#Sup -- Panggung Ahok

02 Desember 2016 16:49:51 Diperbarui: 04 Desember 2016 16:21:30 Dibaca : Komentar : Nilai :
#Sup -- Panggung Ahok
sudt-5843dc9ced9673c206d8df0d.jpg

RESMI tersangka oleh Bareskrim POLRI, kasus Ahok mulus P21. Berpindah ke kejaksaan, tak perlu menanti lama, perkara Ahok sudah diteruskan ke peradilan. Rakyat Indonesia, khususnya warga Jakarta tinggal menunggu persidangan yang sudah dipastikan terbuka. Ahok dikorbankan, kata pendukung Ahok berpendapat. Apa iya? Terlalu dini menyimpulkan itu, bahkan sebaliknya, “kasus” ini sejatinya dibawa ke ruang terbuka agar menjadi terang benderang. Hukum menjadi panglima, pengadilan tempatnya, dan rakyat Indonesia menjadi saksinya. Pemelintiran berita tak berdaya di sini. Jadi, apresiasi pada Polri dan Kejaksaan untuk kecepatan dan ketepatan proses, dan demi mengendalikan situasi yang cenderung liar. 

Nikmati #SUP Lainnya: Nge #SUP Bareng AHOK

Hasilnya nyata, 212, doa bersama di Monas berjalan lancar dan tertib, bahkan dihadiri Presiden Jokowi, Wapres Jusuf Kalla, dan beberapa menteri. Wow! Tak lagi tersisa kata bagi yang punya agenda untuk berkata Presiden mengabaikan umat atau mengintervensi hukum. Di sisi lain, beberapa aktivis yang dinilai makar ditangkap Polisi. Dari catatan, tampaknya masih ada yang menunggu gilir panggil. Belum lagi korupsi di era pemerintah sebelumnya yang kini berkasnya dilengkapi untuk naik tayang tahun depan. Jika semua menjadi “telanjang”, pasti rakyat akan tercengang betapa mengerikannya agenda yang hanya memikirkan keuntungan diri dan kelompok. Jadi tidak ada yang dikorbankan di sini, melainkan diluruskan, dibukakan, ditegakkan, sesuai hukum. Selamat menjalani proses hukum untuk Ahok.

Untuk peradilan Ahok, kita berharap tim pembela Ahok cerdas untuk menjadikan pengadilan “panggung Ahok”. Ya, panggung Ahok, di mana Ahok “dibedah” seutuhnya. Kekurangannya pasti ada dan sudah merugikan dirinya sendiri, tetapi kelebihannya sudah dirasakan warga Jakarta. Ahok memang sangat kita harapkan untuk mengubah sisi kurangnya demi keuntungan warga yang dicintainya. 

Dan dari segi pelaksanaan pengadilan terbuka, kita berharap ada Televisi yang meliputnya secara utuh, sehingga jadi pembelajaran penting sekaligus terhindar dari pemelintiran berita. Kasus ini jauh lebih berbobot karena mengadung nilai pembelajaran ber-negara, dibanding kasus Jesica yang bersifat pribadi. Media bisa menjadikan kasus ini sekolah publik, dimana orang belajar bagaimana memilah karya nyata dan citra, benar dan salah, gosip atau fakta. Dan akhirnya bisa mengenali pemimpin yang sesungguhnya.

Nikmati #SUP Lainnya: #SUP Tak Beragama

Para pendukung Ahok tak perlu was-was, Ahok akan tetap ikut Pilkada, dan apapun hasilnya Ahok sudah memberi pelajaran berharga bagi dirinya dan semua kita. Jika pendukung Ahok merasa bahwa Ahok “dikerjain”, gampang sekali melawannya. Tak perlu bersusah payah demo, apalagi memenuhi diri dengan sumpah serapah, cukup dengan satu gerakan dalam bilangan detik, memilihnya di Pilkada tahun depan. Selesai memilih anda pulang, mampir ke restauran kesukaan dan ikuti penghitungan sementara. Gitu saja, koq repot! Sementara bagi yang merasa Ahok salah dan tak suka kepadanya, itu adalah hak setiap orang.

 Negara ini bukan negara pemaksa. Ini Indonesia kita, bebas berekspresi asal tertib dan taat hukum. Jika tak suka Ahok, pelajari kasus Ahok dengan teliti dan jika merasakan Ahok tak seperti yang diduga, masih ada waktu mengganti pilihan sebelumnya. Jika tetap tak memilih, juga tak mengapa. Yang perlu kita bangun adalah semangat dan prinsip berbangsa, bahwa pilihan boleh berbeda tapi kita tetap satu; Tanah air, Bangsa, dan Bahasa, yaitu Indonesia. Indah bukan.  

Pilkada sejatinya hajat rakyat banyak, bukan soal siapa yang memajukan diri, tapi soal siapa yang kita pilih. Ah, rakyat memang luar biasa jika menyadari sepenuhnya posisi dirinya. Karena itu kita perlu belajar agar melek politik sehingga bisa menjatuhkan hukuman kepada pemimpin yang tak bertanggungjawab menjalankan kepercayaan yang kita berikan. Bekerja itu penting untuk mencari nafkah, tapi abai pada kehidupan berbangsa dan bernegara hanyalah pembuktian darah anda kurang atau mungkin bukan “merah putih”. Negara ini tanggungjawab kita bersama. Jadi siapapun yang terpilih, jangan pernah lupa mereka anak bangsa, saudara kita juga. Yang terbaik, pekerja keras yang bekerja untuk rakyat yang memilihnya, jujur berkata apa adanya dan bukan ada apanya, tidak korupsi tapi membongkarnya, berjanji tapi realistis dan bisa dilihat dari track recordnya, itu yang kita pilih, kita yang menentukannya. 

Menarikkan menunggu “panggung Ahok”. Selamat menjadikan diri juri yang cerdas, benar, dan adil. Silahkan membagikan SUP ini kepada kawan lainnya, mumpung masih hangat.

Oleh: Bigman Sirait

Bigman Sirait

/bigmansirait

Pengamat Sosial, Etika, & Kepemimpinan
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.
Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana

Featured Article