Dilema PKS' Cyber Army di Kompasiana, Ingin Memperbaiki Citra, Malah Memperburuk Citranya

04 Mei 2013 00:37:27 Dibaca :

Saya sudah cukup banyak menemui PKS Cyber Army di Kompasiana ini. Setiap saya menulis sesuatu yang menyangkut PKS, mereka akan ramai-ramai datang dan berkomentar. Dalam pengamatan saya, hampir tidak ada dari yang berkomentar yang matang dalam berargumen. Modal utama hanyalah ngotot. Atau yang paling buruk, melakukan tindakan-tindakan yang tidak terpuji seperti spamming, bullying, flooding, dan satu lagi yang pasti, annoying. Sebagaimana pernah dikatakan oleh Fahri Hamzah, Ketua Fraksi PKS di DPR, bahwa PKS menerjunkan sejuta Cyber Army ke dunia maya untuk mengkaunter isu-isu yang berpotensi merusak citra PKS di dunia maya, utamanya di berbagai media sosial. Di samping untuk mengkaunter, mereka juga ditugaskan membuat tulisan-tulisan tentang PKS. Karena mereka adalah army PKS, maka sudah barang tentu mereka akan menulis hal-hal yang baik tentang PKS, segala puja-puji hampa kepada PKS. Namun sayang seribu sayang, dari pengamatan saya dan dari apa yang sudah heboh dibicarakan di Kompasiana ini, Cyber Army PKS ini malah meruntuhkan citra PKS sebagai partai yang bermoral. Para Cyber Army PKS ini seringkali tidak mengindahkan kaidah penulisan dan melabrak aturan dan tata tertib yang berlaku. Misalnya, dalam pengamatan saya, mereka tidak kompeten dalam menulis, tidak kompeten dalam menanggapi suatu isu, dan tidak kompeten dalam isu politik dan isu-isu lainya. Mereka bukanlah penulis-penulis yang memiliki pengetahuan dan wawasan yang memadai dalam berbagai isu. Mereka seringkali hanya mengandalkan modal ngotot, dan annoying. Mereka sepertinya terbuai dengan slogan hampa: Salam 3 besar. Mau tiga besar koq melabrak etika dan moral? Etika dan moral itu lebih penting daripada sekedar menjadi 3 besar. Alih-alih mereka memperbaiki citra partai yang mereka bela, yang ada adalah mereka malah dapat serangan dari berbagai pihak, khususnya terkait etika dan moral penulisan mereka. Seringkali mereka meng-copy & paste suatu tulisan dari media lain ke Kompasiana ini. Ironisnya, ketika mereka dikritik telah melanggar aturan dan tata tertib, mereka malah balik marah dan mengancam yang mengkritik, bukan meminta maaf dan menghapus tulisannya. Bagi kelompok tertentu yang belum paham bagaimana suatu aturan yang berlaku, barangkali kesalahan sekali dua kali masih bisa dipahami (misalnya anak SMP yang mulai menulis). Namun, dari apa yang saya pahami, sepertinya memperbaiki diri bukanlah hal penting bagi mereka dan sepertinya hal itu tidak diajarkan saat briefing di partainya. Bagaimanapun, copy and paste itu adalah melanggar etika, terlebih di Kompasiana yang menerapkan aturan tegas terhadap hal itu. Bahkan di Kompasiana ada aturan yang tidak mengijikan isi tulisan yang dicopy dari media lain tidak bisa lebih dari 20% isi tulisan. Jika terpaksa, kita hanya diijinkan mengutip sebagian dan sisanya hanya perlu ditautkan. Perilaku lain yang menurut saya sama tidak terpujinya, mereka tidak fokus pada isi dan materi tulisan. Jika mengkritik partainya, maka selalu menuduh telah melakukan insult terhadap agamanya, atau yang paling sopan dengan mengatakan telah mencampuri agamanya. Mereka lupa bahwa PKS adalah partai politik yang hidup di negara Republik Indonesia, menggunakan anggaran dari pemerintah. PKS adalah partai politik, sama seperti partai lain seperti Partai Demokrat, Golkar, PDI-P, Gerindra, Hanura, PPP, PKB, PAN, dan partai-partai lain. Secara kebetulan, asas PKS adalah Islam. Oleh karena itu, jika partai mereka dikritik, mereka akan dengan sangat lantang mengatakan bahwa yang mengkritik mereka adalah musuh agama mereka. Mereka lupa bahwa selain PKS, masih ada PPP, PKB, dan PAN (dan PBB partai non parlemen) yang juga berideologi sama. Entah karena mereka buta dan tuli atau memang sengaja menutup mata dan telinga, mereka tidak pernah bisa dengan cara yang jernih melihat esensi suatu tulisan, dan mereka tidak pernah melihat bahwa tiga/empat partai berideologi sama tidak mendapat kritikan yang sama tajamnya. Jika kritik kepada mereka dianggap kritik kepada agama, mestinya ketiga/keempat partai tersebut juga harusnya mendapatkan kritik yang sama. yang lebih parah, mengkritik perilaku kader yang terlibat korupsi saja mereka bela habis-habisan. Saya belum pernah melihat ada kader atau simpatisan partai manapun yang sedemikian terdoktrinasi seperti PKS Lovers ini. Saya jadi bertanya, apakah bagi PKS korupsi itu halal? Tak perlu berargumen bahwa LHI belum diputus perkaranya. Bagi saya, ditangkap KPK saja sudah merupakan aib besar. Apalagi dijemput dari markas besar, itu adalah aib yang luar biasa besar, semestinya. Atas perilaku mereka (Cyber Army PKS tersebut), yang ada adalah debat yang tak berkesudahan. Cyber Army PKS yang bertebaran di Kompasiana ini malah telah membuat orang lain (setidaknya saya) memahami dengan sangat baik seperti apa kualitas kader dan simpatisan PKS. Menyitir suatu adigium, saya ingin mengatakan kepada para Cyber Army PKS ini: "Jika karena kalian bicara malah menunjukkan siapa kalian, maka sebaiknya kalian diam saja supaya orang tidak tahu kualitas kalian". Mungkin Fachry Hamzah perlu memberikan briefing lagi kepada mereka. Selamat diam. == Baca tulisan saya di bawah ini yang menunjukkan bicaranya mereka malah menunjukkan siapa mereka Dilema PKS, PKS Galau di Simpang Jalan. Pilih Jalan yang Mana?

Andreas S

/andreass

Law enforcement for all.... 2014 is a milestone for law enforcement for Indonesia with new leader to lead.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?