HIGHLIGHT

Dampak Kehamilan Pra Nikah Pada Remaja

22 Mei 2010 02:28:00 Dibaca :

Sahabat bidancare, hari ini saya  melengkapi informasi yang telah saya tampilkan di kompasiana  pada topik Kehamilan Pra nikah Pada Remaja. Kebetulan salah satu pembaca dari sahabat bidancare curhat pada saya melalui email bahwa dia sedang bingung dengan putrinya yang sering  telpon - telponan mesra  berlama - lama dengan pacarnya.  Padahal mereka masih duduk di bangku SLTP.

Sahabat bidancare, tidak dapat dipungkiri bahwa  sekarang anak - anak remaja  semakin punya banyak peluang untuk pergaulan bebas. Terutama di kota besar. Media informasi dan tehnologi semakin canggih,  berbagai macam  tayangan film dan berita dengan mudah diakses. Sementara di sisi lain orangtua sibuk bekerja. Tanpa disadari mereka telah kehilangan banyak momen penting dalam pengawasan pertumbuhan dan perkembangan anak .

Beberapa kali saya pernah bertanya (  secara acak )  pada murid - murid perempuan   Sekolah Dasar di sekitar lingkungan saya tinggal . Pertanyaannya sebenarnya sederhana dan  hanya dua hal  saja. Yang pertama saya  ingin mengetahui seberapa banyak anak Sekolah Dasar  yang mendapat haid pertama dan belum sempat diberitahu oleh orangtuanya mengenai  persiapan menghadapi haid pertama kali.  Jawaban mereka polos dan lugu - lugu. Dan ada beberapa jawaban yang membuat saya terharu.

Memang ada juga yang menjawab sudah mendapat pelajaran di sekolah tentang haid. Meskipun sudah mendapat pelajaran dari sekolah, namun kenyataannya anak - anak tersebut juga ada yang mengaku panik, takut dan malu.  Bahkan ada yang merahasiakan pada orang tuanya . Ada pula yang menjawab belajar  cara perawatan diri saat  haid justru dari pembantunya .

Pada jaman dulu anak perempuan haid rata- rata usia 12 atau 16  tahun. Tetapi sekarang usia 8  atau 9 tahun sudah mulai banyak terjadi.  Beberapa pendapat para ahli  menyebutkan  anak perempuan  mendapat haid pertama  dalam usia yang lebih muda  karena faktor gisi yang semakin baik dan pengaruh dari  lingkungan.

Lalu pertanyaan kedua  yang saya ajukan pada beberapa anak  Sekolah Dasar yang sudah mendapat haid tersebut  adalah :

'" Apakah kalian sudah punya pacar ? "

Tahukah anda  salah satu jawaban polos dari anak  - anak itu ?

"Aku sudah  punya pacar namanya Yudi, dia sering bantu aku buat PR "

Sahabat bidancare, peryataan di atas sudah cukup jelas  bukan? Saya harap anda bisa merenungkan nya. Mereka sudah haid dan punya pacar diusia yang belia.  Ini bukan persoalan  salah atau benar, boleh atau tidak. Yang dibutuhkan mereka adalah adalah PENDAMPINGAN yang intensif dengan penuh kasih sayang.  Berusahalah memberikan sedikit waktu anda untuk mendampingi putri anda  dalam suasana bersahabat, bicara dari hati ke hati.  Jika anda langsung melarang atau marah, belum tentu menyelesaikan masalah. Mereka justru  pacaran sembunyi - sembunyi dan  ini berbahaya.

Jadilah sahabat terbaik bagi putri anda yang sudah memasuki masa pubertas. Jika perlu beri kesempatan pada anak - anak untuk mengundang teman - temannya bermain ke rumah sehingga anda bisa mengetahui  dan mengenal siapa saja yang  menjadi sahabat anak - anak kita. Jalin relasi yang baik juga dengan orang tua dari sahabat putri anda. Jika ada  kesempatan berdua  saja dengan putri anda cobalah berbincang - bincang dan sambil  bergurau bertanya tentang  hal - hal menarik tentang pacar mereka.  Buatlah pembicaraan rileks dan santai tanpa berkesan ingin menyelidiki  agar anak mau terbuka.  Lalu pelan - pelan anda bisa memberi masukan pada anak  mengenai pendidikan seksualitas.  Dan mengarahkan untuk tidak berpacaran dulu tanpa anak merasa disalahkan .

Sahabat bidancare,  banyak sekali bacaan  bermutu di toko buku mengenai pendidikan seksualitas pada remaja. Jika tidak sempat ke toko buku anda bisa  memanfaatkan beberapa informasi berikut dari bidancare untuk menjadi bahan diskusi anda dengan anak - anak atau saat bersama para ibu dalam acara arisan atau PKK .  Sesekali ngrumpi tentang kesehatan bagus juga dijadikan topik bukan?  Semoga bermanfaat . Salam untuk teman - teman arisan dan PKK dari www.bidancare.com.

Sahabat bidancare,  menurut Prof Ida Bagus Gde Manuaba SpOG dan beberapa literatur  lain  ada beberapa masalah penting yang perlu mendapat perhatian sebagai dampak kehamilan pranikah pada remaja. Saya coba rangkum di dalam tulisan berikut ini  semoga bermanfaat .

Dampak kehamilan pranikah pada remaja :

1 . Masalah kesehatan Reproduksi

Kesehatan reproduksi sangat penting bagi remaja (putri ) yang kelak akan menikah dan menjadi orangtua. Kesehatan reproduksi yang prima akan menjamin generasi yang sehat dan berkualitas. Di kalangan remaja telah terjadi semacam revolusi hubungan seksual yang menjurus ke arah liberalisasi dan  berakibat timbulnya berbagai penyakit menular seksual yang merugikan alat reproduksi antara lainsifilis, gonorhoe, herpes alat kelamin, condiloma akuminata, HIV dan pada akhirnya AIDS.

Jika suatu saat ingin hamil normal maka besar kemungkinan alat reproduksi sudah tidak baik dan menimbulkan berbagai komplikasi dalam kehamilan baik bagi ibu maupun janin yang dikandung .

2. Masalah psikologis pada kehamilan remaja

Remaja yang hamil di luar nikah, menghadapi berbagai masalah  tekanan psikologis. Yaitu ketakutan, kecewa, menyesal dan rendah diri. Dampak terberat adalah ketika pasangan yang menghamili tidak mau bertanggung jawab. Perasaan  bersalah membuat mereka tidak berani berterus terang pada orang tua.

Pada beberapa kasus seringkali ditemukan remaja yang hamil pra nikah menjadi frustasi.  Lalu nekad berusaha melakukan pengguguran kandungan dengan pijat ke dukun. Biasanya mereka mendapat referensi dari teman - taman sebaya agar  minum obat - obatan tertentu  untuk menggugurkan kandungan padahal mereka tidak tahu bahwa obat tersebut sangat  berbahaya bagi keselamatan jiwa.  Sementara dampak psikologis dari pihak orang tua adalah perasaan malu dan kecewa. Merasa gagal untuk  mendidik putri mereka terutama dalam   hal moral dan agama. Kehamilan di luar nikah masih belum bisa diterima di masyarakat Indonesia. Sehingga anak yang dilahirkan nantinya juga akan mendapat stigma sebagai anak haram hasil perzinahan. Kendati ada juga yang kemudian dinikahkan, kemungkinan besar pernikahan tersebut banyak yang gagal karena belum ada persiapan mental dan jiwa yang matang .

3. Masalah sosial ekonomi

Keputusan untuk melangsungkan pernikahan diusia dini yang bertujuan menyelesaikan masalah pasti tidak akan lepas dari kemelut seperti ; penghasilan terbatas / belum mampu mandiri dalam membiayai keluarga baru , putus sekolah, tergantung pada orangtua. Remaja yang hamil dan tidak menikah sering kali mendapat gunjingan dari tetangga. Masyarakat di Indonesia masih belum bisa menerima single parent .  Kontrol sosial dan moral dari masyarakat ini memang tetap diperlukan sebagai rambu - rambu dalam pergaulan .

4.dampak kebidanan

Penyulit pada kehamilan remaja lebih tinggi dibandingkan dengan "kurun waktu reproduksi sehat" antara umur 20 sampai dengan 30 tahun .Hal ini karena belum matangnya sitem reproduksi  yang berpengaruh besar terhadap kesehatan ibu maupun janin .

Berbagai permasalahan kompleks tersebut di atas memudahkan terjadi :

a. Pengguguran kandungan dengan sengaja atau sering disebut abortus provocatus.

Selain melanggar  agama dan hukum  juga berakibat membahayakan keselamatan jiwa. Tindakan aborsi  ilegal mengakibatkan terjadi infeksi, perdarahan dan sebagai akibat lanjut adalah  kemandulan.

b. Terjadi  berbagai komlikasi kesehatan yang buruk bagi janin dalam kandungan.

Antara lain persalinan prematur  dan  berat badan  bayi yang rendah karena kurang gisi. Gangguan pertumbuhan organ / bayi cacat akibat pernah mengkonsumsi obat obatan dan akibat penggunaan korset untuk menutupi kehamilan dengan menekan perut.

c . Komplikasi kehamilan pada ibu yang mengandung


- Anemia ( kekurangan sel darah merah / Hemoglobine ) karena kebutuhan  gisi  selama hamil tidak diperhatikan

- Akibat stres berlebihan  menimbulkan hiperemesis gravidarum (mual muntah yang berlebihan ) .

- Terjadi kenaikan tekanan darah atau keracunan kehamilan yang di sebut pre eklampsia atau berlanjut menjadi  eklampsia dan dapat mengancam jiwa.

- Terjadi infeksi baik saat hamil maupun masa nifas, terutama pada kehamilan dengan latar belakang sosial ekonomi rendah.

-  Meningkatkan angka kematian ibu.

Angka kematian ini terutama disebabkan karena percobaan pengguguran secarailegal oleh dukun dan mengakibatkan infeksi, perdarahan .

Sahabat bidancare di kompasiana,  semoga apa yang saya sampaikan ini dapat berguna. Sekali lagi  keluarga adalah tempat pendidikan yang paling dasar untuk membentuk kepribadian dan perilaku  dari anak- anak.  Semoga dasar keimanan dan moral  yang baik yang telah kita tanamkan sejak kanak - kanak  dapat membuat mereka bertahan ketika menghadapi pengaruh buruk lingkungan .

Bidancare, Romana tari

Disarikan dari berbagai sumber

Bidan Care / Romana Tari

/bidancare

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Bidan Romana Tari [bidancare] Sahabat bagi perempuan dan keluarga, saling memperkaya informasi kaum perempuan dibidang kesehatan dan pengalaman sehari - hari dalam hidup,
Mari hidup sehat dan kreatif dalam hidup bersama bidancare

Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?