HEADLINE HIGHLIGHT

Prabowo dan Estimasi Persekutuan Politik

18 Juni 2012 05:37:25 Dibaca :
Prabowo dan Estimasi Persekutuan Politik
Prabowo Calon Terkuat Presiden RI 2014-2019 (Sumber : Official websites : Gerindra)

Dua kali hasil survey diumumkan dari entitas survey yang berbeda yakni Soegeng Sarjadi Syndicate (SSS) dan Lingkar Survey Indonesia (LSI) menempatkan Prabowo di urutan pertama.

Diluar konteks hasil survey lembaga riset tersebut, nama Prabowo secara realitas merupakan nama terkuat dalam konstelasi politik sekarang diliat dari sisi keterkenalan publik.  Hampir dipastikan bila suhu politik tidak berubah drastis seperti munculnya kuda hitam yang tak terduga maka Prabowo dengan mudah akan melenggang menjadi Presiden RI 2014-2019.

Masalahnya sekarang adalah bagaimana melihat infrastruktur dalam mesin Politik Gerindra sendiri, apakah Gerindra juga akan mengalami kerapuhan seperti yang dialami Partai Demokrat,  setelah ledakan suara 2009, Partai Demokrat menjadi partai yang limbung, hantaman kanan kiri, serta rusaknya jajaran penting kader muda yang potensial karena aksi penangkapan KPK membuat Partai ini harus rela tersingkir dalam pertarungan 2014.

Bagaimana peta konfigurasi dan persekutuan politik antara Gerindra dengan Partai-Partai lain menjelang dan sesudah Pemilu 2014?

Gerindra-PDIP

Persekutuan Politik Gerindra-PDIP atau bisa disebut dengan 'Persekutuan Nasionalis Merah Putih'  adalah persekutuan paling alami, Gerindra akan menyebut PDIP sebagai 'saudara tua' karena hubungan mereka amat dekat, watak Gerindra yang lahir dari semangat kejiwaan Kopassus, tentunya memiliki nilai yang diam-diam mereka pegang 'Tidak akan meninggalkan kawan yang terluka di medan pertempuran'. Bagi Gerindra sulit mereka meninggalkan PDIP, persekutuan politik ini dibilang adalah persekutuan abadi dalam dunia politik Indonesia, walaupun kita tak bisa menebak kronika politik ke depan, namun persekutuan ini adalah modal dasar Gerindra dalam membangun persekutuan ke kekuatan politik lainnya.  Kegagalan PDIP menciptakan kader baru yang muncul dan dijagokan, justru dikatalisator dengan Gerindra, Prabowo sendiri dengan keberanian jaminan politiknya mengangkat Jokowi untuk menjadi 'role model' bagi pemerintahan "model Prabowo" yang berbasis ekonomi kerakyatan, kebersamaan dan  Nasionalisme.  Andai nanti Jokowi gagal di pada Pemilu 11 Juli 2012, maka Jokowi akan dengan mudah menjadi jembatan kongsi terpenting antara Gerindra dengan PDIP untuk ditarik menjadi Cawapres,  Jokowi akan dijadikan jaminan politik terpenting persekutuan ini, termasuk kedekatan hubungan antara Prabowo dan Megawati. Prabowo juga akan terus memperhatikan tingkat elektabilitas Jokowi, juga seandainya Jokowi menang jadi Gubernur DKI dan memiliki tingkat kepopuleran tinggi secara nasional, Jokowi akan dipersiapkan menjadi Presiden RI bagi persekutuan Gerindra dan PDIP di tahun 2019.

Gerindra-Demokrat

Bila konflik SBY-Anas berlarut-larut bukan tak mungkin klan SBY akan meminta pertolongan pada kubu Prabowo, sementara Anas akan mengendalikan jaringan alumnus HMI-nya, sampai di sekarang belum jelas siapa calon kuat dari klan SBY untuk maju ke Pemilu 2014, andai Mayjen Pramono yang maju secara psikologis kubu Pramono akan dekat dengan Prabowo, tapi juga andai Ani Yudhoyono maka peta politik kedekatan tidak berubah, bagaimanapun antara SBY, Ani dan Prabowo mereka sudah mengenal lama, SBY dan Prabowo adalah teman belajar bersama, SBY banyak belajar bahasa Inggris dengan Prabowo, saat mereka sama-sama di AKABRI dan membentuk kelompok studi yang memperluas wawasan mereka soal negara, politik dan kebangsaaan.

Hubungan Gerindra-Demokrat, bisa dikatakan adalah hubungan alami, hubungan natural, mereka sama-sama teman dalam politik, memiliki nilai psikologis sama  dan tidak memiliki luka di masa lalu, ini berbeda misalnya antara Demokrat dengan PDIP atau Demokrat dengan Golkar kubu JK. Andai Demokrat dikuasai kelompok Anas, dan Klan SBY tersingkir bisa dipastikan jaringan politik SBY akan meminta Gerindra untuk mengadakan konfigurasi jembatan politik baru untuk menyelamatkan klan SBY dalam pertarungan politik, kubu Anas sendiri tidak memiliki jaringan efektif ke tubuh Gerindra dan Prabowo, andai Anas menang dalam Demokrat, tapi Prabowo menjadi Presiden-nya, Prabowo akan lebih mempertimbangkan klan SBY ketimbang kubu Anas.

Gerindra-Golkar

Hubungan Gerindra-Golkar adalah hubungan profesional, bukan hubungan emosional tidak seperti PDIP atau Demokrat klan SBY, dan Golkar selalu amat profesional dalam menjalin hubungan politik. Golkar dipastikan tidak akan membangun hubungan politik apapun kepada pihak yang menolak pencalonan Ical sebagai Presiden RI, ini berarti persekutuan politik Gerindra-Golkar pra Pemilu 2014 adalah mustahil, hubungan politik ini akan terwujud setelah ada kepastian siapa pemenang Pemilu 2014.  Jika basis indikator kita adalah survey politik maka Prabowo yang akan jadi Presiden RI, bila ini terjadi maka paket persekutuan Golkar dengan Gerindra amat mirip dengan paket penawaran persekutuan Golkar ke tangan Demokrat, namun Golkar akan sulit berhadapan dengan Prabowo yang keras kepala dan emosional namun cerdas serta visioner dengan SBY yang lamban, hati-hati dan menenggang perasaan. Disini Golkar akan berperanan sebagai 'penjaga kepentingan-kepentingan nasional Prabowo di Parlemen, seandainya Prabowo bisa menembus posisi Presiden RI'.

Gerindra-PKS

PKS sampai saat ini tidak melihat Gerindra sebagai bagian Nasionalis Kiri yang ekstrim, berbeda sekali pandangan PKS atau pelaku politik di kalangan PKS dalam melihat PDIP. -Persekutuan dengan PKS dijamin akan mudah, dan PKS tetap meminta lahan jatah kementerian yang selama ini dikuasainya seperti Kementerian Pertanian, Riset dan Informasi. Serta akan menambah persekutuan politik Gerindra dan PKS di seluruh kantong-kantong politik besar yang dikuasai PKS terutama di Jawa Barat.

Gerindra-Nasdem

Menurut banyak politisi, kemungkinan besar Nasdem akan lolos ambang batas perolehan minimal Partai Politik dalam Pemilu (Parlimentary Threshold), Prabowo tidak memiliki luka dalam hubungannya dengan Surya Paloh, tapi tentunya Prabowo akan berhati-hati bila berhubungan dengan Harry Tanoe, untuk menjaga perasaan keluarga Cendana, bagaimanapun Harry Tanoe masih bermasalah dengan keluarga Cendana terutama dalam kasus melebarnya sengketa kepemilikan TPI.

Prabowo dan Garis Ekonomi-nya

Sampai sekarang jaringan ekonomi terbesar Prabowo yang diketahui publik tentunya adalah adik kandung Prabowo, Hasjim Djojohadikusumo, menjadi pertanyaan besar apabila Prabowo menjadi Presiden RI dimanakah letak penting posisi politik Hasjim dalam rancangan gerak ekonomi nasional, Hasjim amat mengetahui ekonomi Makro dan Mikro serta permasalahan-permasalahan mendasar ekonomi Indonesia dari sisi praksis, belum lagi ipar Prabowo, Soedradjat Djiwandono mengerti tentang permasalahan ekonomi moneter di Indonesia, disini Prabowo tidak kekurangan ahli-ahli ekonominya, ingat ada beberapa gerbong ekonom-ekonom loyalis Sumitro Djojohadikusumo  siap berjalan di garis Prabowo, hanya masalahnya jenis ekonomi apakah yang akan ditarik oleh Prabowo?, apakah garis Widjojonomics yang liberal atau pilihan ekonom model Sukarno? -hanya saja ada satu catatan penting disini menyimak salah satu keluhan Soemitro Djojohadikusumo dalam otobiografinya, bahwa ia agak menyesali para ekonom-ekonom muda UI hanya karena kendala teknis tidak mengirimkan mereka ke Inggris yang lebih mengedepankan ekonomi Sosialis Kemakmuran, ketimbang mengirimkan mereka ke Amerika Serikat yang liberal. - dan lagi latar belakang Soemitro yang beraliran Sosialis, Soemitro sendiri adalah salah satu pembesar PSI, yang dijuluki Rosihan Anwar sebagai D' artagnan, salah satu Muskeeters yang anggun dan diluar kelompok Three Musketeers, seorang Sosialis yang kesepian.

Tentunya dalam iklan-iklan politik Prabowo yang secara eksplisit bermuara pada satu persoalan : -Merebut Kedaulatan Ekonomi Rakyat- harus dijadikan kontrak politik bersama antara Prabowo dengan Rakyat Indonesia, karena persoalan terbesar Indonesia saat ini adalah 'gagalnya bangsa kita menghapus kontrak-kontrak Konsesi model VOC dalam sistem kontrak tambang dan segala macam bentuk modal dan aliran komoditas lainnya'.

Apakah Prabowo bisa menjadi Hugo Chavez from Indonesia? -Anton DH Nugrahanto-.

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?