Gagah for Jateng

11 Mei 2013 14:52:01 Dibaca :

Walaupun aku bukan lagi warga Jawa Tengah, tetapi aku masih tetap peduli dengan daerah kelahiran dan sekolahku (SMP dan SMA). Apalagi dalam waktu dekat, Jateng akan menggelar Pilgub Jawa Tengah. Menurutku, posisi Jateng-1 merupakan posisi terpenting ketiga setelah Presiden dan Gubernur Jakarta di Republik Indonesia ini.

Jawa Tengah merupakan hotspot. Jateng merupakan barometer nasional. Banyak yang bersinarmo ncer di panggung nasional ketika berkiprah di Provinsi yang berada di tengah Pulau Jawa ini. Laiknya episentrum, maka di sinilah kawah candradimuka pembentukan insan-insan unggul yang kemudian disebar ke seluruh Nusantara, bahkan hingga mancanegara.

Daerah dengan basis abangan, meminjam istilah Geertz, yang unik ini sangat sulit ditebak. Bila Jawa Barat lebih dominan putihannya, lagi-lagi meminjam Geertz, dan Jawa Timur lebih dominan NU-nya, maka Jateng itu kabur alias tidak jelas. Jateng itu bisa abangan, bisa putihan. Bisa Muhammadiyah bisa NU. Artinya pula, warga Jateng itu adaptif, mudah menyesuaikan.

Hal itu karena sejarah panjang yang membentuk masyarakat Jawa Tengah sedemikian unik. Kerajaan-kerajaan Nusantara lahir, berkembang, atau besar di Central Java ini. Kerajaan tersebut di antaranya Mataram Hindu, Kalingga, Demak Bintara, Pajang, Mataram Islam, dan kini masih ada Kasunan Surakarta Hadiningrat dan Pura Mangkunegara. Dan mungkin masih ada kerajaan lainnya.

++

Selama perjalanan dari Jogja hingga Semarang, kemudian ke Kendal hingga Cilacap, aku melihat spanduk, baliho, dan umbul-umbul Ganjar Pranowo dan Heru lebih dominan ketimbang kandidat lainnya. Memang Jateng lebih dikenal sebagai basisnya PDIP, basisnya banteng. Mayoritas bupati merupakan jagoan atau kader banteng. Gubernur sebelumnya, yakni Bibit Waluyo yang didampingi kader PDIP Rustriningsih pun sebenarnya dahulu kali pertama menjabat menang setelah didukung banteng. Namun pada kali ini Rustriningsih tersingkir walaupun sempat akan digadang-gadang jadi kandididat Jateng-1. Bibit sendiri memilih didukung parpol selain PDIP.

Apakah kuantitas spanduk, baliho, dan umbul-umbul itu pertanda GP akan melenggang jadi Jateng-1? Ataukah GP dan Heru yang berslogan GAGAH akan kalah dalam pertarungan melawan Bibit-Sudijono (BISSA) dan Hadi Prabowo-don Murdono (HP-DON)?

Entahlah... Namun aku pribadi lebih suka GP menjadi Gubernur Jawa Tengah. GP itu humble, gagah, cerdas, muda, energik, orator, dll. Serba menang dibandingkan dengan kandidat lainnya dehh....

GP for Jateng-1!!! GAGAH for Jateng!!!

Banyu Wijaya

/banyuwijaya

#nusantaraindonesiatrulyuniversa
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?