Shita R.Rahutomo
Shita R.Rahutomo karyawan swasta

mengajar, menulis, gila baca, outdoor traveling, makandan masak enak, ingin jadi ibu yang baik dan bermanfaat bagi sesama, pemimpi,

Selanjutnya

Tutup

pilihan

Tersimpan Banyak Cerita di Mobil Pertamaku, Toyota Corona Absolute

24 Juli 2017   12:06 Diperbarui: 27 Juli 2017   15:06 1607 4 3

Ada kisah sendu sebenarnya dibalik pembelian mobil ini. Hidup manusia itu seperti roda, kadang kita di atas tapi kadang kita juga harus terjatuh ke titik nadir..tanpa kita mendapat aba-aba sebelumnya. Tanpa kita diberi waktu untuk menyiapkan diri menerima cobaan itu.

Tahun 2008 adalah tahun titik nadir dalam hidup saya. Mungkin saya terlambat melihat tanda-tanda perubahan pada suami, atau saya terlalu percaya sehingga tidak mencium ada yang aneh dalam hubungan kami. Itu bermula ketika ia mengikuti pengajian yang di kemudian hari perkumpulan ini membuatnya berubah 180 derajat dari seorang suami dan ayah yang penyayang, penuh perhatian dan tanggung jawab, lalu menjadi seorang yang tak saya kenali lagi. 

Ya,..suami saya meninggalkan saya dan anak-anak ketika si adek masih berumur 3 tahun dan kakak kelas 5 SD. Beliau pergi begitu saja, meninggalkan luka besar pada hati saya dan anak-anak. Yang parah adalah,..saya selama ini dilarang bekerja, hanya menjadi ibu rumah tangga. Sebagai istri solehah (cieeh...) saya menurut pada keinginan suami. Meski kadang Ibu mengingatkan, alangkah sayang pendidikan tinggi yang saya jalani akhirnya tak terpakai. Dan beliau meninggalkan saya dan anak-anak tanpa mempersiapkan diri saya untuk bisa menadiri.

Saya jatuh? Banget.

Saya terpukul? Hampir gila rasanya.

Saya sedih, saya down, saya tak percaya diri. Saya merasa diri saya buruk, bodoh, mengerikan. 

Tapi Tuhan itu baiiiik sekali karena menganugerahi keluarga yang sayaaang sekali pada saya (langsung prembik-prembik mo nangis nulis ini). Ibu dengan keputusan briliannya langsung menyekolahkan saya ke Pasca Sarjana, dan langsung menyubsidi tabungan saya untuk membeli mobil. Sebagai hiburan buat saya, untuk membantu saya mengumpulkan kembali harga diri yang terserak. 

Kuliah lagi membantu saya memulihkan diri, teman-teman baru membuat wawasan saya meluas, dalam segala hal. Pertemanan bertambah, percaya diri saya naik perlahan-lahan. Dan TUhan yang baik menganugerahi saya pekerjaan. Tapi jarak yang jauh membuat saya mau tak mau memang harus punya kendaraan sendiri. Maka Toyota Corona Absolute 2.0  yang sebelumnya milik kakak saya beralih pemilik. 

Karena selama ini dimanjakan dengan fasilitas sopir yang mengantar kemanapun saya ingin pergi, saya tak bisa nyetir. Ibu mencarikan sopir dari kampung yang dikontrak dua bulan untuk menjadi sopir seklaigus mengajari saya nyetir. Dan anaknya baiiik banget. Sabar. Kebetulan tempat kerja berada di perumahan yang jalannya panjang dan lebar-lebar. Setiap pulang kerja mas sopir mengajari saya nyetir. 

Di bulan ke dua saya sudah membawa kendaraan sendiri dan mas sopir cuma mendanpingi. Karena setiap hari berlatih saya pun akhirnya pede di bulan kedua untuk pegang sendiri. Mas sopir kembali pulang kampung. Anak saya merasa kehilangan karena ia baik ke anak-anak. 

Toyota Corona dalamnya sangat luas, mesinnya halus dan nyaman. dan sudah dimodifikasi pemilik sebelumnya jadi tampil mewah. Tak pernah rewel. Mas sopir mengajari cara merawat mobil dari urusan isi air radiator sampai ganti ban. Dan suaranya..karena sudah dimodif seksii sekali. Pernah pagi-pagi ketika saya memanaskan mobil sambil coba gasnya,. yang brum...brum.... ala Toreto gitu,.....tetangga saya yang mobilnya mobil sport, langsung keluar, kepo, mencari -cari mobil apa yang baru saja menggerung.  Mungkin dalam imajinasinya, mobil sport keluaran terbaru haha.... terpaksa saya nyengir begitu lihat ekspresinya saat melihat mobilnya tak segarang tampilan suaranya, hehe. Dia kembali masuk rumah dengan bersungut-sungut.

Begitu mas sopir pulang, si kakak ketularan temannya di sekolah, sakit mata yang paraaah banget. Pahitnya, saya dan adiknya ketularan sampai mata kami bengkak seperti kena tinju dan pandangan menjadi blur. Karena penyebabnya virus, saya dilarang masuk kantor. Sayang, adik menderita diare akut. Muntah-muntah dan buang air besar berkali-kali. Saya panik sekali melihatnya pucat kurang cairan. Jarak dari cluster ke jalan raya jauh,..dan telepon taksi tak ada yang mengangkat. Akhirnya nekat saja bawa mobil sendiri ke sebuah rumah sakit besar di Bandung.

Di jalan kendaraan padat sekali. Sambil memperhatikan adek yang sudah lemas dan lunglai, dan si kakak yang duduk di belakang, saya memicingkan mata supaya pandangan lebih jelas. Jangan sampai mengakibatkan tabrakan. Tibalah kami di rumah sakit dengan selamat. Tapi parkir luar sudah habis, terpaksa saya masuk parkir dalam. 

Rasanya pingin nangis kenceng. Mana jarak antar kendaraan sangat dekat. Tiap kali naik tanjakan dan dalam antrian.... saya grogi setengah mati, takut mobil mundur mengenail mobil lain.  Lantai 1 ..setelah puter-puter penuh. Lantai 2 juga...sampai akhirnya di lantai 3 dengan pandangan kabur dan susah payah bisa juga dapat parkir. Rasanya pingin nangis saking leganya. Setengah berlari bawa adik ke klinik anak.

Di lain waktu, saking sedihnya saya naik mobil sendiri keliling Bandung malam-malam sendiri sepi ke Bukit Cinta untuk menenangkan diri. Dengan mobil Corona itu juga tiap week end saya gantikan peran ayahnya, membawa anak-anak jalan-jalan meski hanya sekedar naik kuda di daerah kampus ITB Taman Sari, ke taman lalu lintas Ade Irma, beli yoghurt Cisangkuy atau belanja kebutuhan bulanan. Mereka sudah senang sekali. Tahu bahwa keadaan sudah berubah.  Baik adek maupun Kakak, tanpa diminta sudah sangat pengertian. 

Dengan mobil itu juga, saya jemput ayahnya anak-anak ke Bandara Cengkareng dari Bandung pukul 01.00 pagi sendiri, saat ia ingin pulang ke rumah kami secara diam-diam tanpa ketahuan orang yang dipanggilnya ustadz dengan penuh takzim. Orang yang mengatasnamakan agama untuk mengeksploitasi orang lain. Wajahnya yang lelah dan tanpa ekspresi tertidur pulas sambil memegang tanganku yang memegang persneling gigi. Sementara saya menyetir sambil berlelehan air mata. Karena mengalami sendiri, saya sangat paham kenapa orang sampai mau bawa bom, melukai orang, melupakan anak istri, karena jiwa dan akalnya sudah dipasung entah dengan ilmu apa.

Dengan mobil itu juga, saya bawa dia ke UGD tengah malam karena ia berteriak-teriak kesakitan , sakit perut yang dari hasil diagnosa dokter disebabkan perlengketan usus yang membuatnya harus berada di UGD jika tak hilang rasa sakitnya, ia harus menjalani operasi. Syukurlah sakitnya menghilang, dan menghilang pula ayah anak-anak saya tanpa pamit sesudah itu.

Mobil Toyota Corona absolute itu adalah saksi seluruh kisah sedih selama bertahun-tahun yang pernah saya alami. Di mobil itu pula, tiap kali sedih, saya pasang musik kencang-kencang sambil menangis diam-diam agar anak-anak tidak tahu. Dan mobil ini sepertinya tahu, kalau yang bawa ibu-ibu yang dananya limited edition. Ga pernah rusak, ga pernah rewel ga pernah nyusahin, padahal kalao isi bensin sering dibawah setengah hehe.... Pokoknya mobil ini seperti jadi teman hidup saya. Justru pakai mobil ini tak pernah kepentok-pentok, tak pernah nabrak, dan bodinya tebal sekali, karena masih produksi lama. Kalau buat perjalanan jauh juga nyaman karena ruangya yang luas sehingga anak-anak bisa tidur berdua di belakang dan bagasinya luas untuk nagkut-angkut barang. 

Itu kenanganku tentang Toyota Corona Absolute 2.0. Sayang setelah itu,..edisinya tak diperpanjang lagi.