PILIHAN

Kalah 5-1 dari Bayern Muenchen, Fans Arsenal: Enough is enough, Wenger

16 Februari 2017 06:58:58 Diperbarui: 16 Februari 2017 22:31:59 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :
Kalah 5-1 dari Bayern Muenchen, Fans Arsenal: Enough is enough, Wenger
Thomas Mueller merayakan gol kelima Bayern yang dicetaknya, sekaligus memungkasi pembantaian Bayern 5-1 atas Arsenal pada laga first leg babak 16 besar Liga Champions pagi ini di Aliianz Arena. Sumber Foto : Reuters, Kamis 16 Februari 2017 (Michaela Rehle)

Para penggemar setia Arsenal mesti bersiap kembali rela melihat klub kesayangannya gagal lolos dari babak 16 besar Liga Champions musim ini, setelah pagi ini serdadu London Utara dihabisi oleh penguasa Bavaria Bayern Munich dengan skor telak 5-1 di Allianz Arena. Arsenal dituntut untuk dapat menang 4-0 pada laga leg kedua pada bulan Maret nanti, sesuatu yang tidak mustahil sekaligus merupakan mission impossible yang harus mampu dituntaskan pasukan Arsene Wenger, jika tidak ingin mengecewakan fans setia Meriam London setelah 7 musim bertutut-turut selalu mentok pada fase yang sama. 

Kekalahan telak ini sekaligus mengulangi capaian Arsenal yang selalu menuai hasil buruk kala melawan Bayern, dimana pada musim sebelumnya Arsenal juga dibantai Bayern 6-1 di Allianz Arena dalam pertandingan fase grup, dan dalam dua edisi sebelumnya secara repetitif dieliminasi Bayern (juga) di fase yang sama dengan pertandingan pagi ini, yakni fase knock-out. Tekanan untuk seorang Arsene Wenger untuk segera meninggalkan posnya pun tak pelak kembali menguat.

Arsenal sejatinya mengawali laga dengan baik dan determinasi tinggi dengan menerapkan garis pertahanan tinggi di awal laga untuk mencoba mengambil inisiatif laga dari penguasaan Bayern. Arsenal menggunakan formasi pakem 4-2-3-1 dengan menempatkan beberapa perubahan seperti David Ospina si bawah mistar yang menyubstitusi peran reguler Petr Cech, 

Kieran Gibbs yang menggantikan pos jaga Nacho Monreal pada posisi bek kiri, dan Granit Xhaka yang kembali dipercaya mengisi double pivot Arsenal di depan kuartet bek Arsenal bergandengan dengan Francis Coquelin. Alex Chamberlain juga terdaftar dalam starting 11 namun kali ini bertindak sebagai winger kanan setelah pada dua laga sebelumnya ditempatkan sebagai gelandang tengah, dan Alexis Sanchez mengisi kembali pos nomor 9 The Gunners.

Sedangkan Bayern Munchen sendiri, yang bermain tanpa Franck Ribery, tetap memainkan pasukan terbaiknya dengan pakem 4-2-1-3. Minus seorang Thomas Mueller yang duduk di bangku cadangan, Bayern tetap memainkan trisula Douglas Costa-Robert (Lewy) Lewandowski-Arjen Robben yang ditopang Thiago Alcantara sebagai seorang gelandang serang utama, dengan ditemaini duo penyeimbang Arturo Vidal dan Xabi Alonso di belakangnya. Kuartet lini belakang reguler Bayern tidak berubah dengan komposisi David Alaba-Javi Martinez-Matt Hummels-Philip Lahm, dan seorang Manuel Neuer sebagai palang terakhir prajurit Bavaria.

Lima menit pertandingan dimulai, Arsenal yang mencoba menerapkan garis pertahanan tinggi mulai mundur perlahan, akibat kuatnya upaya membangun ball possession yang mulai disusun Bayern. Situasi ini ditunjang dengan mulai merangseknya dua sayap Bayern yakni Costa dan Robben ke dalam garis pertahanan Arsenal, dengan dibantu oleh dua bek sayap mereka yakni masing-masing di sisi kiri David Alaba dan Lahm di sisi kanan. 

Baik kecepatan Costa dan Robben sedikit demi sedikit mulai berhasil mengelupas pertahanan Arsenal yang memulai laga dengan sangat berhati-hati. Pada menit ke-11 ancaman Bayern membuat Arsenal menuai petaka pertamanya setelah akselerasi Robben yang lolos dari kawalan Francis Coquelin yang terlambat, diteruskan dengan tendangan plessing khas Robben via kaki kiri yang merupakan spesifikasinya, meluncur deras menuju pojok kanan gawang Arsenal di luar jangkauan tangan David Ospina. Bayern memimpin skor dengan 1-0.

Kebobolan satu gol, langsung direspons Arsenal yang tampak determinan untuk menghindari memori kelam mereka pada kunjungan kali kesekian di Munich. Arsenal mulai menemukan bentuk permainan aslinya, yakni one-two touch pass yang menjadi ciri khasnya, dengan memanfaatkan kecepatan Chamberlain maupun Sanchez yang mengincar area sisi tengah pertahanan Bayern yang dikawal para pemain bertubuh tinggi yang terlihat sering agak keteteran menghadapi akselerasi seperti Javi Martinez. 

Upaya solo run Sanchez yang berhasil menusuk sisi tengah Bayern dengan paksa dijatuhkan oleh Mats Hummels pada 20 meter di depan kotak penalti Manuel Neuer. Mats Hummels langsung diganjar kartu kuning, sedang Arsenal mendapatkan hadiah tendangan bebas yang dihadapi oleh sesama kolega Neuer di timnas Jerman, Mesut Ozil. Ozil langsung mengambil tendangan bebas tersebut dan "Bam!" secara deras meluncur ke arah Neuer namun sayangnya dapat diantisipasi oleh kiper timnas Jerman tersebut. Bola sempat memantul ke arah kerumunan pemain kedua tim namun wasit segera meniup tanda offside untuk salah seorang pemain Arsenal.

Insiden tendangan bebas Ozil yang merupakan ancaman pertama Arsenal ke gawang Bayern rupanya melecut semangat para penggawa Arsenal lainnya. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, Koscielny yang berupaya merangsek ke depan ditabrak oleh Robert (Lewy) Lewandowski yang nampaknya terlalu fokus membuang bola sehingga tidak melihat datangnya Koscielny. Penalti! 

Pemain Bayern sempat memprotes keras keputusan tersebut namun wasit Milorad Mazic tetap bersikukuh pada keputusannya. Sanchez yang menjadi algojo penalti bersiap dan "Bam! tendangannya di blok Manuel Neuer!, bola muntah ke arah Sanchez yang berusaha disambar dengan tendangan voli namun gagal, Sanchez mencoba sekali lagi dengan melakukan kontrol dada sebelum melepaskan tendangan kali ketiga ke arah gawang. Dan Gol! 1-1 dan pada waktu yang menunjukkan menit ke-30, Arsenal menyamakan kedudukan di Munich. Neuer tampak kesal kali ini karena sebenarnya telah menepis penalti Sanchez dengan heroik, namun keterlambatan rekan-rekannya menutup ruang kosong di gawang Bayern membuatnya harus kebobolan secara sepele. Bayern juga kecolongan gol away.

Gol Sanchez makin memantik kobaran semangat penggawa Arsenal yang kali ini nampak mulai konfiden pada 10 menit akhir jelang babak pertama usai. Peluang demi peluang terus dicetak, seperti halnya peluang emas yang diperoleh lewat tendangan voli Granit Xhaka menit ke-40 yang mengarah tepat ke pelukan seorang Neuer. Mengakhiri proses serangan balik cepat yang diinisiasi oleh Mesut Ozil-Sanchez, yang didukung oleh eksplosivitas Alex Chamberlain lewat sisi kanan. 

Bayern pun bukannya tanpa peluang, beberapa menit setelah peluang Xhaka, Alaba yang berhasil lolos menerobos masuk sedikit di luar kotak penalti Arsenal melepaskan umpan silang yang menyentuh tangan dari seorang Hector Bellerin, mengundang argumen kuat terjadi handsball oleh Bellerin dari para pemain Bayern. Namun sekali lagi, wasit tidak bergeming dan kedudukan sama kuat sampai babak pertama usai.

Babak kedua pun akhirnya dibuka kembali oleh Mazic, Bayern Munich yang penasaran kembali mencoba mengambil alih serangan. Pada suatu insiden, kaki seorang Laurent Koscielny, seorang sosok sentral pertahanan Arsenal terindikasi tertarik dan Kos terpaksa diganti keluar oleh Wenger. Seorang Gabriel Paulista masuk menggantikan posisi sentral kos bertandem dengan Mustafi di lini belakang. Keluarnya Kos, menjadi pertanda dimulainya kiamat bagi Arsenal di Allianz Arena. 

Tak berselang jauh dari insiden tersebut, sebuah serangan balik bayern memanfaatkan serangan Arsenal yang gagal berhasil membawa bola ke sisi kiri pertahanan Arsenal yang dikawal Gibbs. Phillip Lahm yang sangat rajin mencecar daerah tersebut berhasil lepas dari Gibbs dan langsung melepaskan sebuah crossing brilian ke belakang pertahanan Arsenal. Rupanya, seorang Lewy sudah menanti dan tanpa kesulitan langsung mengalahkan Mustafi dalam lompatan duel udara, menyundul bola ke arah kanan bawah gawang Ospina. 

Ospina yang rupanya salah mengambil penempatan posisi, tak mampu untuk menjangkau bola dan Gol! Gol kedua untuk Bayern akhirnya tercipta, sekaligus menjadi penebus kesalahan Lewy yang berakibat penalti. Gol tersebut tercipta pada menit ke-53, mengawali bencana katastrofik Arsenal selepas keluarnya Kos berganti oleh Gabriel. Yang rupanya kerjasama pemain ini dengan Mustafi masih sangat buruk.

Bayern Munich yang berada dalam konfidensinya kembali setelah merestorasi keunggulan via Lewy, kembali terus melakukan serangan tujuh hari tujuh malam ( mengutip istilah populer Bung Ahay) meneror gawang Arsenal. Permainan umpan-umpan pendek mereka semakin padu dan ciamik, sedangkan Arsenal selepas keluarnya Kos tampak kacau dalam menyusun benteng pertahanannya dari bawah. Sebuah skema serangan yang tertata apik beberapa menit usai gol Lewy, menempatkan Lewy merangsek berhadapan dengan dua bek tengah Arsenal, Mustafi dan Gabriel. Lewy dengan cerdik melihat pergerakan seorang Thiago yang berlari dari belakang. 

Dengan sebuah backheel manis, Lewy mengecoh Mustafi sekaligus Gabriel yang kali ini salah melakukan penempatan posisi, yang dalam waktu singkat langsung berhadapan 1 on 1 dengan Ospina. Dengan tenang, Thiago yang merupakan lulusan Barcelona mengirim bola ke arah sudut kanan bawah gawang Ospina. Sebuah finishing yang cool dan tentu saja, Gol! Bayern memimpin 3-1, para pemain Arsenal mulai panik dan Wenger mulai gusar. Mustafi bahkan sampai meneriaki rekannya sendiri karena kinerja defensif mereka yang sangat payah selepas keluarnya Kos.

Paniknya Arsenal makin membuat pemain-pemain mereka sering melakukan pelanggaran tidak perlu yang berbuah peluang demi peluang berbahaya untuk Bayern. Permainan impresif Robben dan Costa yang ditemani oleh Alaba dan Lahm juga patut diacungi jempol sebagai aktor penting agresor Munich atas pertahanan Arsenal. Kepanikan yang ditandai oleh pelanggaran keras nan tidak perlu Xhaka pada menit ke-60 sebagai bentuk frustrasi, crossing Robert Lewandowski yang membentur mistar pada menit ke-62 dan diteruskan upaya follow-up Arjen Robben yang berbuah tendangan sudut yang diprotes Robben sebagai handsball seorang Kieran Gibbs. 

Tendangan sudut ini berhasil dimanfaatkan oleh Javi Martinez yang langsung menyundul bola dengan tanpa ampun ke gawang Ospina. "Dang!" namun dengan brilian Ospina melakukan penyelamatan point blank save!, yang berbuah tendangan sudut kembali untuk Munich. Tendangan sudut yang diambil kali ini berhasil menimbulkan kemelut, bola jatuh di kaki Thiago memanfaatkan kesalahan clearance Coquelin yang lagi-lagi bermain tak maksimal. "Boom! tendangan Thiago membentur salah seorang pemain Arsenal dan memantul ke arah Ospina yang kembali gagal melakukan antisipasi. 

Bola memantul deras, belum melewati garis gawang, hingga akhirnya dengan tak terelakkan membentur kaki Ospina yang terlanjur menjatuhkan diri ke kiri dan "Gol!", Ospina dalam rentang waktu yang sebentar memungut tiga gol dari gawangnya. Tiga gol, hanya dalam waktu sebelas menit! Arsenal di ambang kehancuran pada laga ini.

Wenger, yang tak mempunyai pilihan lain akhirnya memasukkan Theo Walcott menggantikan pemain yang nampak masih demam panggung lantaran usia yang masih sangat muda dan minim pengalaman Eropa, Alex Iwobi. masuknya Walcott pun terhitung terlambat karena moril pemain Arsenal kini sudah dalam keadaan turun dan berantakan sehingga mereka selalu sulit membangun serangan. 

Sebaliknya Bayern terus membangun serangan dari kaki ke kaki, membuat pemain Arsenal yang dituntut untuk bisa memperkecil beban lewat gol away sedikit demi sedikit kehabisan stamina. Menyadari timnya masih buntu, Wenger pun memasukkan Olivier Giroud menggantikan Coquelin yang berperan besar dalam dua kali kebobolan Arsenal, dengan harapan masuknya sang striker Prancis mampu mencetak gol konsolasi sekaligus membangkitkan moril pasukan London Utara. Namun apa daya, Oli juga tak mampu menemukan ruang sebab permainan Arsenal yang makin loyo setelah kebobolan. 

Para pemain pun tak lagi berlari dan sering melakukan miskomunikasi akibat konfidensi yang mulai jatuh. Aksi Chamberlain pada menit ke -88 yang melakukan dribbling dari bawah pertahanan Arsenal, justru berhasil direbut oleh Joshua Kimmich yang langsung mengopernya pada Thiago, Thiago dengan brilian langsung mengecoh Mustafi sebelum memberikan umpan datar kepada Thomas Mueller yang berdiri sejajar. Mueller yang tak langsung menembak, mengecoh terlebih dahulu Gabriel dengan simpel, sebelum melepaskan tendangan mendatar kaki kiri yang mengecoh Ospina sekaligus mengantar Bayern unggul telak 5-1. Arsenal kini benar-benar dilumat, sedang Wenger dengan tatapan nanar berusaha tegar melihat anak asuhnya. 

Yang turut menyisakan pertanyaan sebab Wenger tak sekalipun pernah berdiri di sentelban pada satu momen pun sepanjang laga, saat anak asuhnya dengan tragis kebobolan lima kali dan tanpa ampun dihabisi. Game pun berakhir untuk Arsenal bersamaan dengan gol Mueller, dan Bayern sampai akhir laga tetap unggul telak 5-1, mempertahankan tradisi mereka kala bersua London Merah. Keluarnya Koscielny, merubah segalanya bagi mereka.

Hasil ini tak diragukan lagi, akan terasa menyesakkan bagi Arsenal. Bagaimana tidak, pada babak pertama mereka bermain cukup baik, bahkan menumbuhkan harapan untuk dapat merusak tradisi Bayern yang tampak selalu senang pada edisi sebelumnya menjadikan mereka sebagai santapan. Liga Champions juga menjadi ajang bagi Arsenal merajut asa setelah tertinggal jauh dalam pacuan gelar Premier League dan kejenuhan mereka akan prospek di Piala FA yang notabene telah mereka rajai dua kali dalam tiga musim terakhir. 

Sayang, hasil akhir yang cukup telak ini menjadikan harapan yang dirajut Arsenal, agaknya pupus kembali bagai peribahasa "jauh panggang dari api". Bukan tidak mungkin, namun defisit empat gol yang harus dicetak melawan Bayern bukan pekerjaan mudah, walaupun bermain di kandang, Emirates, melawan Bayern Arsenal lebih sering inferior. Dalam dua pertemuan fase knock-out sebelumnya, di Emirates Arsenal selalu keok di depan fansnya sendiri. 

Selain faktor teknis yang dapat dilihat kembali kali ini pada pertandingan tadi, mentalitas pemain Arsenal yang tampak belum dewasa, serta tak adanya determinasi lagi setelah kebobolan gol ketiga. (Mesut Ozil bahkan dalam analisa saya tak pernah turun jauh berlari sampai ke belakang, hingga seorang Sanchez terlihat kesal dan beberapa kali memberinya (dan pemain Arsenal lainnya) kode untuk berlari karena minimnya determinasi dan semangat untuk menang pemain Arsenal dalam laga tadi, terutama terlihat jelas pada babak kedua. 

Setelah itu, keseganan Wenger untuk memberi semangat anak asuhnya saat dibantai di pinggir lapangan (sentelban) bahkan tak terlhat sama sekali pada laga tadi, alih-alih Wenger justru menerapkan respons yang terlambat untuk pergantian pemain Arsenal yang sama sekali buntu dan kehabisan ide pada babak kedua. Memperpanjang capaian kelabu Arsenal pada musim ini, dan tentunya secara akumulatif, pada satu dekade terakhir. Dan yang paling penting, hasil ini telah menunjukkan seberapa besar urgensi, bahwa kali ini mungkin dinasti Wenger di Arsenal, sudah selayaknya untuk berhenti. 

Dan, Arsenal sepatutnya malu, bahwa tim semenjana seperti Mainz dan Koln yang notabene tim lokal Liga Jerman yang dikuasai bertahun-tahun oleh Bayern, bahkan mampu menahan Munich di Aliianz Arena. Jadi bagaimana dengan hasil terbaru ini Monsigneur Wenger ? Masihkah anda tak segan dan tak malu untuk ngotot bertahan ? Hehe

Enough is enough. We love you but your time is up, Wenger!

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana