Arnold Adoe
Arnold Adoe Instruktur Balai Latihan Kerja

Orang biasa...Menulis sekedar untuk berbagi..

Selanjutnya

Tutup

pilihan headline

Lin Dan dan Pelajaran bagi Trio Muda Bulutangkis Kita

20 Maret 2017   11:15 Diperbarui: 21 Maret 2017   17:40 760 8 4
Lin Dan dan Pelajaran bagi Trio Muda Bulutangkis Kita
Lin Dan, Maestro yang terus Berprestasi/ Sumber Gambar : Kompas

 

Lin Dan akhirnya menjuarai tunggal putra Swiss Open Grand Prix Gold 2017 setelah mengalahkan yuniornya, Shi Yuqi melalui straight game dengan skor 21-12 dan 21-11.

Sebelumnya, di semifinal Lin Dan menghentikan harapan Indonesia, Anthony Sinisuka Ginting. Ginting harus mengakui dominasi Lin Dan dengan kekalahan dua set langsung, 17-21, 17-21.

Saya sempat menyaksikan pertarungan keduanya melalui siaran televisi. Menurut saya, Ginting sudah menunjukkan penampilan yang maksimal, Ginting beberapa kali berhasil meladeni permainan cepat dan reli-reli panjang dari Lin Dan. Bahkan, Ginting sempat “mempecudangi” Lin Dan melalui bola-bola tipis di bibir net ataupun melalui jumping smash menyilang khasnya. Pebulutangkis muda berusia 20 tahun ini memang pantas menjadi tumpuan harapan tunggal putera Indonesia di masa depan. Walaupun hanya berangking 30 dunia, selama pertandingan Ginting tampil percaya diri dengan daya juang yang tinggi, pantang menyerah.

Namun pengalaman, skill dan kematangan bola-bola Lin Dan yang berbicara di atas lapangan. Sebuah pukulan drive tajam dari Lin Dan yang tidak sempurna dikembalikan Ginting membuat perlawanan alot dari Ginting terhenti.

Lin Dan itu memang seorang maestro bulutangkis dunia. Peraih dua medali emas olimpiade ini memainkan raketnya seperti seorang pelukis. Lin Dan seperti menyapukan kuas dengan tangan kidalnya ketika berada di lapangan dengan bola-bola yang terkadang sulit ditebak laju dan arahnya. Sapuan raket Lin Dan itu membuat permainan bulutangkis menjadi indah untuk dinikmati.

Oleh karena kekhasannya itu, Lin Dan itu ibarat pelukis yang langka. Di dunia bulu tangkis saat ini, tercatat hanya Lee Chong Wei yang dianggap mendekati kemampuan Lin Dan. Duel di antara dua “pelukis” ini sering disebut dengan Eternal Rivalry, merujuk kepada 38 pertemuan mereka yang selalu sengit. Lin Dan memenangkan 26 pertarungan di antara keduanya.

Setiap kali tampil, nama besar Lin yang dijuluki Super Dan ini memang kerapkali membuat lawan-lawannya ketar-ketir. Teknik permainan dipadu mental dan pengalaman yang matang menjadikan Lin sangat sulit untuk ditaklukkan.

Di usia 34 tahun, Lin Dan tak ada habisnya. Banyak pihak yang berspekulasi bahwa Lin Dan akan segera pensiun setelah Olimpiade Rio 2016 dan All England 2017 akan menjadi turnamen kompetitif terakhirnya.

Apa yang terjadi selanjutnya menampik semua itu, terpetik kabar bahwa Lin Dan malahan masih bermimpi untuk menjadi satu-satunya pebulutangkis yang berhasil meraih emas di 3 olimpiade berbeda. Lin Dan adalah peraih medali emas Olimpiade Beijing 2008 dan London 2012. Lin Dan masih memburu emas di Tokyo 2020. Gila!

Trio Muda Kita dan Pelajaran dari Super Dan

Trio Arjuna Tunggal Putera, Harapan Masa Depan/ Sumber : 4muda
Trio Arjuna Tunggal Putera, Harapan Masa Depan/ Sumber : 4muda
Trio pemain muda Indonesia yang digadang-gadang sebagai masa depan tunggal putera beruntung pernah merasakan pertarungan dengan Lin Dan, yang entah kapan akan pensiun. Ihsan Mustofa menjadi pemain yang paling banyak berhadapan dengan Lin Dan.

Pemain berusia 21 tahun asal Tasikmalaya itu sudah 4 kali berhadapan dengan Lin Dan dan semuanya berakhir dengan kekalahan. Terakhir kedua pemain bertemu di Swiss Open Gold 2017 di babak perempat final, Ihsan menyerah lagi 17-21, 14-21.

“Saya harus meningkatkan stamina dan naikin daya tahan lagi,” ujar Ihsan saat kalah di babak pertama Badminton Asian Championship 2016.

Sedangkan bagi Anthony Ginting, kekalahan itu menjadi kekalahan keduanya. Lin Dan sebelumnya mengalahkan pebulutangkis 20 tahun itu di turnamen Taiwan Terbuka 2015. “Saya harus memperbaiki permainan saya, lebih mau mengolah bola dan yakin dengan pukulan saya sendiri," kata Anthony mengurai taktik yang disiapkan sebelum pertarungan melawan Lin Dan. Namun apa daya, semuanya mental di hadapan sang Maestro, Ginting kalah lagi.

Riwayat Jonatan Christie sedikit lebih mengilap kala berhadapan dengan Lin Dan. Jonatan berhasil membuat kejutan dengan mengalahkan Lin Dan di babak kedua BCA Indonesia Terbuka 2016. "Banyak pukulan-pukulan tipuan juga. Tetapi menurut saya, Lin Dan tak tampil pada performa terbaiknya," kata Jonatan merendah akan kemenanganya itu, yang dipengaruhi dukungan penonton dan "mitos" bahwa Lin Dan sulit menang di Indonesia Open.

Sebelumnya, Jonatan mengidolai Lin Dan itu, harus kalah saat kedua pemain bertemu di Singapore Super Series 2016. “Jonatan masih kalah jam terbang dan memang standar kualitasnya berbeda. Efeknya ya rasa percaya dirinya jadi berkurang,” kata Hendry Saputra, pelatih tunggal putra mengomentari kekalahan Jonatan saat itu.

Memang pemain muda kita masih perlu banyak belajar dan menambah pengalaman. Harus diakui, pengalaman-pengalaman melawan Lin Dan adalah pengalaman yang sangat berharga bagi Ihsan, Ginting maupun Jonatan. Kekurangan mereka seperti stamina, standar permainan, kepercayan diri dan taktik bisa mereka ukur langsung dari sang maestro saat bersua di lapangan.

Ketika melihat Ginting terengah-engah saat beradu reli dengan Lin Dan membuat saya tak habis pikir bagaimana Lin Dan masih unggul soal stamina dari Ginting dengan usia berselisih 14 tahun. Hal stamina itu pula yang membuat Ginting akhirnya melakukan kesalahan sendiri sesudah beradu reli panjang.

Soal stamina, Lin Dan memang menganggap hal itu nomor satu. Menurut majalah kesehatan Tiongkok, Lin Dan itu menghabiskan 6 jam untuk latihan setiap hari. Latihan fisik (ritme pernafasan, daya tahan, irama jantung dll) menggunakan waktu 3 jam dan sisanya untuk latihan teknik bulutangkis. Super Dan memberikan porsi latihan yang sama antara latihan fisik dan latihan teknik.

Soal diet, mengontrol lemak dan juga gaya hidup, Lin Dan pun tidak main- main. Lin Dan bahkan memilih tidur daripada menerima penghargaan dari sebuah media. Suatu contoh luar biasa dari seorang atlit yang berpikir untuk karir jangka panjang dan membuktikan bahwa itu ada hasilnya sampai sekarang.

Lin Dan dan Chen Long sedang berlatih Fisik/ Sumber : www.sportphoto.cn
Lin Dan dan Chen Long sedang berlatih Fisik/ Sumber : www.sportphoto.cn

Kematangan mental dan kepercayaan dirinya juga tidak didapatkan secara instan. Pada awal karirnya, Lin Dan sempat diejek dengan sebutan "Lin Yi Lun" atau "Lin Si Babak Pertama". Julukan yang merupakan ejekan bahwa dia selalu kalah di pertandingan awal ini bukan membuat dia mundur namun terus melecutnya untuk terus maju.

"Saya terus bekerja keras dan akhirnya bisa memenangi semua gelar di dunia bulu tangkis." Cerita Lin Dan ketika menceritakan kisah itu melalui otobiografinya berjudul Sampai Akhir Dunia, sama dengan tato yang dia buat di tubuhnya sebagai bentuk rasa cintanya kepada sang istri yang juga mantan pebulutangkis, XIe Xienfang.

Pengalaman dan kematangan itulah yang membuat Lin Dan jarang sekali langsung menyerah ketika melawan siapapun dan ketinggalan dalam skor berapapun. Sesuatu modal yang membentuk Lin Dan hingga masih bisa terus berprestasi di usia yang tak muda lagi ini. Berbeda dengan pemain-pemain lain(kita) yang terlihat lesu ketika sudah ketinggalan jauh dari sang lawan.

Dalam sebuah kesempatan lain, Lin Dan mengutarakan bahwa dia berharap semangatnya ini semoga bisa menular di pemain-pemain muda Tiongkok. "Saya mencoba untuk memperpanjang karir di bulutangkis. Mudah-mudahan ketika para pemain muda mencapai usia 30, mereka dapat belajar dari saya tentang cara memperpanjang sisa karir mereka," pungkasnya, sebuah niat mulia dari sang maestro yang bersifat edukatif bagi pemain muda di negaranya. 

Harapan dari Lin Dan itu salah satunya berhasil diterjemahkan dengan sempurna oleh Chen Long. Mantan pemain nomor satu dunia, juara dunia dan juga peraih medali emas Rio 2016 berusia 28 tahun. Chen Long sangat mengidolakan segala hal dari Lin Dan. Mulai dari gaya hidup, latihan maupun mimpi yang terus dikejar. Chen Long juga patut bersyukur karena dapat berlatih bersama dengan Lin Dan.

“Lin Dan bertanding dengan luar biasa. Para pemain muda bisa belajar dari Lin Dan. Lin Dan tidak pernah menyerah dan selalu berusaha untuk mengejar mimpi,” komentar Chen Long mengenai sosok Lin Dan.

Jika Chen Long mau tetap terus belajar dari Chen Long, apalagi trio Arjuna bulutangkis kita. Trio Arjuna kita mungkin harus melupakan sejenak ambisi mereka untuk mengalahkan Lin Dan setiap kali bertemu, karena ambisi itu membuat mereka bermain terburu-buru dan susah terkontrol.

Persepsi yang harus dibangun adalah kesempatan melawan Lin Dan adalah kesempatan untuk belajar dari sang maestro. Belajar bukan saja secara teknis tetapi juga non teknis. Mencontoh kerja keras tanpa henti dan mimpi yang terus digantung setinggi langit, seperti yang dilakukan Lin Dan.

Walaupun tidak mudah, jika semua itu dapat dilakukan dengan konsisten bukanlah tidak mungkin dari antara ketiga pemuda inilah akan muncul maestro asal Indonesia yang dapat moncer penampilannya walaupun sudah berusia 30-an seperti Lin Dan atau Lee Chong Wei. Semoga.

Jayalah Bulutangkis Indonesia!

Referensi: 1 I 2 I 3 I