Matinya Pelayanan Kesehatan

16 Mei 2012 19:29:49 Dibaca :

الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ



Saya berduka cita bagi saudariku yang berpulang ke Rahmatullah, semoga Allah mengampuni dosa-dosanya, melapangkan kuburnya, memudahkan jalannya menuju Syurga dan memberikan ketabahan dan kekuatan bagi keluarga yang ditinggalkannya, amiin ya rabbal alamiin..



Hari ini 16 Mei 2012, ada kerabat yang merupakan isteri dari seorang suami dan ibu dari dua orang putera yang meninggal di salah satu Rumah Sakit Umum (RSU) di kota Ambon, sebelumnya Almarhumah masuk dan dirawat di RS tersebut sejak kemarin malam jam 8.30 Wit (Waktu Indonesia Timur) tanggal 15 Mei 2012, karena mengalami pendarahan saat akan melahirkan. Ketika masuk di RS ini, almarhumah ditempatkan di salah satu ruang inap, saat itu kemudian dilakukan infus dan pengambilan sampel darah Almarhumah. Selang beberapa jam kemudian, Almarhumah melahirkan anak perempuan dalam keadaan tidak selamat kurang lebih pada Jam 12.00 Wit secara normal, setelah melahirkan almarhumah tetap mengalami pendarahan dan tindakan yang diambil petugas RS adalah di Infus, dan tidak dilakukan transfusi darah. Hasil sampel darahnya diberitahukan ke pihak keluarga pada pagi harinya jam 7.00 Wit, bahwa kadar Hemoglobin (Hb) dalam darah Almarhumah berada pada level 4, artinya harus dilakukan transfusi darah. Pada saat itu juga, pihak keluarga mencari beberapa orang keluarga yang bersedia untuk mendonorkan darahnya, kebetulan darah Almarhumah bergolongan “O” dan ada dua orang yang bergolongan darah yang sama dengan Almarhumah, tetapi ketika belum selesai pengecekan darah pendonor di ruang Laboratorium RS, sudah ada kabar dari ruang inap bahwa Almarhumah telah meninggal “Innalillahi wa innalillahi rajiun”, ia telah dipanggil ALLAH SWT, Sang pemilik hidup tepat beberapa menit setelah pemberitahuan hasil Lab tersebut. Tentunya sebagai manusia yang beriman kita harus menerima kenyataan ini, sudah menjadi sunah-NYA bahwa segala sesuatu yang hidup pasti akan mati.


Setelah itu pihak keluarga meminta penjelasan pihak Rumah Sakit tentang sebab-sebab kematian dan sekaligus penyelesaian administrasi sebelum memulangkan Jenazah ke kampung halaman yang berjarak kurang lebih 60 km dari kota Ambon tempat Rumah Sakit Umum tersebut berada. Administrasinya selesai dan tidak dikenakan baiya karena Almarhumah adalah pemegang JAMKESKIN, namun menyangkut penjelasan tentang sebab kematiannya termasuk kondisi terakhir Almarhumah, pihak keluarga hanya diberikan penjelasan bahwa, yang mengetahui kondisi terakhir Almarhumah adalah bidan yang bertugas pada malam hari dan ia telah selesai bertugas dan pulang ke-rumah, jadi kami yang disini tidak tahu, tak lama kemudian ada telepon dari Dokter yang menangani almarhumah, ia menjelaskan kepada pihak keluarga bahwa kondisi Almarhumah telah lemah semenjak awal dimasukkan ke Rumah Sakit ini. Disamping itu ada penjelasan lain juga ketika pihak keluarga bertanya kepada bidan/perawat yang lain, kenapa hasil laboratorium tentang pemeriksaan darah almarhumah baru dikeluarkan pada pagi hari dan kenapa tidak dilakukan transfusi darah pada waktu malam hari, jawabannya hanya permintaan maaf dan katanya lagi persediaan darah di RS ini tidak ada, sehingga tidak bisa dilakukan transfusi darah pada malam itu dan juga secara visual katanya kondisi Almarhumah masih baik/kuat karena bisa berbicara sehingga tidak dilakukan transfusi darah. Dalam kasus ini ada beberapa hal yang perlu dipertanyakan, terutama setelah pihak keluarga meminta penjelasan dari pihak RS, diantaranya yaitu: pertama ; kenapa hasil pemeriksaan darah di laboratorium baru diberitahukan kepada pihak keluarga pada pagi hari jam 7.00 wit?, apakah butuh waktu selama itu, untuk melakukan dan memberitahukan hasil tes darah Almarhumah?, kedua : penjelasan Dokter melalui telepon kepada pihak keluarga bahwa kondisi Almarhumah telah lemah semenjak dibawa oleh pihak keluarga ke Rumah Sakit, pertanyaannya kenapa tidak dilakukan tindakan medis yang bisa memulihkan kondisi Almarhumah ketika itu, yang bukan hanya sekedar infus? Misalnya transfusi darah dan sebagainya?, ketiga : Jawaban dari salah satu bidan, persediaan darah di rumah sakit tidak ada!! Jika demikian halnya, kenapa tidak diberitahukan ke pihak keluarga sejak awal, kan bisa dicarikan solusi untuk mencari pendonor pada malam itu juga. Keempat : ada indikasi inkosistensi antara pernyataan Dokter dan Bidan ruangan, Dokter menyatakan bahwa kondisi Almarhumah lemah sementara bidan ruangan menyatakan kondisi Almarhumah masih kuat karena bisa berbicara, sehingga tidak dilakukan transfusi darah sampai pada saat kondisi Almarhumah drop dan kemudian meninggal pada pagi harinya. Indikator medis apa yang digunakan untuk menilai kondisi Almarhumah sehingga ada perbedaan antara Dokter dan Perawat, dimana profesionalisme yang digunakan untuk menerapkan standar minimum pelayanan kesehatan bagi masyarakat yang membutuhkan...???Apakah ini model pelayanan bagi pemegang kartu JAMKESKIN ?? Jika demikian adanya Rumah Sakit hanya sekedar tempat transit untuk menjemput Kematiaan !!!! Naudzubillahimindzalik...


Pada akhirnya, jika begini terus keadaannya, berapa banyak suami yang akan kehilangan isteri dan anaknya, dan berapa banyak anak yang akan kehilangan kasih sayang ibunya...???


Semoga Pelayanan Kesehatan di Negeri ini dapat diperbaiki !!!

Jufri Laitupa

/alpachri

Pemerhati masalah Pendidikan, Sosial, Kesehatan, Perikanan Dsb..
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?