Pascasarjana Seperti Gadis Cantik

15 Februari 2012 09:09:31 Dibaca :
Pascasarjana Seperti Gadis Cantik
Program Pascasarjana Seperti Gadis Cantik.

Sekolah Pascasarjana atau Program Pascasarjana di Indonesia berkembang bak cendawan di musim hujan. Kalau dulu, hanya universitas besar yang membuka program pascasarjana (PPs), kini sekolah tinggi kecil pun sudah banyak yang diberi izin membuka PPs, termasuk yang berdomisili di luar ibukota provinsi.

-------------------------

Pascasarjana Seperti Gadis Cantik

Oleh: Asnawin

Sekolah Pascasarjana atau Program Pascasarjana di Indonesia berkembang bak cendawan di musim hujan. Kalau dulu, hanya universitas besar yang membuka program pascasarjana (PPs), kini sekolah tinggi kecil pun sudah banyak yang diberi izin membuka PPs, termasuk yang berdomisili di luar ibukota provinsi.

Meskipun jumlahnya semakin banyak, ternyata jumlah mahasiswa yang mendaftar juga tidak berkurang. Jumlah peminatnya terus-menerus bertambah. Ya, tampaknya Program Pascasarjana kini sudah seperti gadis cantik, karena jumlah pelamarnya dari tahun ke tahun terus menerus mengalami peningkatan.

Tapi tunggu dulu! Siapa-siapa saja yang melamar masuk kuliah pascasarjana? Apa yang melatar-belakangi mereka sehingga ramai-ramai lanjut kuliah? Apakah sekadar ingin mendapatkan ijazah, untuk meningkatkan status sosial, ingin memburu jabatan, atau memang ingin menambah ilmu dan wawasan untuk peningkatan kualitas diri?

Bagaimana pula dengan kualitas proses perkuliahan pada Sekolah Pascasarjana atau Program Pascasarjana yang tersebar di berbagai kota dan kabupaten se-Indonesia itu? Bagaimana sarana dan prasarananya? Bagaimana kualitas dan kualifikasi dosen dan tenaga pengajarnya? Bagaimana proses seleksi penerimaan mabanya? Bagaimana proses ujian tesis atau disertasinya?

Banyak pertanyaan yang perlu diajukan dan sebaiknya dijawab oleh para pengelola pascasarjana. Sehubungan dengan itulah, kami mencoba menelusuri proses seleksi maba hingga ujian akhir mahasiswa pada salah satu Program Pascasarjana di Indonesia.

PPs Universitas Negeri Makassar

1329296460555494698
Direktur PPs UNM Prof Jasruddin. (Foto: Asnawin)

Progam Pascasarjana Univeristas Negeri Makassar (PPs UNM) kini bisa diibaratkan gadis cantik, karena jumlah calon mahasiswa baru yang mendaftar dari tahun ke tahun terus meningkat. Mereka berasal dari berbagai daerah di Indonesia dengan beragam latar belakang pendidikan dan  profesi.

Mengapa PPs UNM banyak peminatnya, padahal sekarang sudah banyak perguruan tinggi di Kota Makassar yang membuka program pascasarjana dan banyak program studinya yang sama?

Menurut Direktur Pps UNM Prof Dr Jasruddin MSi, besarnya minat masyarakat tersebut terutama disebabkan karena PPs UNM lahir pada waktu yang tepat, yaitu di saat ada aturan yang mendorong orang melanjutkan studi lanjut (S2 dan S3).

“Pertanyaannya, mengapa mereka memilih PPs UNM? Menurut kami, itu karena masyarakat melihat adanya prospek yang bagus, bahwa PPs UNM mampu mengelola proses akademik dengan bagus,” katanya kepada Tabloid Almamater, di ruang kerjanya, Kamis, 26 Januari 2012.

Proses akademik yang baik bukan hanya melibatkan tenaga pengajar yang berkualitas (sebagian besar tenaga pengajar di PPs UNM sudah Profesor Doktor), melainkan juga meliputi pelayanan akademik dan manajerial.

“Kami melakukan evaluasi setiap semester, termasuk mengevaluasi tenaga pengajar yang ada. Dosen yang dianggap kurang bagus, bisa tidak diberi lagi jam mengajar,” ungkap Jasruddin.

Dosen PPs UNM selain dari internal UNM, juga banyak yang berasal dari berbagai perguruan tinggi, termasuk dari perguruan tinggi ternama di Jakarta dan dari mancanegara (antara lain memberikan kuliah umum, dan atau menjadi pembicara dalam seminar).

PPs UNM juga sudah menjalin kerjasama dengan berbagai perguruan tinggi di mancanegara, antara lain dengan The Ohio State University (AS), Ohio University (AS), Northen Illinois University (AS), dan Flinders University (Australia).

“Kerjasama tersebut antara lain untuk program short course dan intensive course bagi mahasiswa PPs UNM yang mengambil program S3,” jelas Jasruddin.

Penambahan Prodi

Menyinggung rencana penambahan program studi, dia mengatakan, PPs UNM kini sudah memiliki 12 prodi magister (S2) dan tujuh prodi doktoral (S3).

Ke-12 prodi magister tersebut adalah Pendidikan Bahasa (kekhususan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, serta Pendidikan Bahasa dan Sastra Inggris), Pendidikan Ilmu Sosial (kekhususan Pendidikan Sejarah, Pendidikan Ekonomi, Pendidikan Sosiologi, Pendidikan Antropologi, Pendidikan Administrasi Umum, Pendidikan Hukum dan Kewarganegaraan, serta IPS ke-SD-an).

Selanjutnya prodi Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup atau PKLH (kekhususan Pendidikan Kependudukan, Pendidikan Lingkungan Hidup, serta Pendidikan Geografi), Pendidikan Jasmani dan Olahraga (kekhususan Pendidikan Jasmani dan Olahraga, Pendidikan Jasmani dan Olahraga untuk SD, serta kekhususan Manajemen Olahraga).

Pendidikan Matematika (kekhususan Pendidikan Matematika Dasar, serta Pendidikan Matematika), Pendidikan Fisika (kekhususan Pendidikan Fisika, serta Pendidikan Teknologi dan Kejuruan), Pendidikan Kimia, Pendidikan Biologi, Pendidikan Seni Rupa, Penelitian dan Evaluasi Pendidikan (PEP), Administrasi Pendidikan (kekhususan Manajemen Pendidikan, serta Pendidikan Anak Usia Dini/PAUD), serta prodi Bimbingan dan Konseling.

Sedangkan tujuh prodi S3, terdiri atas Administrasi Publik, Sosiologi, Pendidikan Bahasa Indonesia, Pendidikan Bahasa Inggris, Ilmu Pendidikan, Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup (PKLH), serta Pendidikan Ekonomi.

“Sekarang kita tengah mempersiapkan membuka prodi S2 Pendidikan Geografi, S2 Pendidikan Ekonomi, S2 Pendidikan Seni, serta S3 Pendidikan Olahraga,” kata Jasruddin.

Kualitas Perkuliahan

13292967791354636874
Asdir I PPs UNM Prof Suradi Tahmir. (Foto: Asnawin)

Sejauh ini masih ada kecurigaan masyarakat bahwa kualitas proses perkuliahan pada sejumlah Program Pascasarjana (PPs) kurang terjamin, karena sebagian orang yang kuliah program magister (S2) atau program doktoral (S3) lebih banyak bertujuan mencari ijazah dan demi gengsi.

Benarkah kecurigaan masyarakat tersebut? Asdir I PPs Universitas Negeri Makassar (UNM), Prof Dr Suradi Tahmir MSi, secara tegas mengatakan bahwa khusus di PPs UNM, kualitas proses perkuliahan, mulai dari seleksi penerimaan mahasiswa baru, proses belajar mengajar, hingga ujian akhir (ujian tutup dan ujian promosi) dapat dijamin.

“Mutu proses perkuliahan di PPs UNM, insya Allah terjamin,” tandasnya kepada Tabloid Almamater, di ruang kerjanya, Selasa, 24 Januari 2012.

Siapa pun orangnya, baik mahasiswa murni, pegawai, karyawan, maupun politisi dan pejabat publik, harus mengikuti proses seleksi penerimaan maba dan semua diperlakukan sama. Tidak ada perbedaan sama sekali.

Begitupun selama kuliah. Kehadiran di kelas harus minimal 80 persen untuk bisa ikut final tes. Pada saat prelium (untuk S3), semua mahasiswa harus duduk dan mengikuti tes pada satu ruangan, serta harus lulus prelium untuk bisa mengikuti proses selanjutnya.

“Kami memberikan kesempatan tiga kali ikut prelium. Kalau sampai tiga kali tidak lulus, berarti mereka memang bisa jadi doktor dan apa boleh buat, mereka terpaksa DO (drop out). Mereka tidak bisa protes, karena aturannya sudah jelas dan semua mahasiswa PPS UNM memegang aturan itu. Kami tidak bisa menyebutkan namanya, tetapi sudah ada beberapa orang yang terpaksa DO karena tidak lulus prelium,” papar Suradi.

Guru Besar Matematika ini menjamin semua lulusan atau alumni PPs UNM telah melalui proses belajar mengajar yang berkualitas, sehingga mereka memang layak menyandang gelar magister atau doktor.

Kampus Refresentatif

13292968831923825931
Asdir II PPs UNM Prof Heri Tohir. (Foto: Asnawin)

Tidak ada alasan bagi mahasiswa Program Pascasarjana (PPs) Universitas Negeri Makassar (UNM) untuk tidak berprestasi dan menyelesaikan kuliah tepat pada waktunya, karena selain kualifikasi dosen dan proses belajar mengajarnya yang terjamin, sarana dan prasarana perkuliahan juga sangat refresentatif.

Semua ruang perkuliahan dilengkapi pendingin udara (AC) dan peralatan multimedia, ditambah sejumlah sarana pendukung, seperti laboratorium, perpustakaan, aula, masjid, dan kantin.

“Sekarang kami juga tengah membangun gedung baru yang diberi nama Menara Tellu Cappa, yang antara lain akan dilengkapi sport centre, kafe, dan penginapan,” ungkap Asdir II PPs UNM Prof Dr H Heri Tohir SH MH, kepada Tabloid Almamater, Selasa, 24 Januari 2012.

Biaya pembangunan Menara Tellu Cappa ditaksir sekitar Rp 300 miliar yang berasal dari APBN multi-years. Menara Tellu Cappa kelak akan menjadi salah satu ikon Kota Makassar, bersama beberapa menara atau gedung berlantai 15 ke atas yang sudah ada di “Kota Daeng.”

Dengan adanya penginapan di Menara Tellu Cappa, maka mahasiswa yang berasal luar kota Makassar, dapat menginap dan menyelesaikan tugas-tugasnya, tanpa harus meninggalkan kampus PPs UNM.

Para tamu VIP, seperti Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Dirjen Dikti, dan tamu-tamu besar lainnya, juga akan ditempatkan di penginapan Menara Tellu Cappa, karena penginapan tersebut juga menyediakan kamar VIP.

Prof Heri mengatakan, pihak kampus berupaya menyediakan semua fasilitas yang dibutuhkan mahasiswa PPs UNM, agar mereka dapat berkonsentrasi belajar, berdiskusi, dan menyelesaikan tugas-tugasnya.

“Ruang ujian promosi juga kita buat kedap suara, agar proses ujian dapat berlangsung dalam suasana nyaman,” tutur Guru Besar Hukum Pidana kelahiran Watampone, 2 Januari 1959.

Asnawin Aminuddin

/asnawin

Sifat dasar manusia antara lain selalu ingin berkomunikasi dengan orang lain dan ingin mengetahui keadaan di sekitarnya. Saya bergabung disini untuk bertemu dan saling bertukar pengalaman / informasi dengan teman2 dari berbagai penjuru.... (asnawin@ymail.com)
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?