HEADLINE

Catatan Atas "Kongkow Bareng" Jakob Oetama

29 Maret 2010 21:19:00 Diperbarui: 26 Juni 2015 10:06:47 Dibaca : 448 Komentar : 5 Nilai : 0 Durasi Baca :

Ungkapan keresahan dunia media cetak dengan munculnya media berita lewat Televisi dan terutama media internet, telah menjadi pertimbangan tersendiri para pemimpin dan pemegang saham media cetak dunia. Demikian pula, apa yang dialami dan disampaikan oleh pendiri, pemegang saham dan pemimpin Kelompok Kompas-Gramedia Jakob Oetama kepada blogger Kompasiana Sabtu (27/3). Media cetak bukan hanya soal berita atau konten (isi), tetapi media sebagai sebuah pekerjaan bisnis, demikian disampaikan Jakob Oetama, yang mendirikian Kompas bersama P.K. Ojong (meninggal-31 Mei 1980), I.J. Kasimo, dan Frans Seda yang meninggal akhir tahun lalu 30 Desember 2009.  Nama "Kompas" sebagai harian baru ketika itu diusulkan presiden RI pertama Ir. Soekarno.  Kompas diawali dengan buletin Intisari yang terus diterbitkan dan ada sebagai tonggak berdirinya Kompas sebagai harian dan menjadi bisnis media cetak terbesar di Asia Tenggara dengan oplah 500 ribu eksemplar setiap hari, dan menjadi 600 ribu eksemplar di hari Minggu. Untuk memastikan distribusi harian Kompas secara mandiri, grup Kompas-Gramedia mengundang ABC (Audit Buro of Corelation) untuk melakukan audit tahun 1976. Dua masalah utama yang sedang terjadi dan dikhawatirkan berdampak pada media cetak adalah pertama, bahwa "Sedang terjadi perubahan instan di dunia (media komukasi), namun tanggapan yang instan dan cepat tidak segera datang berbarengan". Ungkapan keresahan dunia media cetak dengan munculnya media berita lewat Televisi dan terutama media internet, telah menjadi pertimbangan tersendiri para pemimpin dan pemegang saham media cetak dunia. Demikian pula, apa yang dialami dan disampaikan oleh pendiri, pemegang saham dan pemimpin Kelompok Kompas-Gramedia Jakob Oetama kepada bloger Kompasiana Sabtu (27/3). Untuk menjelaskan situasi itu, Jakob Oetama mengutip dua karya besar yang menarik perhatian dunia yaitu buku "The World is Flat" karya Thomas L. Friedman dan pandangan Marhsall McLuchan tentangdunia"Global Village". Persoalan kedua secara spesifik menunjuk langsung pada keberlangsungan (bisnis) media cetak, seperti Kompas, terhadap munculnya semua kecanggihan cara komunikasi dalam pemberitaan media TV hingga internet yang tidak hanya menyangkut "MENONTON atau MELIHAT" (watching) sesuatu, tetapi ikut terlibat atau "BERPARTISIPASI" dalam "MELIHAT dan MEMBACA, serta MENANGGAPI" dalam media yang baru ini. Terhadap media yang ditonton, yaitu televisi, sudah muncul tanggapan 'lama', bahwa dengan 'hanya' menonton, orang tidak akan cukup  punya waktu untuk merenungkannya. Itu berbeda dengan media cetak yang memberi ruang dan waktu bagi pembaca untuk bermenung secara kritis atas konten media cetak yang dibacanya. Namun, dampak media internet memerankan baik yang ditemukan dalam media cetak maupun media audiovisual, karena media internet menyajikan secara lengkap peran yang ada selama ini. Dampaknya yang paling nyata terdapat di Eropa Utara di mana media cetak dihantam dengan dahsyatnya, sehingga bisnis media cetak menjadi contoh dampak terdahsyat media internet terhadap media cetak. Sementara itu, Jepang menjadi contoh bahwa dampak media internet itu memberi posisi 50/50, fifty-fifty kepada media internet untuk berkembang tetapi berdampingan dengan media cetak. Indonesia dianggap berada dalam kategori ini. Hanya India dan Cina dipandang sebagai contoh kategori negara di mana media cetak akan tetap tak bergeming dengan kehadiran media alternatif dan canggih internet. Namun, Jakob Oetama segera memberi alasan mengapa media cetak di Cina, lebih khusus lagi India, mengapa tetap bertahan dan tidak (atau belum?) terkena dampak kehadiran media internet? Media cetak India (dan Cina) hidup dari iklan. Maka, perkembangan media internet, belum akan mengubah bisnisnya. "Times of India" yang beroplah hingga 4 juta eksemplar telah menjadi media iklan efektif dan belum tergantikan. Dengan oplah sedemikian besar, koran pun dijual dengan harga amat murah. Pengguna jasa media cetak untuk beriklan saling berkontribusi secara timbal-balik, maka periklanan dunia maya di India, belum akan menggantikan kepercayaan masyarakat pengguna media cetak India. Menggaris-bawahi pesan yang tak mungkin disampaikan seorang figur  - yang oleh beberapa peserta berulang disapa sebagai living legend - Jakob Oetama secara implisi ingin mengatakan, bahwa India memberi contoh bahwa mendesak bagi bisnis media cetak untuk membangun kepercayaan dunia bisnis untuk beriklan sebagai cara saling membangun bisnis. Media cetak, meskipun bukan terutama atau hanya direduksi menjadi binis belaka, adalah media berpromosi dan sosialisasi bagi dunia bisnis. Take and give antar media cetak dan dunia bisnis bergandengan dalam sosialisasi menghadapi unlimited access of informations, dunia flat, ya, global village. Pada usia lanjut, Jakob Oetama memberikan kontribusi dengan memberi inspirasi, semangat, dan pemikiran kepada para pelanjut bisnis media cetak di Indonesia. Tantangan yang dirasakan di Eropa Utara, bukan mustahil terjadi di Indonesia. Tetapi, bisnis media cetak India memberi contoh terbalik. Meskipun pada "kongkow bareng" itu saya juga ikut berkomentar, saya menutup "notulensi Kongkow bareng" Jakob Oetama dengan petuah seorang profesor senior J. van Paasen ini: "Biarlah generasi penerus melakukan apa yang tepat pada yang mereka hadapi. Yang saya pikir tepat untuk saya di kemudian hari, mungkin sudah disimpan rapih!"

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana