Ardiansyah Taher
Ardiansyah Taher Sociolinguist

Music, Sports, Languages

Selanjutnya

Tutup

Bola headline

Talenta Asia Tenggara Tak Kalah dari "Marquee Player"

19 Maret 2017   03:32 Diperbarui: 19 Maret 2017   10:01 1092 6 2
Talenta Asia Tenggara Tak Kalah dari "Marquee Player"
Foto: Juara.net

Menjelang dimulainya kompetisi resmi bertajuk “Liga Satu” setelah hukuman FIFA. Bursa transfer memanas ketika Michael Essien menerima pinangan Persib Bandung dengan harga yang fantastis. Media sosial pun heboh mengaitkan hal ini dengan pemain di Liga Eropa yang bisa saja mau mencicipi Liga Indonesia. Meme-meme lucu pun juga ramai menggambarkan pemain sekelas Drogba, Eto’o, Berbatov, Van Persie, hingga Cristiano Ronaldo berseragam klub Liga Indonesia.

Seperti yang dilansir Juara.net, PSSI memberlakukan aturan 2+1 yaitu 2 pemain asing luar Asia dan 1 asal Asia. Lalu berganti menjadi 2+1+1 (marquee player).

Marquee Player sendiri pernah diterapkan di LPI (Liga Primer Indonesia) pada zaman dualisme ketika Lee Hendrie bergabung dengan Bandung FC. Marquee player juga ada di Liga Australia (A-League) dan Liga Amerika Serikat (MLS). Tentu kebijakan Marquee Player sebenarnya bagus diterapkan di Indoensia untuk mengangkat nama Liga Indonesia sendiri.

Namun PSSI terlihat terburu-buru mengeluarkan statement terkait kebijakan pemain asing dalam sebuah klub di tengah hebohnya transfer Michael Essien. Ayolah! Essien sudah menua dan rentan cedera, masih kalah tangguh dengan striker gaek Christian Gonzales. Kenapa sih sepakbola kita mendadak ingin meroket seperti di India maupun Tiongkok dengan memboyong nama-nama kelas dunia? Sementara dengan bergulirnya lagi liga resmi saja seperti membangun kembali industri sepakbola Indonesia dari awal.

Saya lebih setuju jika peraturannya seperti ini:

2 pemain dari luar Asia; Benua Afrika, Eropa, Amerika, atau Oceania (Tidak wajib)

1 pemain dari Benua Asia (Wajib)

1 Pemain dari ASEAN alias Asia Tenggara (Wajib)

Mengapa harus ASEAN? Karena selain nilai transfernya yang lebih terjangkau, kualitas pemain dari Asia Tenggara tidaklah jelek. Lihat saja ketika Safee Sali dan Noh Alam shah pernah merumput di Liga Indonesia, sekejap jadi idola baru juga kan?

Nguyen Van Kuyet yang juga produktif di Liga Vietnam (Bongdaplus.vn)
Nguyen Van Kuyet yang juga produktif di Liga Vietnam (Bongdaplus.vn)
Chattong yang juga apik saat membela timnas Thailan di Piala AFF (www.matichoncoth.co.th)
Chattong yang juga apik saat membela timnas Thailan di Piala AFF (www.matichoncoth.co.th)
Menarik juga jika kita bisa menyaksikan aksi penyerang subur Vietnam, Nguyen Van Kuyet, atau bomber bongsor Thailand, Siroch Chatthong yang juga tampil apik di gelaran Piala AFF lalu. Malahan sempat beredar kabar kalau Madura United mengincar Chattong untuk merumput di Indonesia. Mereka pun juga masih berusia muda dan sangat potensial. Peraturan ini juga bisa menjadi daya tarik dan angin segar bagi pesepakbola Asia Tenggara yang notabene sudah tahu atmosfer sepakbola di Indonesia. Tak ada rotan, akar pun jadi. Tak Harus Marquee Player, Talenta Asia Tenggara pun Jadi.

Merekrut pemain kelas dunia boleh saja selama klub mampu membayar gajinya. Namun janganlah fenomena pemain dunia, yang sudah tua pula, dijadikan kewajiban karena terkesan terlalu memaksakan diri. Semoga peraturan terkait kebijakan pemain asing di Liga Indonesia segera dikaji ulang dan semain jelas, mengingat kick-off akan segera digelar bulan depan.