Harmoni KD III

27 Desember 2010 13:33:52 Dibaca :

HARMONI


Dalam dunia musik ilmu yang mempelajari cara menyusun akor-akor disebut harmoni. Harmoni dapat diartikan sebagai ilmu untuk menyusun dan menyambung akor-akor. Harmoni juga dapat dikatakan paduan nada, yaitu paduan bunyi nyanyian atau permainan musik yang menggunakan dua nada atau lebih yang berbeda tinggi nadanya dan dibunyikan secara serentak. Akor itu sendiri adalah susunan atau pasangan beberapa nada yang dibunyikan atau dibaca serempak. Akor-akor yang dimainkan oleh guru dan semua siswa dengan harmonika akor atau alat musik akor dis lainnya, seperti piano, pianika, melodion, atau gitar. Pada tahap permulaan hanya diperkenalkan pada akor tonika, yaitu akor pada nada pertama dari sebuah tangga nada.


Hal-hal yang berkenaan dengan


a. Akor / Trinada / Triad


Trinada adalah paduan yang terdiri atas tiga nada.


Susunan tri nada;


- Akor I terdiri atas nada-nada c – e – g


- Akor II terdiri atas nada-nada d – f – a


- Akor III terdiri atas nada-nada e – g – b


- Akor IV terdiri atas nada-nada f – a – c


- Akor V terdiri atas nada-nada g – b – d


- Akor VI terdiri atas nada-nada a – c –e


- Akor VII terdiri atas nada-nada b – d – f


Akor pokok terdiri atas:


- Akor I disebut Tonika


- Akor IV disebut Subdominan


- Akor V disebut Dominan


Berdasarkan interval nada alas + kwint, maka akor dibedakan:


1. Akor mayor, yaitu akor yang mamiliki interval 2 + 1 ½


2. Akor minor, yaitu akor yang memiliki interval 1 ½ + 2


3. Akor berkurang: memiliki interval 1 ½ + 1 ½


4. Akor berlebih: mwmiliki interval 2 + 2


b. Kedudukan Trinada


Nada dalam akor dapat dibunyikan tidak aharus urut sesuai urutan tangga nada, ini disebut penggunaan akor inverse (akor balikan). Cara memainkan akor-akor tersebut adalah:


1. Dasar


Kedudukan trinada pada akor dasar belum ada variasi, hal ini berarti ketentuan membunyikan akor nada alas harus didahulukan.


2. Akor Balikan


Untuk memvariasikan nada bas, maka akor dapat disusun kembali menjadi suatu urutan urutan yang berbeda dari biasanya dengan cara membalik, yaitu: nada alas tidak lagi dijadikan bas, akan tetapi nada bas dapt dipindah ke nada tert atau kwint.


3. Tingkat Nada


Secara jelas terdapat hubungan baik antara tingkat baik pada tangga nada mayor maupun minor yang naninya berpengaruh pada operasionalnya untuk memainkan music atau mengiringi lagu.



c. Fungsi Akor


Fungsi akor menurut jenis-jenisnya adalah sebagai berikut:


Akor Primer


1. Akor 1 (Ta Tetonika)


- Akor tonika jenis mayor 1-3-5 (T)


Mempunyai sifat setabil, tanang, dan bulat yang berperan sebagai penutup lagu mayor.


- Akor Tonika jenis minor 6-1-3 ( t )


Nenpunyai sifat tenang, bulat, setabil berperan sebagai penutup lagu minor dan sebagai akor pusat tangga nada minor.


2. Akor V (D= Dominan)


- Akor dominan jenis mayor 5-7-2 (D)


Mempunyai sifat tidak tenang, ingin menjadi tonika dan berperan sebagaititik balik dari tonika.


- Akor dominan jenis minor 3-5-7 atau 3-7 ( d )


Mempunyai sifat kurang setabil menjadi t keinginan kurang.


3. Akor IV (Sub dominan)


- Sub dominan mayor 4-6-1 (S)


Akor ini mempunyai sifat kurang stabil, ingi menjadi t, tetapi keinginan ini lemah, progesif terhadap t.


- Sub dominan minor 2-4-6 ( s )


Akor ini memiliki sifat kurang stibil, ingin menjadi t, tetapi keinginannya lemah.


Akor Sekunder (Pembantu)


1. Akor pembantu pada atngga nada mayor


- Akor pembantu dominan (Dp – III)


- Akor pembantu sub dominan (S – II/Sp)


2. Akor pembantu pada tangga nadaminor


- Akor pembantu tonika minor t – tP / III


- Akor pembantu dominan minor atau akor dominan paralel untuk tangga nada minor


- Aor pembantu sub dominan minor atau akor sub dominan parallel untuk tangga nada minor


d. Kadens


Pada waktu kita menyanyikn lagu dengan diiringi sebuah alat musik harmoni, maka kita merasakan musik menginginkan berubah terus menerus antara t, d, s atau variasi lainnya. Perubahan tersebut akan menjadikan musik hidup dan bergairah. Perubahan tersebut terjadi pada setiap ketukan berat atau ketukan agak berat, bahkan kadang senantiasa bergerak secara cepat mengikuti gerak alun melodi lagu. Perubahan gerak untuk mengakhiri suatu gerakan disebut kadens. Beberapa contoh kadens:


1. Kadens tidak sempurna


Kadens ini terjadi jika lagu berhenti dengan akor dominan yang didahului oleh akor tonika ( T à D )’


2. Kadens otentik


Kaden ini terjadi pada lagu yang berhenti denan akor T yang didahului D ( T – D )


3. Kadens sub dominan


Kadens terjadi pada lagu yang berhenti pada S yang didahului T ( T à S ).


4. Kadens plagal


Kadens ini terjadi bila lagu berhenti dengan akor T yang didahului akor S ( S à T )


5. Kadens sempurna


Kadens ini merupakan rangkaian kadens otentik dan plagal ( T à S à T à D à T ), yaitu kadens bergerak berhent pada T yang didahului S dan D.


e. Tekstur


Sajian musik dapat kita nikmati dalam berbagai bentuk sajian. Suatu saat musik disajikan dengan menonjolkan unsur melodi, irama, atau menonjolkan alat – alat musik. Sajian musik kadang keluar dari kebiasaan sajian musik, misalnya: bas yang tetap ditahan atau melodi yang didahulukan yang kadang menimbulkan ketegangan yang memang diharapkan kelegaan sejian musik pada akhir lagu. Semua itu merupakan tekstur. Tekstur yaitu suatu bentuk jaringa yang berupa panggabungan unsur – unsur musik melodi dan harmoni yang menghasilkan mutu suara. Berikut bentuk – bentuk tekstur yang dapat dikembangkan pada anak SD.


1. Unisono


Bentuk sajian ini semua anggota menyajikan melodi yang sama dari awal sampai akhir lagu.


2. Homofoni


Bentuk sajian ini meru[pakan bentuk paling umum dalam penyajian lagu, walaupun bukan berarti paling mudah.


3. Polifoni


Penyajian bentuk ini terdiri dari berbagai jalur suara, tiap jalur nampak seakan – akan berjalan tanpa memperhatikan lainnya, namun ecara keseluruhan tetap merupakan satu kesatuan yang harmonis.


4. Kanon


Penyajian kanon penyanyi dibagi menjadi beberapa kelompok sesuai dengan ketentuan lagunya.


5. Diskan


Penyajian bentuk ini pada dasarnya terdiri dari dua bagian, yaitu bagian lagu pokok dan diskan.


f. Paduan Suara


Macam macam paduan suara


Penyajian musik dapat dibedakan menjadi dua yaitu: 1) Vokal, yaitu memakai pita suara di dalam mulut kita sebagai sumber suara, cara ini disebut bernyanyi. 2) instrumental, yaitu memakai alat musik atau instrumen sebagai penghasil suara ( nada atau bunyi ). Paduan suara merupakan bentuk penyajian musik, khususnya menyanyi dibawakan oleh lebih dari satu orang. Adapun macam – macam paduan suara yaitu:


a. Paduan kecil: duet, trio, kwartet, sekster, septet, dan oktet.


b. Croup vokal: biasanya mengisahakan sendiri pengolahan lagu dan iringannya sedapat mungkin tanpa bantuan dari luar.


c. Paduan suara: ciri yang menonjol adalah diperlukannya seorng dirigen, untuk memperoleh kepaduan dalam penyajianlagu.


d. Paduan besar: biasanya melibatkan ratusan atau ribuan oarng tetapi masih dipimpin oleh seorang dirigen, hanya saja dalam latihan ditangani oleh beberapa dirigen pembantu.


Langkah – langkah menyusun aransemen paduan suara:


a. Menyanyi lagu beserta syair dan carilah kesan yang diungkapkan di dalam nada dan kata.


b. Yanyikan lagu dan perhatikan, tempo mana yang cocok, kesatuan hitung, penggalan kalimat, nada paling rendah, dan nada paling tinggi.


c. Cari kadens mana yang mengakhiri penggalan tadi.


d. Cari akor untuk setiap satuan hitung.


e. Buatlah suara bas atau suara bawah.


f. Sesudah bas perhatikan keseimbangan melodi.


g. Manfaatkan motif melodi dan irama untuk suara lain,


h. Arah lagu jangan sampai simpang siur.


i. Bila sopran naik sebaiknya gunakan susunan luas.


j. Pada penonjolan cunakan unisono.


SITI NURHAYATI

/cn_cute72

Nama Q Nu\"n9, Q tinggal di Kebumen, Kecamatan Buluspesantren,Desa Rantewringin.Warna favorot Q coklat N pink. Q anakN ga suka gaul tp dah gaul he..he..he..Suka berteman.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?