Memaafkan Itu 70 x 7 (Tuhan Sebagai Standar Kasih, Bukan Nabi)

20 Mei 2011 19:42:41 Dibaca :

Ajaran yang mulia adalah ajaran yang membawa pemahaman akan arti cinta dan kasih yang sempurna dan kekal. Ajaran akan kasih didalam Yesus, membuktikan bahwa mengasihi itu diluar batas logika manusia, diluar sekedar hasil dari pemikiran, hasil jiwa, namun mencapai kepada konisi ideal, kondisi rohani, kondisi yang tidak memilki batas kondisi. Firman Tuhan mengajarkan bahwa mengasihi sesama manusia yang walaupun dengan sengaja berbuat dosa kepada kita harus dimaafkan dan didoakan agar mereka dapat berubah. Ketika Petrus menanyakan hal mengampuni Matius 18: 21 Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?" 22. Yesus berkata kepadanya: "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali. Dalam hal ini tentunya dapat diambil sebuah pelajaran bahwa orang harus mengasihi tanpa batas. Kebaikan manusia selalu dikaitkan dengan upah di surga. Seperti apa kata Yesus pada ayat  18. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga. Inilah Firman Tuhan yang menekankan bahwa setiap manusia diarahkan kepada prilaku sempurna, prilaku rohani yang sempurna, karena ini juga menekankan akan upah kekal di surga. Contoh hal memaafkan dan kaitannya dengan yang mungkin dilakukan oleh manusia yang dengan jiwanya dan keinginannya dapat dibaca pada lanjutan perumpamaan kerajaan surga pada ayat selanjutnya. Harga dari sebuah tindakan itu akan menjadi sesuatu harta disurga. Yesus membicarakan standar Tuhan, membicarakan hal surga. Motivasi Tuhan di dalam Yesus adalah menjadikan Yesus sebagai model manusia yang diingini Tuhan. Yesus mengembalikan citra manusia, bahwa manusia itu memiliki nilai rohani, nilai kemuliaan, yang sedari awal yang telah rusak sejak Adam jatuh dalam dosa. Pengajaran Yesus ini merupakan yang seharusnya dilakukan oleh manusia untuk menjadi mulia dan demi kedamaian dunia. Yesus mengajarkan hal mengasihi lebih dalam lagi: Matius 5: 44.Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. 45. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. 46. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? 47. Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allahpun berbuat demikian? 48. Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna." Perkataan Yesus ini kembali menunjukkan relasi antara manusia dengan manusia dimana Tuhan sebagai standardnya. Bukan nabi, bukan guru, bukan manusia tetapi TUHAN. Pada ayat yang terakhir dikatakan bahwa Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna. Artinya manusia memiliki kesempurnaannya karena manusia adalah segambar dengan Tuhan. Disanalah bahwa pengajaran Kekeristenan itu tidak memilki standar lain selain Tuhan. Yesus yang menyatakan bahwa apa yang dilakukan bersumber dari Bapa, Aku dan Bapa adalah satu. Ini memungkinkan semua pengajaran yang dilakukan Yesus adalah dari TUHAN itu sendiri karena MEREKA adalah Satu (Yoh 10:13). Yoh 14: 11 Percayalah kepada-Ku, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku; atau setidak-tidaknya, percayalah karena pekerjaan-pekerjaan itu sendiri. Lukas 6. 32 Dan jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosapun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka.33 Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun berbuat demikian. 44 Dan jikalau kamu meminjamkan sesuatu kepada orang, karena kamu berharap akan menerima sesuatu dari padanya, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun meminjamkan kepada orang-orang berdosa, supaya mereka menerima kembali sama banyak. 45Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat. 46.Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati." Demikianlah Yesus kembali mengingatkan akan upah disurga, jasa yang bersifat rohani, bukan sekedar menanti umpan balik yang bersifat sementara, keuntungan sementara. Yesus mengajarkan akan Tuhan sebagai standar, bukan nabi, bukan manusia seperti dinyatakan dalam ayat 46.

Bode Haryanto Tarigan

/bhtrg

Aku adalah satu diantara mereka dan kamu. Aku hanya bagian dari yang tidak terpisahkan diantara mereka dan kamu. Hidupku adalah bagian dari mereka dan kamu. Apa yang ada padaku adalah sebuah anugerah bagi mereka dan kamu. Aku Mereka dan Kamu adalah Indonesia.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?