HIGHLIGHT

Mengenang Peristiwa Rengasdengklok: Soekarno Bukan Diculik, tapi Diamankan

15 Agustus 2011 22:14:25 Dibaca :
Mengenang Peristiwa Rengasdengklok: Soekarno Bukan Diculik, tapi Diamankan

Seringkali kita membaca dibeberapa buku pelajaran sejarah bahwa Soekarno dan Mohammad Hatta pada tanggal 16 Agustus 1945 diculik oleh golongan pemuda ke Rengasdengklok. Namun, setelah saya telusuri dalam buku “Detik-detik proklamasi” karangan Arifin Suryo Nugroho dan Ipong Jazimah yang saya beli tempo hari barulah saya mengerti bahwa Soekarno dan Hatta bukanlah diculik, melainkan dijauhkan dari pengaruh Jepang yang sudah kalah dari sekutu dalam perang pasifik.

Latief Hendraningrat, bekas cudanco PETA dan pengibar bendera proklamasi menuturkan pengalamannya menjelang hari proklamasi. “Sebenarnya mereka bukan diculik tetapi dijauhkan dari Jakarta, agar jangan dipengaruhi pimpinan militer dan pemerintahan Jepang”, Tuturnya.

Sementara menurut pengakuan mantan anggota PETA yang terlibat dalam peristiwa Rengasdengklok, Jusuf Kunto, Soekarno dan Hatta diamankan ke luar kota karena para pemuda dan PETA takut akan keselamatan kedua pemimpin bangsa itu. Kepada Achmad Soebardjo, Jusuf Kunto, disertai Pandu Kartawiguna dan Wikana mengatakan alasan mereka membawa Soekarno dan Hatta adalah “karena rasa kekhawatiran bahwa mereka akan dibunuh oleh pihak Angkatan Darat Jepang atau paling sedikitnya dipergunakan sebagai sandera kalau kerusuhan timbul, karena tentara PETA bermaksud akan melancarkan suatu demonstrasi besar. Adalah karena alasan –alasan keselamatan mengapa Soekarno dan Hatta dibawa keluar kota”.

Setelah saya membaca cerita dari awal sampai akhir pada topik bahasan Rengasdengklok pada buku tersebut, saya mendapat pengetahuan baru dari peristiwa Rengasdengklok. Meskipun ada kesan pemaksaan pada saat penjemputan Soekarno dan Hatta oleh para pemuda di rumah masing – masing, namun sejak perjalanan dari Jakarta sampai Rengasdengklok, Soekarno dan Hatta tidak diperlakukan seperti orang yang sedang diculik (tangan tak diikat dan mulut tidak dibekap dengan kain). Bahkan sampai di Rengasdengklok pun pada buku sejarah SMA terbitan Yudhistira karangan Prof. Dr. M. Habib Mustopo, para pemuda segan melakukan penekanan terhadap kedua proklamator ini, karena kewibawaan yang besar dari keduanya.

Sumber :

Nugroho, Arifin dan Jazimah. 2011. Detik – Detik Proklamasi : Saat-saat MenegangkanMenjelang Kemerdekaan Republik. Yogyakarta : Narasi

Mustopo, Habib. 2010. Sejarah Untuk SMA Kelas 3 Program IPS. Jakarta : Yudhistira

Asepsandro Del Irwan

/aswan11

TERVERIFIKASI (HIJAU)

=sedang belajar menulis= "Tujuh nomorku....Asepsandro namaku....." visit my blog : www.asepsandro.blogspot.com
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.
FOKUS TOPIK CERITA MERAH PUTIH

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?