Ahok Boleh Menafsirkan Al-Qur'an, Saya Juga Boleh Menafsirkan Tafsiran Ahok

23 September 2016 23:58:26 Diperbarui: 24 September 2016 01:16:50 Dibaca : Komentar : Nilai :

Pengantar

Supaya kita proporsional dalam menilai sebuah tulisan, saya merasa perlu membuat pengantar ini. Tulisan ini secara umum diperuntukan buat ineteren umat islam. Jadi bagi Anda yang non muslim bukan tidak boleh membaca, silakan saja, tapi jangan dihubungkan dengan syariat agama Anda atau konstitusi negara kita, bakalan nggak nyambung.

 Kita sudah membuktikan, ajaran Islam bisa berjalan beriringan di relnya masing-masing dengan ajaran agama lain dan perundangan negera ini. Misalnya, soal keharaman memakan daging babi yang sudah sangat jelas tertulis di AlQur’an. Negara tidak melarang perdagangan daging babi selama memenuhi aturan yang berlaku, dan  orang yang agamanya tidak melarang berjualan dan memakan daging babi juga bebas berjualan dan memakan daging babi. Sampai sekarang tidak ada masalah kan? Persoalan akan muncul jika misalnya ada yang merasa tersinggung dan menggugat karena kesukaannya memakan daging babi dibilang haram oleh umat lain. Atau seperti yang terjadi baru baru ini  ada ormas islam yang melarang penjualan daging anjing

  Bagi bapak-bapak dan Ibu-ibu dari kepolisian yang ditugaskan memantau medsos selama dua puluh empat jam selama Pilkada, semoga tetap sehat walafiat, selalu jaga kesehatan terutama kesehatan mata. Tenang saja, tulisan ini tidak bermaksud memprovokasi, apalagi bersinggungan dengan SARA, itu bukan tipe saya. Saya hanya ingin mengeluarkan unek unek saya secara proporsional

 Saya mau bercerita sedikit. Jelek-jelek gini saya dulu juga sering menulis puisi. Jika sebuah puisi akan lahir, waduuuh gelisahnya tak terkira, nggak enak makan, nggak enak tidur. Setelah puisi itu berhasil lahir dengan selamat, barulah terasa lega. Sama dengan hobi menulis essay ini. Rasanya lega banget sudah menulis opini pribadi ini

 Jadi, rileks saja, bisa baca sambil minum atau makan sesuatu. Saya iri lho sama tugas bapak dan ibu. Memantau medsos selama dua puluh empat jam tentu akan mendapatkan banyak ilmu tanpa khawatir kehabisan kuota internet karena sudah ditanggung oleh negara. Lha saya menulis essay ini, nggak dapat duit, kuota internet bayar sendiri. Hehehehe becanda ya,Pak.

 

 Kalau Ahok Boleh Manafsirkan Al-Qur’an, saya Juga Boleh Dong Manafsirkan Tafsiran Ahok?

Ahok memang tidak takut pada siapa saja dan apa saja, dia cuma takut pada surah Almaidah ayat 51. Makanya dia berpesan khusus, “  lawan ide kami, jangan lawan saya dengan surah Al Maidah ayat 51,” katanya pada sejumlah wartawan. Sebagai mana kita ketahui, surah Al Maidah ayat 51 adalah larangan muslim mengangkat kaum yahudi dan nashrani menjadi auliya, pemimpin.  Entah siapa yang membisikinya. Pernyataan itu malah bisa menjadi kontra produktif

Pertama, larangan umat islam memilih pemimpin non muslim bukan hanya terdapat dalam surah Al Maidah 51 saja. Sekurangnya terdapat juga di surah Al Maidah ayat 57,  surah Ali Imran ayat 28, surah Annisa ayat,144  surah Attaubah ayat 23. Logika sederhananya, kalau Ahok  secara spesifik hanya melarang menggunakan surah Al Maidah ayat 51 untuk melawannya, maka berarti boleh melawannya dengan surah-surah lain seperi tersebut di atas

Kedua, Kalau yang dimaksud adalah surah Al Maidah ayat 51 termasuk  juga ayat-ayat  yang berhubungan, pertanyaan berikutnya, bagaimana kalau menggunakan kitab suci lain selain Al Qur’an. Misalnya digunakan untuk mendudkung Ahok.  Boleh?  Fakta membuktikan, tuduhan SARA hanya ditujukan kepada umat yang berada di satu rumah ibadah, menolak petahana. Tapi umat yang berada di rumah ibadah lain  mendukung petahana tidak disebut SARA. Jadi, apakah SARA itu kalau hanya menolak? Kalau mendukung bukan SARA? 

Ketiga, menunjukkan keyakinan Ahok pada isi ayat ini, padahal saking luasnya makna kata “auliya” pada surah itu, dan juga asbabnunnuzul surah itu, masih terdapat  sedikit selisih pendapat diantara para ulama. Secara umum bisa dibagi tiga

1. Pelarangan memilih non muslim sebagai pemimpin tanpa syarat

Seperti terbaca  dalam tafsir Ibnu Katsir, dan rekomendasi ( bukan fatwa ) Majelis Ulama Indonesi

2. Pelarangan memilih non muslim sebagai pemimpin dengan kategori tertentu

Seperti terbaca dalam kajian PKS yang disebutnya sebagai “Rukyah Syamilah. “  kajian parpol berbasis Islam ini, pelarangan itu dibagi dalam tiga kategori. 1. Kepemimpinan Umum (Wilayatul ‘Aamah) & Posisi yang mempunyai Nilai Keagamaan Strategis. 2. Kepemimpinan Strategis Lainnya (Wazho’if Qiyadiyah ) 3.  Kepemimpinan Teknis dan Skill Umum tertentu (Wilayat Madaniyah.)

Kategori nomor 2 inilah yang menjadi dasar PKS tahun 2010 mendukung Jokowi (Muslim ) sebagai walikota  dan FX Rudyatmo ( non muslim ) sebagai wakil walikota. PKS berpendapat wakil walikota bukanlah masuk kepemimpinan strategis, karena tidak bisa mengambil keputusan startegis. Walaupun “ Rukyah Syamilah” itu hanya memberi satu contoh, tafsiran saya yang juga tidak masuk kategori kepemimpinan strategis dalam konteks DKI Jakarta adalah wakil Gubernur, walikota,camat, dan lurah. Kalau pengangkatan lurah Susan yang non mulsim dulu dipersoalkan, mungkin yang mempersoalkan  sependapat dengan poin nomor 

3. Membolehkan memilih  pemimpin non muslim dalam keadaan dan situasi tertentu
Seperti terbaca dalam  yang disebut Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya PBNU, Rumadi Ahmad  sebagai Fatwa NU tahun 1999. Dalam fatwa itu dijelaskan bahwa boleh memilih pemimpin non-Muslim jika pertama memang tidak ada orang Islam yang mampu memimpin. Kedua, ada calon beragama Islam, tetapi karena dikhawatirkan berkhianat, boleh memilih alternatifnya yang non-Muslim. Setelah panjang lebar membahas makna “auliya” M Quraish Shihab dalam Tafsir Al Misbah juga punya kesimpulan yang kurang lebih sama dengan NU.

 Tapi kalau kita perhatikan dengan seksama, walaupun premisnya berbeda, tapi intinya sama dengan nomor 1 dan nomor 2. Apakah kondisi sekarang ini, ada orang Islam yang tidak mampu memimpin? Kalau soal dikhawatirkan berhianat itu kan subyektif.

Bahwa konstutisi tidak melarang non muslim menjadi pemimpin, ya memang harus begitu. Sebagai warga negara ya harus taat konstitusi. Tapi sebagai muslim juga harus  beriman pada kitab sucinya. Jadi wacana pemimpin muslim adalah bukan ingin merubah konstitusi. Terlalu jauh penafsiran itu. Konstutisi kan baru seumur jagung, surah Al Maidah ayat 51 sudah ada ribuan tahun silam

Tugas ulama  adalah mengingatkan umat, soal umat mau ikut imbauan  atau tidak, ya tergantung pribadi masing-masing, dan resiko juga ditanggung masing-masing. Bukankah Pilkada itu langsung umum dan rahasia?  Siapa yang tahu alasan  masing-masing pemilih di balik bilik suara ketika dia memilih calon gubernur pilihannya? 

Jika ada yang tidak berkenan dengan tulisan in iya mohon maaf. Kalau Ahok boleh manafsirkan surah Al Maidah ayat 51 yang disebut Ahok sebagai ayat hanya untuk zaman nabi, dan era khalifah  sebelum datangnya demokrasi. Lho, bukannya demokrasi lahir berabad sebelum Masehi?  Jauh sebelum nabi Muhammad lahir? Demos dan Kratos berasal dari bahasa apa? Sejak tahun berapa?

Jika ada yang tidak berkenan, mohon maaf sekali lagi. Jika Ahok boleh menafsirkan Al Qur’an, masa saya tidak boleh merangkum tafsiran Al Qur’an. Orang Betawi bilang, " Lu Jual gue beli."

 23092016

Balya Nur

/balyanur

TERVERIFIKASI

yang penting menulis, menulis,menulis. balyanurmd.wordpress.com ceritamargadewa.wordpress.com bbetawi.blogspot.com
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.
Featured Article