PILIHAN HEADLINE

Budaya Malu di Toilet Terapung Sungai Musi

15 April 2017 00:35:09 Diperbarui: 16 April 2017 11:12:51 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :
Budaya Malu di Toilet Terapung Sungai Musi
Salah satu WC cemplung yang berada di Desa Petaling Kecamatan Lais berada diatas keramba milik warga. Foto diambil Minggu (4/5/2014).

Di tepi-tepi Sungai Musi terdapat log log (gelondongan) kayu berukuran rata-rata empat depa orang dewasa. Diameter masing-masing kayu tidak sama. Yang penting gelondongan itu dapat membentuk rakit kecil. Yang bisa mengambang di atas air. Maka kadang gelondongan itu ditumpuk-tumpuk dengan maksud untuk membuat rakit itu tetap mengapung.

Di bagian ujung hilir dibuat ruang tertutup yang ada pintunya sehingga menyerupai bilik. Bilik ini digunakan untuk termenung dan BAB (Buang Air Besar atau sering disebut 'bong'). Secara keseluruhan rakit yang ada batangnya ini disebut 'batang'. Bahasa Indonesianya adalah toilet terapung (sungguh tidak tega aku nulisnya).

Batang tersebut selalu disandarkan di tepi Sungai Musi. Dia setia mengikuti musim. Bila air Musi naik, maka ikut naik pula batang-batang ini. Begitu pula sebaliknya. Di ujung hilir dan hulunya selalu diikat tambang, sehingga dia tidak hanyut atau nabrak batang batang milik tetangga sebelah kiri dan kanannya.

Pada batang-batang inilah masyarakat setempat banyak mengandalkan aktivitas mencuci, mandi, dan menyandarkan perahu. Bahkan hingga urusan termenung pun mereka lakukan di bilik ini. Karenanya, batang seakan menjadi rumah kedua bagi masyarakat kampung ini.

Yang unik, satu batang dapat dipakai oleh empat hingga lima keluarga. Dengan demikian, penggunaannya masih tetap bergiliran sehingga terbentuk sendiri budaya antre, saling pengertian dan bersabar. Kaum perempuan dan laki laki tetap masih menggunakan batang yang sama untuk beraktivitas mandi, cuci dan kakus (MCK). Ketika mandi di dalam bilik, para perempuan biasanya hanya memakai selembar kain (sewet, telsan) yang diikat hingga dada. Tidak memakai baju. Ketika mandi, kaum perempuan tetap waspada bergerak. Gerakannya tidak boleh berlebih-lebihan. Para ibu-ibu kerap membimbing anak-anak perempuannya. “Payo Pik telsan kau jangan tinggi igek..!” (Jangan terlalu tinggi angkat kain nya nak…!)

Kenapa tradisi mandi ini masih berlangsung hingga kini? Padahal urusan mandi dan bilik termenung itu kan sifatnya privasi, rahasia? Ya memang dari dulu seperti itu. Menurut cerita, warga kampung tersebut berasal dari kakek dan nenek yang sama (bahasa lokal, kakek disebut gade). Karena itulah mereka tidak singkuh-singkuhan (rasa malu). Siapa yang berani nakal atau 'panjang mata' akan dapat hukuman adat keluarga. Dan di sana memiliki kepercayaan bahwa hukum adat masyarakat dan hukum alam bisa mengutuk.

Misalnya yang terjadi, apabila ditemukan seorang laki laki atau masih lajang berani menatap para perempuan terlalu lama maka di sekitar matanya akan muncul benjolan kecil (bintitan). Hukuman lainnya, setelah melalui pengadilan keluarga/adat, Si Pelaku akan dikucilkan secara sosial dan dicap stempel sebagai tukang intip. Pengintip ini biasanya juga disebut “kalui”. Kalui sesungguhnya adalah nama ikan sungai yang selalu hadir berseliweran di bawah bilik termenung dan suka menyambar sesuatu yang jatuh dari atas dengan rakusnya. Maka, tidak menjadi rahasia lagi dan bahkan menjadi buah bibir, bahwa nama seseorang pelaku Panjang Mata itu biasanya akan ditambahkan kata 'kalui' pada akhir namanya. Misalnya Zainal Kalui, Asnawi Kalui, dll.

Seandainya saja proses law enforcement/penegakan hukum di negeri ini kurang melahirkan efek jera, mungkin hukuman adat ini bisa dicoba. Bisa jadi lebih ampuh dari ancaman hukuman mati dan bisa mengurungkan niat orang untuk melanggar hukum.

Mengapa kita tidak mencoba menyematkan nama kejatahat di KTP pelaku. Dengan begitu, mungkin akan muncul budaya malu. Ya soal nama belakang harus sesuai dengan kasus, misalnya Afflek Tukang Korupsi, Arnold Tukang Madat, Ronald Tukang Begal, Borries Tukang Suap dan (maaf jika contoh namanya sama dengan nama Anda).

Semogah tulisan ini menjadi inspirasi penegakan budaya malu.

Bibir Musi, 13/4/2017

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana