Benarkah Lulusan "Arkeologi" Madesu?

11 Juni 2011 07:46:51 Diperbarui: 26 Juni 2015 04:37:57 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :

Ilmu Arkeologi adalah Ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang  peninggalan atau hasil budaya manusia masa lampau yang berusia 50 tahun atau lebih , karena mempelajari peninggalan masa lampau banyak yang mengasumsikan mempelajari "Arkeologi" sama dengan mempelajari ilmu tua atau ilmu untuk usia tua ( maaf sebelumnya bukan meledek).

Tapi memang begitulah kenyataannya kebanyakan lulusan Sekolah Lanjutan Atas jarang sekali berminat memilih Jurusan Arkeologi bisa dikatakan sepi peminat, mereka menganggap jurusan itu tidak populer, memerlukan dana besar untuk penelitian skripsinya atau kalau Lulusan Arkeologi tidak mudah mencari pekerjaan.

Saya sebagai lulusan Arkeologi ingin mematahkan pendapat itu sejak memulai memilih sebagai mahasiswa  Arkeologi, banyak teman-teman ketika SMA memang lebih memilih Jurusan yang lebih populer atau mereka
ingin lulus dan langsung bekerja. Mungkin saja anggapan lulusann Arkeologi masa depan suram karena setelah lulus belum tentu langsung bekerja atau dibutuhkan sebagai tenaga ahli.

Ketika memasuki jurusan arkeologi pun teman-teman hanya berjumlah 45 orang dan tidak sedikit di semester awal mereka sudah keluar dari jurusan ini yang dari 45 tinggal 30 orang sampai semester akhir yang berhasil lulus pun dapat dihitung bukan bodoh, tapi karena tidak cocok atau kembali lagi tidak ada masa depan, bahkan yang mendalami profesi sebagai arkeolog bisa dikatakan jarang atau kata temenku dari Fakultas Kedokteran Hewan "Profesi Langka Peminat".

Setelah Lulus dari arkeologi Universitas Udayana tahun 1998 saya awalnya bingung mau kemana setelah lulus?
Apalagi enam bulan sebelum lulus kuliah saya menikah dulu, memang awalnya cita-cita saya agak berantakan karena keinginan yang sangat kuat untuk menjadi tenaga ahli. Saya sangat "Iri" dengan teman-teman  berasal dari Malaysia yang belajar di Indonesia karena setelah mereka lulus pekerjaan dan jabatan telah menunggu mereka. Sebaliknya di Indonesia Lulusan Arkeologi tidak dianggap, peluang-peluang pun misal jadi dosen atau tenaga ahli di instansi pun dominasi karena hubungan kekeluargaan atau "Nepotisme".

Kebetulan Saya tidak berminat menjadi Pegawai Negeri sipil yang menurut saya kerjanya yang tidak efektif dan lebih banyak santainya dan anggapan saya seperti "makan gaji buta" saja, kalau ada yang sibuk sangat sibuk sedangakan yang santai sampai bisa jalan-jalan keluar pada jam kantor atau membaca koran kerjanya.

Tahun 1999 saya diterima mengajar di SMA Muhammadiyah 1 Denpasar, saya mengajar 9 tahun dari sampai akhir 2008, yang awalnya agak frustasi atau kata temen guru dianggap hanya sebagai "pekerjaan sampingan" buat
saya. Tetapi setelah bertemu dengan siswa-siswa yang "amazing" membuat saya bersemangat, apalagi setelah saya ikut sebuah training yang membuat saya semakin menemukan sebuah solusi bagi siswa-siswa tersayang.

Ketika suami mutasi ke Lumajang dan saya harus terpaksa berhenti dari mengajar yang terpikir apa yang dapat dilakukan setelah berhenti.tetapi dari kota inilah saya menemukan jati diri saya sebenarnya, keinginan menjadi seorang arkeolog terkabulkan dan saya langsung dihadapkan penelitian yang sangat besar dan menuntut keseriusan saya.

Keinginan kuat yang menjadi arkeolog karena prihatin dengan banyaknya peninggalan sejarah dan budaya nenek moyang yang tidak mendapatkan perhatian, padahal dengan mempelajari yang kata orang "benda mati" terdapat nilai ideologi dan spirit bagi manusia, selain itu juga nilai Kesejarahan, nilai Religius serta bukti kearifan lokal atau Local Genious budaya masa lampau. Misal pada bangunan  Borobudur dan Prambanan kita dapat menafsirakan dari tipe bangunannya salah satunya  yaitu bangunan  Candi Borobudur yang dibangun oleh Kerajaan Wangca Syailendra  sesuai dengan sistem pemerintahan kerajaan bersifat "Sentralisasi" karena letak Stupa yang paling besar di tengah dan dikelilingi stupa-stupa kecil, sedangkan Candi Prambanan dengan 3 bangunan Induk di tengan dan dikelilingi candi perwara atau penjaga simbol dari sistem pemerintahan "Desentralisasi" di Kerajaan Mataram Hindu.

Dengan mempelajari arkeologi berarti juga mempelajari sejarah bangsa dan budaya bangsa, sehingga manusia lebih arif dan bijak karena tidak hanya dengan  menatap masa depan saja, tetapi dengan menengok kembali ke masa lalu kita akan bisa mempelajari kejayaan dan kehebatan leluhur bangsa kita.

Dan jangan takut bercita-cita sebagai arkeolog karena di masa yang akan datang tenaga dan pikirannya sangat dibutuhkan oleh bangsa dan negara karena, peninggalan-peninggalan sejarah dan budaya leluhur menanti untuk dikembangkan dan diungkap sehingga masyarakat dapat menikmati.

Seorang arkeolog tidak harus pintar dan banyak gelar tetapi,dibutuhkan arkeolog-arkeolog yang cerdas dan bekerja dengan hati serta keberanian untuk mengungkap sejarah bangsa. (Aries Purwantiny)

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana