HEADLINE HIGHLIGHT

Temuan Mencengangkan Mengenai Nata de Coco

18 Juli 2012 06:09:02 Dibaca :
Temuan Mencengangkan Mengenai Nata de Coco
Ilustrasi/ Admin (kompas.com)

Temuan MENCENGANGKAN Mengenai Nata de Coco Oleh : Harini Rahmi

Air kelapa muda yang manis dan menyegarkan serta daging buahnya yang berstruktur lembut dan sedikit kenyal membuat buah kelapa sering kali menjadi pilihan banyak orang untuk melepas dahaga. Namun kelezatan buah kelapa ini tak dapat dinikmati oleh seluruh warga bumi karena faktanya pohon kelapa tidak dapat hidup di setiap tempat. Sebagai alternatifnya maka buah kelapa kemudian diolah oleh tangan-tangan kreatif menjadi nata de coco yakni sari air kelapa yang di fermentasi dengan menambahkan beberapa bahan lainnya seperti mikroba acetobacter xylinum  sehingga berubah menjadi padat dan memiliki daya tahan lebih lama daripada air kelapa. Rasanya yang manis, kenyal, dan enak membuat nata de coco menjadi salah satu product yang dewasa ini sangat diminati oleh berbagai kalangan di seluruh penjuru bumi.

Kehadiran nata de coco kembali mencuri perhatian orang-orang kreatif di dunia kuliner untuk memadupadankan nata de coco dengan bahan lainnya sehingga mampu menjadi product baru atau pelengkap product yang sudah ada. Inilah mengapa nata de coco kita jumpai sebagai pelengkap agar-agar sehingga memiliki tampilan dan rasa yang lebih menarik dan enak. Selain agar-agar, nata de coco juga dijadikan pelengkap untuk sop buah, es buah, bahkan es teler.

Nata de coco ternyata tak hanya diproduksi oleh pabrik-pabrik besar dan terkenal di Indonesia, melainkan juga diproduksi oleh industri-industri rumahan sehingga kita seringkali menemukan nata de coco dalam berbagai kemasan yang di jual di warung-warung dan minimarket di sekitar kita. Berbekal uang Rp. 1.000,- anak-anak telah dapat menikmati sebungkus sebungkus nata de coco yang dikemas dalam aneka varian rasa seperti anggur, jeruk, apel, melon, dan strawberry. Bahkan es buah yang dilengkapi dengan nata de coco pun dapat diperoleh dengan membayar senilai seribu rupiah saja.  Inilah mengapa nata de coco mampu menjangkau lebih banyak orang sehingga peminat nata de coco terus bertambah seiring berjalannya waktu.

Apakah anda seorang penggemar nata de coco?

Well, saya pribadi adalah penggemar nata de coco. Saya sering menggunakan nata de coco sebagai pelengkap puding atau sop buah yang menjadi menu andalan kami di kala musim kemarau. Kecintaan saya akan nata de coco beberapa hari ini mulai memudar tatkala saya mendapatkan informasi seputar nata de coco yang selama ini justru terabaikan. Bermula dari menonton acara reportase investigasi yang ditayangkan di salah satu stasiun swasta beberapa waktu yang lalu, akhirnya beberapa fakta seputar nata de coco pun terkuak. Apa itu?

Berdasarkan dari penelitian yang dilakukan oleh tim reportase investigasi yang mana dilengkapi dengan uji laboratorium yang dilakukan di laboratorium  teknologi pangan UNPAS, akhirnya ditemukan sejumlah fakta sebagai berikut :

- 8 dari 10 sampel nata de coco yang di pilih secara acak  di pasaran [pasar tradisional, warung, dan supermarket] terbukti mengandung  Hidrogen Peroksida [H2O2], yakni cairan bening, agak lebih kental daripada air,yang merupakan oksidator kuat. Hidrogen Peroksida dimanfaatkan sebagai pemutih [bleach] sehingga nata de coco yang dicampurkan dengan zat ini akan mengubah warna nata de coco yang semulanya putih kekuningan [broken white] menjadi berwarna putih bersih dan lebih menarik. Faktanya, penggunaan hidrogen peroksida dalam makanan justru tidak dibenarkan karena zat ini mudah bereaksi [oksidan kuat] dan korosif. Bahkan dari 10 sampel yang digunakan dalam penelitian tersebut ternyata terdapat pula merk yang sudah terkenal dan produknya tersusun rapi di rak-rak supermarket dan mall.

- Dari penuturan salah satu produsen nata de coco lokal [nama dan wajahnya dalam acara tersebut di samarkan] diperoleh informasi bahwa pembuatan nata de coco sering kali menggunakan bahan baku [air kelapa] yang baunya sudah busuk. Kelangkaan buah kelapa dan alasan menghemat biaya produksi membuat mereka tak lagi menghiraukan kualitas nata de coco. Agar nata de coco memiliki daya tahan lebih lama maka mereka juga mencampurkan nata de coco dengan pijer istilah lain yang digunakan untuk boraks atau natrium benzoat [zat pengawet]. Mengkonsumsi makanan yang mengandung natrium benzoat secara berlebihan akan memacu pertumbuhan sel kanker, berpotensi untuk menimbulkan penyakit degenerasi saraf serta merupakan zat yang menyebabkan timbulkan penyakit LUPUS.

Tak hanya itu, guna memenangkan persaingan dengan perusahaan berskala nasional maka mereka menggunakan gula sintetik sebagai penganti gula alami sehingga harga jual nata de coco mereka lebih murah. Gula sintetik mengandung senyawa yang membuatnya tidak dapat dimetobolisme secara maksimal oleh tubuh. Gula sintetik memiliki ciri yakni akan ada rasa bawaan yang terasa pahit ketika kita menelannya. Jadi mengkonsumsi nata de coco yang diproduksi dengan bahan-bahan yang tidak dianjurkan tentunya membuat kita seperti mengkonsumsi racun yang lama-kelamaan akan mengurangi daya tahan tubuh dan berujung kepada penyakit berbahaya.

Masih dari acara reportase investigasi, saya juga memperoleh informasi bahwa sop buah, es kelapa, dan es buah yang dijual di pasaran ternyata ada oknum pedagang yang melakukan kecurangan dengan cara :

- menggunakan buah-buah busuk [BS] kemudian diberikan pijer sehingga lebih kenyal dan tidak kentara bedanya dengan buah segar.

- mereka menggunakan air bekas cucian beras sebagai pencampur air kelapa sehingga harga es kelapa yang mereka jual dapat dipatok dengan harga yang lebih murah.

- mereka mencampurkan antara daging buah kelapa yang masih muda dengan daging buah kelapa yang tua sehingga daging buah kelapa yang didapatkan lebih banyak dan dapat menekan biaya produksi es kelapa atau es teler.

Fakta ini mengingatkan kita bahwa mengkonsumsi buah atau sari buah kelapa tidaklah menjadi jaminan bahwa tubuh kita akan menjadi sehat. Tidak teliti, bisa-bisa kita justru terkecoh dalam membeli dan akhirnya mengkonsumsi buah yang rasanya segar dan enak tetapi sarat dengan zat-zat kimia berbahaya yang justru membuat pertahanan tubuh kita bobol sehingga rentan terhadap penyakit-penyakit berbahaya. Budaya hidup yang ingin segala sesuatunya instan dan praktis membuat kita lebih memilih untuk membeli olahan buah yang siap saji seperti sop buah, es kelapa, es buah, atau es teller.

Meski demikian, tidak semua nata de coco mengandung zat-zat berbahaya, untuk itu kita harus jeli dalam memilih  nata de coco. Berikut tips memilih nata de coco yang bebas pengawet :

- Pilihlah nata de coconya berwarna broken white [putih agak kekuning-kuningan]. Nata de coco yang berwarna putih justru merupakan tanda menggunakan  Hidrogen Peroksida [H2O2].

- Nata de coco yang tidak menggunakan boraks adalah nata de coco yang kenyal dan ketika ditekan, maka dia tidak membalik normal dengan segera. Nata de coco yang mengandung boraks ketika di tekan dia akan membalik ke posisi awal dengan segera [jadi dia tak hanya kenyal tetapi juga tegang/kaku].

Ramadhan sudah di depan mata, berbuka puasa seolah tak lengkap tanpa menu es buah, es kelapa, sop buah, atau nata de coco bukan? Saatnya menjadi pribadi yang menyiapkan menu buka puasa hasil olahan sendiri. Marilah mulai membiasakan diri untuk mengolah makanan sendiri sehingga kita lebih tahu pasti bagaimana kualitas makanan yang dikonsumsi oleh anggota keluarga kita.

Sumber : acara reportase investigasi  14 dan 15 Juli 2012 dan informasi di sini dan di sana

Harini Rahmi

/ariname

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Life is a process to transfer our values to others. Make ourself meaningfull anytime anywhere for all people
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?