HIGHLIGHT

ROHIS Sarang Teroris???

17 September 2012 01:47:04 Dibaca :

Seminggu terakhir ini, di media-media social macam Facebook dan Twitter ramai dibicarakan tentang pernyataan sebuah media berita televisi nasional yang menayangkan beberapa metode rekrutmen yang saat ini dianggap terorisme di sekolah-sekolah, salah satunya adalah bahwa rekrutmen dilakukan melalui kegiatan-kegiatan ekskul yang berbasis masjid sekolah. Pernyataan ini tentu saja membuat banyak orang resah. Karena memang satu-satunya ekskul yang berbasis mesjid sekolah saat iniĀ  adalah ROHIS (Rohani Islam). Cheerleaders, pramuka, PMR dan ekskul yang lain tidak ada yang melakukan kegiatannya dengan berbasis masjid sekolah.


Karena kuatnya desakan masyarakat, termasuk organisasi Ulama Indonesia (MUI) yang menuntut agar media televisi yang bersangkutan meminta maaf atas pernyataannya tersebut, maka dibuatlah semacam press release. Sayangnya press release tersebut, lebih berkesan mencari-cari alasan ( ngeles). Media itu mengelak telah menyebutkan bahwa ROHIS adalah sarang teroris.


Saya tidak ingin menguak lebih jauh atas pernyataan media yang saya nilai gegabah, tidak valid, dan tidak mencerdaskan itu. Pernyataan yang terkesan dipaksakan karena maraknya peristiwa terorisme di negeri ini.


Dulu, saat sekolah saya mengikuti ekskul yang berbasis masjid sekolah, ROHIS. Dan saya tidak pernah mendapatkan doktrin-doktrin yang dilansir media tersebut berkolerasi terhadap terjadinya tindak terorisme. Saya malah banyak mandapat manfaat dari tergabung dengan ekskul ROHIS. Semangat belajar saya bertambah, semangat kebangsaan saya pun terasah dll. Begitupun yang dirasakan oleh banyak teman saya yang lain yang mengikuti ekskul tersebut.


Jadi, saya sangat menyayangkan adanya pernyataan bahwa ekskul berbasis msjid menjadi tempat rekrutmen terorisme. Kalaupun kesimpulan itu diambil, berarti logika yang sama bisa diterapkan untuk alur berpikir seperti ini : saat ini banyak koruptor yang mendapat pendidikan di sekolah-sekolah yang cukup bergengsi, lantas apakah kemudian sekolah-sekolah tersebut harus ditutup atau diklaim sebagai penghasil koruptor? Kan tidak juga.


Marilah kita lebih bijaksana dan jernih melihat suatu masalah. Jangan gebyar uyah dan generalisir semua hal yang kelihatannya saling terkait padahal sama sekali jauh panggang daripada api. Jangan memancing di air keruh, jangan membuat resah masyarakat yang sedang banyak ditimpa masalah ini. Media, apalagi media televisi yang ditonton oleh banyak pemirsa dari berbagai kalangan, sudah seharusnya menayangkan berita-berita yang mencerdaskan dan membangun karakter bangsa. Bukan sekadar menayangkan berita heboh dan kontroversial demi naiknya rating siaran.



Semoga media ditanah air ini bisa menjadi corong kebenaran dan keadilan.
Salam hangat selalu.

Catatan Kaki : Melihat banyaknya tanggapan, saya ingin menambahkan sedikit pesan untuk kita semua (terlebih untuk diri saya sendiri), yang merasa bahwa ROHIS itu adalah tempat siswa berkumpul untuk melakukan kegiatan yang sangat bermanfaat. Kita memang tidak boleh terlalu reaksional terhadap pernyataan "miring" tersebut. Karena yang namanya kebenaran akan selalu ada tantangan dan ujian yang datang. Entah berbentuk hinaan, cacian, makian, fitnahan dll. Tugas kita hanya meluruskan dan berusaha sekuat tenaga bagaimana menjadi seorang muslim yang baik, yang aqidahnya lurus dan benar, yang amalnya sesuai tuntunan Al Quran dan sunnah Rasul, yang akhlaknya indah. Selebihnya kita serahkan kepada Yang Maha Menentukan, Allah Azza wa Jalla. Karena tidak ada suatu kejadian pun tanpa izin-Nya, dan saya yakin ada hikmah di setiap kejadian tersebut. Wallahu A'lam bish shawab. Allahul musta'an.

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?