Asal Muasal Hajar Aswad

19 Oktober 2013 13:56:17 Diperbarui: 23 Juni 2015 23:18:38 Dibaca : 33317 Komentar : 6 Nilai : 2 Durasi Baca :

Assalamualaikum Wr. Wb.


Banyak dari kita yang tidak tahu asal-usul Hajar Aswad dan dan bagaimana dia bisa sampai ditempatkan di samping Ka'bah. Apakah ada sunnahnya kita menciumnya? Dan apa nilai, fungsinya dan hukumnya mencium Hajar Aswad tersebut?


Hajar Aswad maknanya adalah batu hitam, dulunya batu hitam ini berada di syurga tetapi dibawa turun oleh malaikat Jibril ke dunia dalam wujud batu Meteor. Ketika itu Nabi Ismail diminta oleh Nabi Ibrahim untuk mencari sebuah batu yang memiliki bentuk khas dan pantas untuk dimuliakan untuk dijadikan penghias Kabah. Ketika mencari batu yang itu, Nabi Ismail melihat cahaya jatuh dari langit dan nabi Ismail pun mengikuti arah batu itu terjatuh sampai akhirnya Nabi Ismail menemukannya. Maka karena bentuknya yang unik, Nabi Ismail mengambilnya dan memberitahu Nabi Ibrahim bahwa batu itu dia peroleh melalui Malaikat Jibril. Batu itu kini ada di salah satu sudut Ka`bah yang mulia yaitu di sebelah tenggara dan menjadi tempat awal dan akhir untuk melakukan ibadah tawaf di sekeliling Ka`bah.


Ketika mengunjungi batu hitam ini, umat Islam harus mengucapkan suatu tirakat yang artinya kira2 demikian: "ya Allah, kepadamu aku datang memenuhi panggilanmu" sambil mencium batu Hajar Aswad itu, yang menyimbolkan kedekatan umat dengan Allah SWT.


Batu itulah yang kemudian diberi nama Hajar As`ad, dan sejalan dengan kemajuan zaman akhirnya batu hitam tersebut di buatkan bingkai dan ditaruh pada posisi 1,5 meter dari atas permukaan tanah. Batu yang berbentuk telur dengan warna hitam kemerah-merahan. Di dalamnya ada titik-titik merah campur kuning sebanyak 30 buah. Dibingkai dengan perak setebal 10 cm. Konon bingkai2 indah ini dibuatkan oleh Abdullah bin Zubair, seorang shahabat Rasulullah SAW, untuk memuliakan batu hitam ini. Secara kasat mata, bentuk Hajar As’ad dibuat mirip bentuk vagina adalah melambangkan betapa Islam sangat mengagungkan wanita.


Batu ini asalnya dari surga sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh sejumlah ulama hadis.


Dari Ibnu Abbas ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Hajar Aswad turun dari surga berwarna lebih putih dari susu lalu berubah warnanya jadi hitam akibat dosa-dosa bani Adam." (HR Timirzi, An-Nasa`I, Ahmad, Ibnu Khuzaemah dan Al-Baihaqi).


Maksudnya adalah bahwa sebelum jatuh dalam wujud batu meteor, dulunya batu hitam ini putih dan menjadi hitam karena dosa2 bani Adam. Namun ketahuilah bahwa batu hitam ini kelak akan dihidupkan kembali sama seperti zat2 hidup lainnya, hal ini tertulis di dalam salah satu hadits yang berarti kira2 demikian:


Dari Ibnu Abbas ra. bahwa Rasulullah SAW bersada, "Demi Allah, Allah akan membangkit hajar Aswad ini pada hari qiyamat dengan memiliki dua mata yang dapat melihat dan lidah yang dapat berbicara. Dia akan memberikan kesaksian kepada siapa yang pernah mengusapnya dengan hak." (HR Tirmizy, Ibnu Majah, Ahmad, Ad-Darimi, Ibnu Khuzaemah, Ibnu Hibban, At-Tabrani, Al-Hakim, Al-Baihaqi, Al-Asbahani).


At-Tirmizi mengatakan bahwa hadits ini hadits hasan. Sedangkan Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih dalam kitab Shahihul Jami` no. 2180, 5222 dan 6975.


Dari Abdullah bin Amru berkata, "Malaikat Jibril telah membawa Hajar Aswad dari surga lalu meletakkannya di tempat yang kamu lihat sekarang ini. Kamu tetap akan berada dalam kebaikan selama Hajar Aswad itu ada. Nikmatilah batu itu selama kamu masih mampu menikmatinya. Karena akan tiba saat di mana Jibril datang kembali untuk membawa batu tersebut ke tempat semula. (HR Al-Azraqy).


Bagaimanapun juga Hajarul Aswad adalah batu meteor biasa, dan meskipun banyak kaum muslimin yang menciumnya atau menyentuhnya, hal tersebut hanya mengikuti apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW. Umar bin Al-Khattab berkata, "Demi Allah, aku benar-benar mengetahui bahwa engkau adalah batu yang tidak bisa memberi madharat maupun manfaat. Kalalulah aku tidak melihat Rasulullah SAW menciummu aku pun tidak akan melakukannya." Ini bukan berarti bahwa umat Islam hanya sekedar ikut2an semata, melainkan karena kehendak Allah SWT.


Wallahu a`lam bish-shawab, wassalamu `alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana