HIGHLIGHT

Minta Izin Dulu Deh Sama Istriku!

28 April 2012 01:34:25 Dibaca :

"Minta izin dulu aja deh sama istriku," Itulah jawaban yang kuterima saat aku menawarkan tugas dinas kepada Pak Doddy, teman sekantorku. "Alaamaaak....ini laki-laki kok gak bisa bikin keputusan sih?" ujarku dalam hati penuh kejengkelan plus ketidakmengertian. Kenapa sih dia takut banget sama istrinya?

Pak Doddy adalah rekan kerjaku. Begitu pula istrinya, Bu Lanny, juga rekan kerjaku. Dengan kata lain Pak Doddy dan Bu Lanny adalah suami istri yang bekerja dalam satu atap. Sebagai suami istri aku melihat hubungan mereka memang agak timpang. Teman-teman yang lain mengatakan bahwa mereka gak selevel. Bu Lanny adalah tipe istri yang dominan. Di tempat kerja ia juga dikenal sebagai perempuan yang comel, egois, dan kurang peduli pada orang lain. Sementara Pak Doddy, suaminya, dikenal sebagai laki-laki pendiam, cenderung mengalah (atau memang kalah ?), tapi juga tidak tegas mengambil keputusan.

Kadang-kadang keberadaan suami-istri yang bekerja dalam satu atap memang menimbulkan masalah. Bukan hanya pada suasana kerja, namun juga pada relasi dengan sesama rekan kerja. Ketika mereka sedang bertengkar di rumah, ada kalanya itu terbawa di tempat kerja. Atau saat mereka menghadapi problem rumah tangga lainnya, ini pun berdampak pada kinerja mereka.

Kembali pada pengalamanku dengan Pak Doddy. Ceritanya suatu hari ada undangan seminar dari instansi lain. Undangan ini ditujukan kepadaku dan Pak Doddy. Saat aku menanyakan padanya kesediaan untuk menghadiri acara seminar tersebut, ternyata jawaban yang kudapat seperti yang kuungkapkan di awal tulisan ini. Minta izin pada istri? Haduuuh....bagaimana ini logikanya? Aku sungguh tak mengerti. Ini adalah urusan dinas, kenapa mesti tanya kepada istrinya tentang boleh enggaknya dia pergi?

Terasa aneh bagiku jika seseorang tak mampu membuat keputusan tegas pada saat yang dibutuhkan. Menghadiri seminar adalah jelas tugas dinas yang harus disikapi dengan tegas untuk hadir atau tidak. Ketika seseorang menempatkan dirinya sebagai seorang karyawan di sebuah instansi maka ia harus melepaskan posisi pribadinya dalam sebuah keluarga. Menurutku, Pak Doddy harusnya tegas menjawab ya atau tidak dengan segala alasan yang masuk akal dan bisa diterima terlepas dari ia sebagai suami Ibu Lanny.

Ini bukan kali pertama Pak Doddy bersikap seperti itu. Dalam beberapa kasus, seringkali ia mengungkapkan pandangannya yang secara tersirat menunjukkan betapa ia memang tidak mampu mengambil keputusan secara tegas alias ia berada di bawah ketiak istrinya. Ia seolah takut istrinya murka dan tak berkenan bila ia mengambil keputusan tanpa merundingkan terlebih dulu dengan itsrinya. Mungkin ini menjadi sesuatu yang berbeda. Biasanya kaum perempuan yang berada pada posisi lemah dan tak berdaya manakala ia sangat tergantung pada suami. Yang terjadi pada Pak Doddy justru kebalikannya.

Relasi yang timpang. Itulah kondisi yang cocok untuk menggambarkan hubungan Pak Doddy dengan istrinya. Ketika suami istri tidak dalam posisi sejajar memang yang akhirnya terjadi adalah ketimpangan. Ada satu pihak yang dominan, dan ada pihak lain yang tersubordinasi. Relasi seperti ini tentu bukanlah relasi yang sehat dalam sebuah rumah tangga. Pasangan suami istri hendaknya menjadi pribadi yang setara sehingga mereka bisa saling mengisi dan melengkapi. Apalagi bila kondisi timpang ini sampai terbawa dalam dunia kerja. Tak pelak lagi ini akan menjadi sumber konflik yang pada akhirnya menciptakan suasana kerja yang tidak kondusif.

Kesetaraan relasi tidak berarti bahwa suami istri lepas sendiri-sendiri tanpa koordinasi. Bagaimana pun kerja sama,  komitmen, dan kesepakatan bersama tetap penting dalam sebuah rumah tangga. Akan tetapi pada kondisi tertentu setiap pribadi, entah itu istri maupun suami harus memiliki kemandirian sikap. Ia harus mampu memutuskan mana yang terbaik yang harus ia lakukan tanpa bergantung pada pihak lain.

Yah, kesetaraan relasi suami istri, itulah yang dibutuhkan oleh setiap rumah tangga. Tampaknya ini yang belum ada pada keluarga temanku, keluarga Pak Doddy dan Bu Lanny. Pendidikan tinggi yang mereka miliki ternyata bukan merupakan jaminan bahwa mereka lalu menjadi setara. Ternyata latar belakang pendidikan tidak otomatis berkorelasi positif terhadap perkembangan pribadi. Ada faktor-faktor lain yang ikut mempengaruhi kemandirian pribadi seseorang. ****

Cay Cay

/caycay

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Belajar tak dibatasi usia.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?