Kang Galuh
Kang Galuh

Celoteh tentang kejadian sehari-hari.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Hidup dalam Sebuah Grafik

9 September 2017   07:20 Diperbarui: 9 September 2017   07:27 122 0 0
Hidup dalam Sebuah Grafik
Sumber: dok. pribadi

Sering kita dengar orang bilang, "Hidup mah mengalir saja. Apa adanya. Ga perlu rencana-rencana. Yang ada di depan mata saja."

Betul begitu? Kita hanya tinggal ikut arus apa yang hidup berikan pada kita? Kita hanyut. Tidak pay attention kemana kita sudah berjalan dalam hidup ini dan sudah sejauh apa. Kita sering lupa, hidup seperti apa yang sudah kita jalani selama ini. Dan sudah sampai fase mana kita sekarang ini. Sama sekali tidak ada gambaran. Kalau boleh hidup itu dipetakan dalam sebuah grafik, saya pikir hidup itu akan terlihat seperti isi tulisan ini.

Kalau kita asumsikan puncak kehidupan kita ada di usia 40 tahun, bisa puncak fisik, pikiran, kematangan, kesehatan, tenaga, apapun, dan umur rata-rata manusia adalah 60 tahun, maka grafiknya akan berbentuk seperti dibawah ini.

Sumbu horizontal adalah umur kita. Sumbu vertikal bisa kita anggap sebagai kesehatan kita, kematangan kita, kemampuan berpikir kita, fisik kita, apapun itu. Intinya adalah performa kita dalam apapun yang mau kita anggap.

Kita lihat. Dari grafik itu, kita bisa lihat bahwa naik ke puncak performa (100%) itu butuh waktu lebih lama dibanding saat kita turun. Untuk bisa sampai ke puncak, kita perlu waktu sampai 40 tahun. Sedangkan pada saat turun? Hanya 20 tahun! Itu dua kali lebih cepat dibandingkan pada saat kita naik! Apa artinya? Banyak.

Itu bisa diartikan bahwa butuh waktu lebih lama untuk membangun apapun yang saat ini sedang kita bangun dibandingkan saat kita menunggu kehancurannya. Apa yang kita kejar selama ini, menghabiskan begitu banyak waktu, pikiran, dan tenaga, akan hilang lebih cepat dibandingkan pada saat kita sedang membangunnya. Pada saat kita sedang merangkak ke puncaknya. Makanya, sering kita dengar pada saat kita pergi melayat ke kerabat atau kenalan kita, "Cepat sekali ya? Padahal baru kemarin ketawa-tawa, masih sehat. Segar bugar. Baru beberapa tahun kemarin berhasil dalam usahanya. Menikmati kesuksesannya."

Pernah dengar kan kalimat seperti itu? Atau mungkin malah kita sendiri yang mengatakannya? Ibarat naik seluncuran, naiknya kita perlu bersusah payah lewat tangga, butuh waktu, pas turun hanya beberapa detik saja. Cepat. Sudah sampai di bawah lagi.

Grafik itu juga bisa diartikan bahwa kalau kita sedang berada di puncak performa kita, siap-siaplah turun. Karena tidak ada jalan ke atas lagi setelah tiba di puncak. Hanya ada jalan turun. Sama seperti mendaki gunung. Sudah sampai puncak gunung, selanjutnya adalah turun.  Dan waktu turun akan lebih cepat. Lebih mudah dibandingkan pada saat naik ke atasnya.

Jangan sombong apalagi lupa diri pada saat sedang di puncak. Jangan lupakan apa yang akan datang setelah ini. Turun. Dan akan ada orang-orang yang akan menggantikan kita di puncak. Orang-orang yang saat ini sedang berjalan naik di belakang kita. Dan kita akan menyusul orang-orang yang sedang turun di depan kita. Yang mungkin saat ini sudah mulai sakit-sakitan, susah konsentrasi, tidak bertenaga seperti dulu, dan sebagainya.

Hidup itu sangat singkat. Kita harus sadari itu. Dan turunnya jauh lebih cepat dibandingkan dengan naiknya. Persiapkan segala sesuatunya. Bekal yang kita butuhkan nanti. Kumpulkan pada saat kita menanjak ke atas. Selagi muda. Selagi kita masih bisa. Selagi kita masih kuat. Karena pada saat fase turun nanti, waktu kita akan jauh lebih singkat. Tenaga dan pikiran kita akan semakin terbatas. Pilih hal-hal yang akan berguna saja. Yang akan bermanfaat untuk kita nanti. Kerjakan apa yang benar-benar penting saja. Karena hal-hal yang tidak penting hanya akan membebani perjalanan menanjak kita saja dan hanya akan semakin mempercepat proses penurunannya.

Hidup dalam sebuah grafik.