Wong jowo kok ra njawani

08 Juli 2012 15:49:28 Dibaca :

ihii ihii post pertama, setelah sekian lama mendaftar dan banyak kesibukan(kemalasan) untuk menulis, akhirnya kesampaian juga untuk menulis.


Saat rapat bersama para pinisepuh maupun sesepuh, mereka sering mengeluhkan perkembangan budaya jawa yang cenderung menurun, terutama pada generasi penerus bangsa. Pelajaran bahasa jawa boleh dibilang pelajaran membosankan, saya pun mengalami sendiri bagaimana saya selalu tidur ataupun tidak memperhatikan pelajaran bahasa jawa. Pelajaran cenderung membosankan dan monoton, selain itu minat untuk belajar bahasa jawa masih minim. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa dalam budaya jawa ini tertanam sebuah nilai nilai luhur yang belum saya ketahui, bagaimana cara unggah ungguh maupun berbicara terhadap orang lain.


Disaat khutbah penceramah menggunakan bahasa jawa, bahasa krama tentunya, dan sayapun mulai mengantuk( ga ngerti, belum). nah mulailah saya merasa bodoh dan bersalah, saya ini pure jawa besar di jawa, boso kromo wae we rangerti, "juk sesuk pie nek boso jowo ilang, budaya jowo ilang, sopo meneh le arep nglestarekke nek dudu awakdwe, moso yo ameh lo gue ro simbah, lak yo rasopan"*jleb. Lha wong orang luar saja pada tertarik dengan budaya jawa, masa kita sendiri menganggap budaya jawa ini ketinggalan jaman.uhuk


Mulailah saya belajar(berusaha mendalami) akan budaya jawa, dan perjalanan mencari ilmu ini dimulai ketika melihat sebuah buku milik teman , "falsafah hidup orang jawa". Lha ini, kesempatan untuk belajar. saya browsing di internet(jaman modern) dan nemu.


Nah, dialam berfilosofi, orang Jawa seringkali menggunakan unen-unen(istilah - istilah)  untuk menata hidup manusia. Makna dari ungkapan-ungkapan Jawa ini seringkali tidak dipahami oleh sebagian besar keturunan etnis Jawa di era modern ini(yang ini saya banget). Maka tidak salah, jika muncul sebutan, "Wong Jowo sing ora njawani". Nek wong wong le komentar, wong jowo kok ra ngerti unggah ungguh ro toto kromo.


Filosofi Jawa dinilai sebagai hal yang kuno dan ketinggalan jaman. Padahal, filosofi leluhur tersebut berlaku terus sepanjang hidup. Warisan budaya pemikiran orang Jawa ini bahkan mampu menambah wawasan kebijaksanaan. dan dari hasil browsing


Berikut 10 dari sekian banyak falsafah yang menjadi pedoman hidup orang Jawa.


1. Urip Iku Urup


Hidup itu Nyala, Hidup itu hendaknya memberi manfaat bagi orang lain disekitar kita, semakin besar manfaat yang bisa kita berikan tentu akan lebih baik. Bahkan disebutkan juga sebaik baik diantara kamu adalah yang berguna bagi orang lain. Bukankah salah satu kebahagiaan itu adalah pada saat bisa menolong seseorang dengan ikhlas tanpa pamrih. Celaka juga apabila pada saat di suatu perkumpulan dan kita datang kemudian mendapat komentar, "wah kae teko neh, mesti ngko muk njaluk njaluk,nulungi we ratau isone muk ngrepoti( wah dia datang lagi, pasti nantinya cuma bakal minta minta, padahal menolong saja tidak pernah,bisanya cuma menyusahkan)". Namun sebaliknya, ketika kita senang menolong, baik hati, dan tidak sombong, maka kita akan mendapat opini baik di mata orang lain, bahkan selalu mendapat simpati, "weh koe teko, ayo ndene lingguh crito crito ndisik, pie kabare(wah dia datang, ayo sini duduk dulu cerita,gimana kabarnya)". Toh hidup cuma sekali, jadi buat apalah diisi dengan sesuatu yang aneh aneh, untuk senang senang saja lah, senang menolong, senang ibadah, senang sedekah, senang membantu,senang tidak maksiat hhehe. Sama sama senang kan ya


2. Memayu Hayuning Bawana, Ambrasta dur Hangkara


Manusia hidup di dunia harus mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan; serta memberantas sifat angkara murka, serakah dan tamak.  Hidup tenang itu ketika mendapat kebahagiaan, keselamatan dan kesejahteraan kan ya. Punya duit banyak tapi serakah jadi tidak pernah merasa aman, itu duit bukannya membuat senang tapi malah membuat kita merasa tidak aman dan kepikiran. Nek dicolong pie?nek dirampok? , nah lo!!, di agama juga diajarkan pentingnya berbagi dan tidak serakah kan, bahkan di SD punudah diajari. Tamak Murka, siapa juga yang senang dengan orang yang mudah marah, mau menang sendiri? jarang kan ya, bahkan jika digunakan aproksimasi bisa dikatakan ga ada yang mau. Wong kok nesunan, senang juga kan kalau lihat orang yang murah senyum, wajahnya cerah, sabar, segalanya enak dilihat, teladanilah Rasul hehe.


3. Sura Dira Jaya Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti


segala sifat keras hati, picik, angkara murka, hanya bisa dikalahkan dengan sikap bijak, lembut hati dan sabar. hampir sama dengan poin kedua sih. Bahkan banyak juga film yang mengangkat tema seperti ini, dimana sebuah kejahatan pasti akan kalah oleh kebenaran haha.


bersambung Insya Allah, harap maklum (newbie)


sumber : http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/kejawen/2011/09/27/554/10-Falsafah-Hidup-Orang-Jawa


dengan perubahan tentunya

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?