Ignasia Kijm
Ignasia Kijm wiraswasta

Senang mempelajari banyak hal. Hobi membaca. Saat ini sedang mengasah kemampuan menulis dan berbisnis.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora highlight headline

Hari Down Syndrome Sedunia, Mengasah Berlian yang Terpendam

21 Maret 2017   20:22 Diperbarui: 22 Maret 2017   15:28 192 5 2
Hari Down Syndrome Sedunia, Mengasah Berlian yang Terpendam
Anak-anak dengan down syndrome pentas di hadapan publik (foto dokumentasi Sigit Widodo)

Setiap tanggal 21 Maret diperingati sebagai Hari Down Syndrome Sedunia. Banyak masyarakat yang masih menganggap anak dengan down syndrome sebagai idiot. Mereka tidak idiot, mereka sangat brilian! Mereka sangat istimewa.

Perjalanan Sigit Widodo bersama anak-anak dengan down syndrome bermula pada 2012. Anak-anak dengan down syndrome tersebut tinggal di Pondok Sosial Kalijudan Surabaya bersama anak dengan retardasi mental, anak dengan cacat fisik, dan anak jalanan. Pondok tersebut berada di bawah Dinas Sosial Kota Surabaya. Sigit yang berlatar belakang S1 Jurusan Bimbingan dan Konseling Universitas Negeri Surabaya ingin konseling juga diberikan kepada anak jalanan atau anak dengan special needs, tidak hanya di sekolah seperti yang selama ini terjadi. 

Konseling tersebut harus disampaikan dengan cara yang berbeda. Oleh karena itu Sigit memilih mengajarkan musik secara sukarela kepada anak-anak dengan down syndrome yang berusia 7 hingga 20 tahun. “Ada keinginan dari dalam diri untuk bersama mereka, mungkin karena sejak kecil jauh dari orang tua,” tutur Sigit yang saat ini bekerja sebagai konselor di Universitas PGRI Adi Buana Surabaya.

Anak dengan down syndrome mengajarkan arti kejujuran dan ketulusan (foto dokumentasi Sigit Widodo)
Anak dengan down syndrome mengajarkan arti kejujuran dan ketulusan (foto dokumentasi Sigit Widodo)
Butuh ekstra kesabaran mengajarkan anak dengan down syndrome (foto dokumentasi Sigit Widodo)
Butuh ekstra kesabaran mengajarkan anak dengan down syndrome (foto dokumentasi Sigit Widodo)
Down syndrome adalah kelainan kromosom genetik yang menyebabkan perbedaan intelegensi. Jika anak pada umumnya hanya membutuhkan waktu 10 detik untuk menyerap pelajaran, tidak demikian dengan anak dengan down syndrome yang membutuhkan waktu setengah jam. Berkaca pada fakta tersebut Sigit mengaku harus ekstra sabar. Terlebih jika anak-anak itu bad mood

Tantangannya adalah mencari mood terbaik mereka. Dua minggu sekali ia melatih musik selama dua jam, kadang lebih. Ia tidak memforsir anak sebab konsentrasi dan ketahanan mereka berbeda dengan anak pada umumnya. Usaha lebih lainnya adalah melatih per individu. “Saya pernah melatih mereka dalam kelompok sebanyak tiga orang, yang terjadi mereka saling menggangu. Ada cara dan pendekatan tersendiri. Mereka mudah bosan, kita harus cari celah untuk menghidupkan atmosfer suasana,” ujar Sigit.

Sigit mengaku masih sering terharu walaupun sering bersama mereka (foto dokumentasi Sigit Widodo)
Sigit mengaku masih sering terharu walaupun sering bersama mereka (foto dokumentasi Sigit Widodo)
Sigit tidak pernah menyangka bisa mengantarkan anak-anak dengan down syndrome tampil di hadapan publik (foto dokumentasi Sigit Widodo)
Sigit tidak pernah menyangka bisa mengantarkan anak-anak dengan down syndrome tampil di hadapan publik (foto dokumentasi Sigit Widodo)
Ketekunan Sigit berbuah manis saat anak-anak dengan down syndrome diundang pentas di kampus hingga mall. Ia menganggapnya bonus. Misi utamanya adalah mengubah mental mereka perlahan-lahan. Sigit mengaku perubahan sebenarnya terjadi pada dirinya. Dahulu ia temperamental. Kini ia harus sabar menghadapi anak-anak dengan down syndrome yang mudah mengalihkan perhatian ke objek lain. Sigit bahkan mengajak mahasiswa mengunjungi pondok setiap Sabtu dan Minggu. 

Di satu sisi mereka mampu berinteraksi dengan anak-anak. Di sisi lain anak-anak belajar menerima kondisi sosial dan melatih kepercayaan diri. Sebenarnya banyak yang bisa digali dari anak-anak dengan down syndrome, seperti olahraga, tari, hingga lukis. Akan lebih baik jika anak-anak dengan down syndrome fokus pada apa yang mereka bisa, fokus pada passion atau bakat untuk kemudian dikembangkan. “Selama ini orang tua menuntut mereka secara akademik, itu sulit,” kata Sigit.

Masyarakat Inklusi
Masyarakat yang menyaksikan penampilan anak-anak dengan down syndrome tak sedikit yang menangis. Sigit tak malu-malu menceritakan kondisi anak-anak itu, ada yang ditemukan di jalan, ada yang orang tuanya entah di mana. Sigit tidak pernah menyangka bisa mengantarkan anak-anak dengan down syndrome tampil di hadapan publik. Niat awalnya hanya ingin berbagi dengan kemampuan musik yang dimilikinya. 

Sigit menilai di Surabaya sudah cukup bagus dengan adanya Forum Keluarga Anak dengan Down Syndrome. Forum tersebut menunjukkan banyak orang tua yang berjuang untuk anaknya. “Sudah dua tahun ini kami pentas di Hotel Shangri-La Surabaya setiap Down Syndrome Day,” tutur Sigit.

Sigit saat mempresentasikan videonya pada acara 365 Stories Digital Storytelling Network di Atamerica pada 16 Maret 2017 (foto dokumentasi Atamerica)
Sigit saat mempresentasikan videonya pada acara 365 Stories Digital Storytelling Network di Atamerica pada 16 Maret 2017 (foto dokumentasi Atamerica)
Sigit menyampaikan masih banyak orangtua terutama di desa yang menyembunyikan anak dengan down syndrome. Mereka takut anaknya dianggap idiot oleh keluarga atau tetangga. Sigit memandang kondisi itu dilatari belum adanya komunitas yang memberikan wawasan kepada orang tua dan orang tua belum tahu memperlakukan anak yang seharusnya. Melalui video yang dibuatnya dengan judul We are not Diverse, Sigit ingin menunjukkan bahwa sebenarnya kita tidak berbeda, hanya masalah kesempatan dan pembuktian.
Gali passion mereka (foto dokumentasi Sigit Widodo)
Gali passion mereka (foto dokumentasi Sigit Widodo)
Fokus pada kekuatan (foto dokumentasi Sigit Widodo)
Fokus pada kekuatan (foto dokumentasi Sigit Widodo)
Selama lima tahun bergaul bersama anak-anak dengan down syndrome, Sigit mengungkapkan banyak belajar mengenai arti kejujuran, ketulusan, dan kesabaran. Senyum di wajah mereka bagi Sigit tidak ternilai. Memberikan kesegaran terlebih saat jenuh dengan pekerjaan. Sigit mengisahkan sempat mengundurkan diri sebagai relawan dari pondok karena ingin fokus bekerja. Anak-anak menangis. Berselang dua bulan kepala pondok meminta Sigit mengajar kembali atas permintaan anak-anak.

Guru yang menggantikannya dinilai kurang tepat. Pasalnya anak-anak dengan down syndrome tidak mudah cocok dengan orang lain. Sigit berharap masyarakat Indonesia menjadi masyarakat yang inklusi, peduli pada teman-teman disabilitas atau anak-anak berkebutuhan khusus. Berikan support dan semangat kepada orangtua yang memiliki anak dengan down syndrome. “Saya mengapresiasi orang tua yang sangat luar biasa. Saya sangat kagum dengan kegigihan mereka,” kata Sigit.