Hijau

Komunikasi Lingkungan pada Budaya Priyangan "Nyacar Lembur" oleh Aat Ruchiat Nugraha dan Iriana Bakti

12 September 2017   22:29 Diperbarui: 15 September 2017   00:56 296 0 0

          Pelestarian budaya dan lingkungan kini menjadi hal yang menarik untuk dibicarakan terutama bagi para pemerhati budaya dan lingkungan juga praktisi komunikasi. Bentuk pelestarian budaya, seperti pagelaran dianggap berhubungan dengan proses komunikasi lingkungan. Upaya meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pelestarian lingkungan dapat dilakukan melalui pagelaran budaya. Hal ini menjadi sangat menarik karena di sisi lain kita dapat melestarikan budaya setempat dan sekaligus mengajak masyarakat untuk berpartisipasi dalam melestarikan lingkungan.

          Pelestarian lingkungan tentunya tidak hanya menjadi tanggungjawab pemerintah saja melainkan semua lapisan masyarakat. Namun realita yang ada menunjukkan keprihatinan karena kurangnya kesadaran masyarakat terutama kaum muda. Hal ini disebabkan oleh kurangnya penyebaran informasi dari para terdahulu dan keturunan mengenai nilai-nilai kearifan lokal terhadap generasi selanjutnya. Penyebaran informasi dari satu pihak ke pihak lain kini menjadi lebih mudah dibandingkan era sebelumnya yang belum memiliki kecanggihan teknologi seperti saat ini.

          Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi yang semakin maju dapat menjadi alat komunikasi yang cepat dan mudah sehingga informasi  mengenai nilai-nilai kearifan lokal dapat tersampaikan. Sarana tersebut bermanfaat sebagai media komunikasi yang bisa menjangkau seluruh lapisan masyarakat, yaitu berupa pemberitaan. Hal ini telah banyak dipraktekkan untuk membuat kaum muda melek terhadap nilai-nilai kearifan lokal terutama pelestarian alam dan lingkungan. Contohnya berita mengenai peristiwa melelehnya gletser es di kutub utara dan selatan bumi. Informasi tersebut tersebar melalui pesan-pesan atau status di akun media sosial yang kurang meyakinkan dan bisa saja hanya menjadi hoax.

          Media massa di sini berperan penting dalam menjadi sumber informasi yang utama bagi sebagian orang untuk berkontribusi dan menyalurkan pesan mengenai lingkungan bagi masyarakat luas. Hal ini dapat dilihat dari beberapa film dokumentar yang tayang di bioskop, televisi berbayar, media online, surat kabar, majalah, iklan ataupun channel lainnya, seperti National Geographic yang mengangkat isu lingkungan. Kemudahan mengakses dan diterpa informasi melalui berbagai media, membuka kesempatan yang luas bagi masyarakat dalam mengkritisi suatu isu atau informasi. Terlebih, hal-hal yang berkaitan dengan aktivitas keseharian dan perubahan alam akan memperkuat topik mengenai komunikasi lingkungan juga manusia sebagai pelakunya.

          Komunikasi memberi kontribusi yang penting dalam memunculkan isu-isu, maupun solusi dan inovasi agar dapat diketahui banyak orang. Seluruh warga masyarakat berpeluang untuk terlibat secara langsung dalam memberikan sumbangsih mengenai masalah lingkungan. Masyarakat memiliki kebebasan dan sarana yang luas dalam menyampaikan solusi yang dituangkan melalui tulisan-tulisan di media massa. Media menjadi alternatif yang tepat untuk menyadarkan masyarakat agar peduli terhadap lingkungan sekitar. Hal ini karena era modern yang semakin maju saat ini menyebabkan alam semakin tereksploitasi dan kebutuhan manusia terus bertambah secara global sehingga merusak tatanan ekosistem alam.

          Penyebaran berita melalui televisi, koran, dan radio menjadi salah satu cara untuk menyebarkan informasi mengenai lingkungan. Ini dikarenakan berita yang sudah menjadi konsumsi sehari-hari oleh masyarakat memiliki dampak yang cukup besar dalam membentuk pandangan masyarakat. Isu yang diberitakan melalui media massa dapat menjadi perhatian publik untuk dibicarakan. Selain itu, isu yang ada tersebut juga turut mempengaruhi kebijakan yang nantinya akan dibuat oleh pemerintah.

          Peneliti menggunakan Agenda Setting Theory untuk menjelaskan pemahaman tersebut. Agenda Setting Theory berasumsi bahwa media mampu mempengaruhi persepsi khalayak tentang suatu isu yang dianggap penting oleh khalayak. Agenda publik dapat diangkat oleh media untuk menjadi sebuah agenda media. Begitupun sebaliknya, agenda media bisa menjadi agenda publik karena menarik untuk diperbincangkan. Agenda publik tersebut yang akhirnya menjadi pertimbangan bagi pemerintah dalam pembuatan agenda kebijakan.  

          Penelitian ini mengangkat satu realita yang terjadi di wilayah Kabupaten Bandung. Masyarakat Sunda yang masih memegang teguh warisan adat istiadat leluhurnya  mencoba mengekspresikannya melalui pagelaran budaya "Nyacar Lembur". Pagelaran "Nyacar Lembur" merupakan tradisi yang dilakukan dalam mengomunikasikan pelestarian lingkungan melalui komunikasi massa tradisional. Komunikasi tersebut diselenggarakan dalam bentuk pagelaran seni teater dan seni tari yang dilaksanakan di Air Terjun Batu Templek Kampung Lebak Cisanggarung Desa Cikadut Kabupaten Bandung.

          Penelitian menjelaskan bahwa pagelaran budaya yang bersifat tradisional tidak hanya bisa diwujudkan melalui pementasan secara langsung. Adanya perkembangan media massa dapat digunakan untuk menambah wawasan masyarakat terhadap budaya lokal. Peneliti menggunakan studi pustaka dalam menganalisis pemberitaan "Nyacar Lembur" di media massa Pikiran Rakyat edisi 9 Mei 2017. Pemberitaan tersebut terbukti dapat menginspirasi para pembaca karena dianggap unik, menarik, dan penting untuk disimak. Terutama di era yang semakin modern saat ini, budaya lokal menjadi semakin langkah untuk dipentaskan karena adanya pergeseran kehidupan masyarakat. Dengan demikian, berita mengenai budaya lokal dapat menjadi pertimbangan bagi masyarakat dan pemerintah agar lebih memperhatikan potensi budaya lokal.



Daftar Pustaka

Nugraha, A, R.,  & Bakti, I. (2017). Komunikasi lingkungan pada budaya priyangan "Nyacar Lembur". Developing Knowledge Community: Quintuple Helix and Beyond.Comicos 2017, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Atma Jaya Yogyakarta, 357-376.