering kita mendengar ucapan ; " Ah kamu kurang objektif", " Kita disni harus objektif dong jangan subjektif". Kelihatannya suatu ucapan biasa dansederhana saja, tetapi sih apa sebenarnya arti dari kata "subyektif" dan "obyektif" secara esensinya?. Bagaimana sebenarnya proses manusia berfikir pada otaknya dengan membedakan dua istilah tersebut ?

Nah sekarang kalau kita perhatikan Orang Besar/Politikus/Ilmuwan/ suka mengeluarkan Pendapat atau Pernyataan yang Subyektif, tapi orang2 ini berhasil mendapatkan kedudukan social dan ekonomi yang baus dalam masyarakat. Sebaliknya kalau orang awam mengeluarkan pernyataan yang subyektif dianggap sok tahu atau sotoy.

Rene Descates tahun 1642 membagi Realitas menjadi dua bagian besar yaitu Material (obyektif) dan Mental (subyektif). Pembaian ini yang dikenal dengan nama Dualisme Cartesian oleh para Ilmuwan sekarang sudah ditinggalkan, karena katanya pembagian seperti ini sudah tidak sesuai/sinkron lagi dengan cara pemikiran otak manusia (mental process).

Dikotomi antara Subyektifitas dan Obyektifitas yang sekarang diartikan kurang tepat itu menimbulkan masalah untuk para pengikutnya yang disebut "tendensi subyektifitas semu" dan "tendensi obyektifitas semu'. Kedua hal ini sebenarnya tidak bisa dipraktekkan karena bertentangan dengan proses pemikiran otak manusia (mental proses tadi). Dualisme carrtesian ini jelas adalah produk cara pemikiran Kebudayaan Barat.

Di regional Asia paling tidak dalam ajaran Hindu, Budha dan Tao memakai prinsip Unifikasi bukan Dikotomi. Dalam penulisan Orang Asia sudah tidak aneh utuk memasukkan kata ganti oaring kesatu dengan ketiga, termasuk dalam penulisan ilmiah. Kata2 itu adalah kami, Kita, Mereka, Nya, dll.

Pembagian Cartesian yang telah mendikotomikan Subyektifitas dan Obyektifitas yang menganggap Subyektifitas hanya kebalikan dari obyektifitas, hal ini sebenarnya tidak sinkron dengan proses berikir yang ada di otak kita. Platform Cartesian ini utamanya dianut oeh Ilmuwan krisen Eropa jeung Kaum Militant dan Platform ini sangat ditentang olehPlatform Psikologi dan Platform Filosofi.

Karena itu timbul analisa baru yang lebih ilmiah dalam membahas Obyektifitas dan Subyektifitas dalam Platform Idealisme Metafisik. Dimana pada pokoknya tidak ada obyek realitas yang ada (exist), termasuk obyek fisik sekalipun, tapi hanya tergantung kepada hasil kerja otak saja. Menurut Platform ini mengatakan tidak ada Gajah, itu adanya hanya difikiran kita saja bahwa itu ada Gajah. "Physical things do not really exist at all. Nothing exists INDEPENDENTLY of our experiences, meaning nothing exists independently of our MINDS" (Sandy La Fave, West Valley College).

Penggunaan yang salah dalam memakai istilah Subyektif dan Obyektif bisa tidak cocok dengan pandangan Idealisme Metafisik atau pandangan yang terkandung dalam Epistemologi. Akibatnya kita bisa saja menyebut bahwa Moralitas, Realitas dan Kebenaran itu ada secara fisik. Karena itu menjadi penting untuk menelaah secara artikulasi Subyektifitas dan Obyektifitas dalam rangka memahami proses pemikiran otak manusia dimana pemakaian kedua istilah tadi harus sesuai dengan konteksnya.

Contoh bagaimana konsepsi Dikotomi ini tidak betul ; Kalau kita sakit kepala hanya kita yang , bisa merasakan bagaimana rasanya, tidak akan ada orang lain yang bisa merasakan sakit kepala sama dengan kita , jadi ini hal yang Subyektif. Menurut definisi tadi kalau sakit kepala ini Subyektif artinya ini PENDAPAT SENDIRI, bahwa saya sakit kepala. Jadi dalam konteks Berpendapat atau membuat Pernyataan hal ini tidak punya dasar karena katanya Subyektif tadi.

Jadi kalau kita ke Dokter dan mengaku sakit kepala, apa dasarnya ? Apa dasarnya Dokter harus percaya ? Kan itu SUBYEKTIF yaitu menurut kita, karena Dokter TIDAK BISA merasakan sakit kepala kita, Orang seharusny akan mengtakan ; "Ah itu sih pendapat anda saja", karena SUBYEKTIF tadi.

Jadi masalah sakit kepala tadi adalah TIDAK OBYEKTIF alias tidak nyata (REAL), hanya ada di pikiran si Pasien saja.

Jadi bagaimana artinya kalau begini ? Masa tidak boleh diobati oleh Dokter karena hanya Subyektif tadi, subjective reality. Begitu juga EMOSI (Emotion) dan RASA SAKIT (Pain) yang juga adalah REAL, sebagai Subjective Reality. Apakah ini Obyektif atau Subyektif ? Pemikiran Idealisme Metafsik ini berkembang sekitar tahun 1800 an masehi.

Ada 3 premise yang bisa dilihat dari Teori Idealisme Metafisik ini ;

1. Pengalaman secara Metafisik adalah Subyektif karena tidak ada orang lain yang mempunyai pengalaman yang sama.

2. Kebalikan dari Subyektif adalah Obyektif

3. Kalau pengalaman kita (conscious experience) secara Metafisk dianggap Subyektif maka semua pernyataan mengenai Pengalaman (eksperimen Lab, travel, belajr, baca buku, skripsi, Sekolah) adalah SUBYEKTIF juaga seca Epistemologi !Tht's only believe ! Ini menyangkut percaya kepada hasil Membaca buku, percaya kepada Hasil Eksperimen dan percaya kepada Hasil Skripsi dengan memakai referensi orang lain.

Nah semua yang dipoint 3 dianggap Subyektif maka kebalikan dari Point 3 adalah Obyektif yaitu No2. Melihat kepada hal2 yang disebut di nomor 3, maka tidak ada hal2 kebalikan dari No3 yang obyektif , padahal itu menayngkut kegiatan sehari2 manusia.

Konsekwensi dari hal ini akibatnya; Apa saja yang ditulis atau dikatakan sendiri atau dikutip atau dipelajari, tetap saja bersifat SUBYEKTIF menurut teori ini !

Argumentasi ini sudah banyak didukung para Ilmuwan. Kalau kita mempunyai wawasan terbatas, mak kita tidak mempunyai Kebenaran (Truth). Karena itu banyak orang yang suka TIDAK MENGHARGAI pendapat orang lain karena hanya berdasarkan ketiadaan TRUTH tadi menurut persepsi Idealisme Metafisik.

Karena iti sains terus berkembang, para Ilmuwan sekarang berusaha menganalisa masalh Subyektifitas dan Obyektifitas berdasarkan Proses Mental Otak Manusia.

Simple Mental Process.

Obyektifitas.

Pada proses mental otak manusia ada 4 komponent yang saling menyambung dalam suatu siklus, dimulai dengan Kutub Subyektifitas, nyambung ke Intensionalitas, nyambung ke Kutub Obyektifitas terus balik ke Kutub Subyektifitas. Proses ini karena merupakan obyek dari Pemikiran bisa dikatakan Nyata tetapi Maya. Contohnya: Ide , Pendapat,gambar, foto, dll pokoknya sesuatu yang bisa dicerna oleh Pikiran.

Intensionalitas.

Subyektifitas itu aktif sedangkan Oyektifitas itu pasif, jadi hubungan antara keduanya adalah satu arah dari aktif ke pasif dan bersifat dorongan. Menurut Hegel (1807) Subyektifitas seolah bisa menelan Obyektifitas. Subyektifitas ini hanya dapat dipuaskan oleh Obyektifitas. Sementara satre (1947) melebarkan penemuan pendapat Hegel dengan mengatakan bahwa Subyektifitas bersifat sangat ofensif dalam proses pemikiran otak manusia.

Subyektifitas.

Ini merupakan komponen diametral dari Subyektifitas, bukan kebalikan seperti dalam teori Dualisme Cartesian atau Idealisme Meta Fisik. Kita akan merasakan ini dalam bentuk Kehendak, Minat, Tujuan, Pengertian, Rasa ingin tahu, eksplorasi, adaptasi, perencanaan, memilih, akomodasi, mengartikan/menyimak, rasa sakit, dll.

Akomodasi.

Kalau semua Intensionalitas dapat diakomodasi oleh Obyektifitas, ini merupakan akhir dari Subyektifitas, karena keduanya secara alamiah saling berhubungan. Mungkinkah keadaan ini bisa tercapai ? TIDAK MUNGKIN karena kalau itu maka semua unsur yang ada hubungannya dengan diri (self) dari komponen Intensionalitas bisa bercampur dengan obyek, danakan menghasilkan hanya Obyektifitas saja. Artinya Subyektifitas akan terhapus, artinya tidak akn mungkin terjadi pada manusia. Biasanya hanya SEBAGIAN dari Intensionalitas yang bisa diserap oleh Obyektifitas. Itulah Manusia.

Kesimpulan : Dalam Proses Mental (Mind Process), Subyektifitas dan Obyektifitas merupakan komponen yang sinkron dan TIDAK BISA DIPISAHKAN seperti dalam model Dualisme Cartesian atau Idealisme Metafisik, dimana selalu ada dikotomi anata Subyektif versus Obyektif dengan demarkasi ang nyata. Ini sebenarnya yang masih diikuti awam sampai hari ini dikotomi mutlak, Obyektifitas adalah kebalikan Subyektifitas.

Yang benar adalah karena tidak semua Intensionalitas manusia bisa terserap oleh Kutub Obyektifitas dirinya, maka Subyektifitas akan tetap terkandung dalam apa yang kita sebut Obyektifitas.

C Surtiwa

/countryman

Pensiunan di bidang Eksploitasi Minyak dan Gas Bumi.
Think conceptually and solve problems conceptually too.

Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?