"Karakteristik yang Jenis Kayu yang Digunakan dalam Pembuatan Rumah Tradisional Bali"

17 Desember 2010 13:43:37 Dibaca :

“KARAKTERISTIK JENIS KAYU YANG DIGUNAKAN DALAM PEMBUATAN RUMAH TRADISIONAL BALI


DITINJAU DARI KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT DAN


STRUKTUR ANATOMI”



OLEH.


I Komang Alit Adi Sanjaya



BAB I


PENDAHULUAN





Manusia Bali dan alam semesta adalah suatu hal yang tidak dapat dipisahkan, begitu pula dengan arsisteknya (Wisnu; 1994). Manusia Bali tradisional tinggal dalam sebuah perkampungan yang ditata dengan pola-pola tertentu yang mengacu pada alam semesta, yaitu kaidah arah angin; kaja-kelod dan kangin-kauh (Wisnu; 1994). Arsistek tradisional Bali tidak dapat terlepas dari keeradaan Asta Kosala-Kosali yang memuat tentang aturan-aturan dalam pembuatan rumah atau puri dan aturan tempat pembuatan tempat ibadah (pura). Dalam Asta Kosala-Kosali disebutkan bahwa aturan-aturan dalam pemuatan rumah harus mengikuti aturan-aturan anatomi tubuh sang empunya pemilik rumah dengan di bantu oleh sang undagi. Dalam Asta Kosala-Kosali, terdapat ukuran-ukuran atau dimensi yang didasarkan pada ukuran jari-jari si pemilik rumah yang akan menempati rumah tersebut.


Sistem kontruksi pada arsistektur tradisional Bali mempertimbangkan konsep yang dinamakan Tri Angga. Yaitu sebuah konsep hirarki dari mulai nista, madya dan utama (Wisnu; 1994). Nista menggambarkan suatu hirarki paling bawah keberadaannya dalam suatu tingkatan, yang biasanya diwujudkan dengan bangunan dapur dan gerbang (angkul-angkul). Madya adalah bagian tengah dari suatu rumah yang diwujudkan dalam bentuk kamar (bale). Sedangkan utama merupakan suatu hirarki yang kedudukannya paling tinggi, yang diwujudkan dalam bangunan tempat suci (pura atau parhayangan)


Ketiga filosofis dari Tri Angga ini yang menaungi jenis bangunan yang berbeda, ternyata dalam pembuatan bangunan tersebut, menggunakan jenis kayu yang berbeda. Perbedaan jenis kayu yang digunakan ini mengacu pada makna filosofis dari kayu yang digunakan. Dalam pembuatan rumah tradisional Bali, pemilihan jenis kayu yang akan digunakan sangat penting. Misalnya pada tempat ibadah (parhayangan) biasanya menggunakan biasanya menggunakan kayu-kayu yang dianggap suci, seperti kayu Cendana (Santalum album L.), dan Kayu Cempaka (Michelia champaca L.). dari sini terlihat bahwa dari jaman dahulu orang Bali sudah dapat mengkalsifikasikan jenis kayu berdasarkan penggunaanya dalam pembuatan bangunan. Apabila di lihat dari struktur kayu yang digunakan diatas, ternyata kayu yang memiliki suatu kelebihan dari kayu-kayu yang lain.


Dari latar belakang diatas, dalam pembuatan makalah ini, penulis akan membahas mengenai jenis kayu yang digunakan dalam pembuatan rumah rumah tradisional Bali yang akan dikaji berdasarkan struktur anatomi.








BAB II


PEMBAHASAN



2.1 Konsep Dasar Kayu serta Metode Pemilihan Kayu


Kayu dapat diartikan sebagai bagian keras dari suatu tanaman yang digolongkan kepada pohon dan semak belukar (Wikipedia; 2008). Kayu biasanya dapat digunakan dalam berbagai keperluan manusia seperti memasak, membuat perabot, dan yang terpenting dalam pembuatan bahan bangunan. Selain itu, kayu juga banyak dimanfaatkan sebagai bahan untuk membuat kerajian tanagn dan hiasan-hiasan rumah lainnya. Dalam mengenal dan memnetukan jenis kayu, biasanya dilakukan dengan hanya memperhatikan sifat-sifat kasar yang mudah dilihat. Pada dasarnya terdapat 2 (dua) sifat utama kayu yang dapat dipergunakan untuk mengenal kayu, yaitu sifat fisik (disebut juga sifat kasar atau sifat makroskopis) dan sifat struktur (disebut juga sifat mikroskopis).  Secara obyektif, sifat struktur atau mikroskopis lebih dapat diandalkan dari pada sifat fisik atau makroskopis dalam mengenal atau menentukan suatu jenis kayu.  Namun untuk mendapatkan hasil yang lebih dapat dipercaya, akan lebih baik bila kedua sifat ini dapat dipergunakan secara bersama-sama, karena sifat fisik akan mendukung sifat struktur dalam menentukan jenis.


Sifat fisik/kasar atau makroskopis adalah sifat yang dapat diketahui secara jelas melalui panca indera, baik dengan penglihatan,  pen-ciuman,  perabaan dan sebagainya tanpa menggunakan alat bantu.   Sifat-sifat kayu yang termasuk dalam sifat kasar antara lain adalah :


a. warna, umumnya yang digunakan adalah warna kayu teras,


b. tekstur, yaitu penampilan sifat struktur pada bidang lintang,


c. arah serat, yaitu arah umum dari sel-sel pembentuk kayu,


d. gambar, baik yang terlihat pada bidang radial maupun tangensial


e. berat, umumnya dengan menggunakan berat jenis


f. kesan raba, yaitu kesan yang diperoleh saat meraba kayu,


g. lingkaran tumbuh,


h. bau, dan sebagainya.


Sifat struktur/mikroskopis adalah sifat yang dapat kita ketahui dengan mempergunakan alat bantu, misalnya kaca pembesar (loupe) atau menggunakan mikroskop. Sifat struktur yang biasanya diamati adalah :


a. Pori (vessel)


adalah sel yang berbentuk pembuluh dengan arah longitudinal.  Dengan mempergunakan loupe, pada bidang lintang, pori terlihat sebagai lubang-lubang beraturan maupun tidak, ukuran kecil maupun besar.  Pori dapat dibedakan berdasarkan penyebaran, susunan, isi, ukuran, jumlah dan bidang perforasi).


b. Parenkim (Parenchyma)


adalah sel yang berdinding tipis dengan bentuk batu bata dengan arah longitudinal.  Dengan mempergunakan loupe, pada bidang lintang,  parenkim (jaringan parenkim) terlihat mempunyai warna yang lebih cerah dibanding dengan warna sel sekelilingnya.  Parenkim dapat dibedakan berdasarkan atas hubungannya dengan pori, yaitu parenkim paratrakeal (berhubungan dengan pori) dan apotrakeral (tidak berhubungan dengan pori).


c. Jari-jari (Rays)


adalah parenkim dengan arah horizontal.  Dengan mempergunakan loupe, pada bidang lintang, jari-jari terlihat seperti garis-garis yang sejajar dengan warna yang lebih cerah dibanding warna sekelilingnya.  Jari-jari dapat dibedakan berdasarkan ukuran lebarnya dan keseragaman ukurannya.


d. Saluran interseluler


adalah saluran yang berada di antara sel-sel kayu yang berfungsi sebagai saluran khusus. Saluran interseluler ini tidak selalu ada pada setiap jenis kayu, tetapi hanya terdapat pada jenis-jenis tertentu, misalnya beberapa jenis kayu dalam famili Dipterocarpaceae, antara lain meranti (Shorea spp), kapur (Dryobalanops spp), keruing (Dipterocarpus spp), mersawa (Anisoptera spp), dan sebagainya. Berdasarkan arahnya, saluran interseluler dibedakan atas saluran interseluler aksial (arah longitudinal) dan saluran interseluler radial (arah sejajar jari-jari). Pada bidang lintang, dengan mempergunakan loupe, pada umumnya saluran interseluler aksial terlihat sebagai lubang-lubang yang terletak diantara sel-sel kayu dengan ukuran yang jauh lebih kecil.


e. Saluran getah


adalah saluran yang berada dalam batang kayu, dan bentuknya seperti lensa. Saluran getah ini tidak selalu dijumpai pada setiap jenis kayu, tapi hanya terdapat pada kayu-kayu tertentu, misalnya jelutung (Dyera spp.)



2.2 Jenis Kayu dan Filosofisnya yang Digunakan dalam Pembuatan Rumah Tradisional Bali



Rumah tradisional masyarakat Bali memiliki peranan yang sangat penting di dalam kehidupan. Bagi masyarakat Bali, mendirikan sebuah rumah sangat mementingkan keseimbangan dan keselarasan dengan alam. Dalam pembuatan rumah tradisonal Bali ini, para undagi biasanya akan menggunakan kayu-kayu yang berbeda sesuai dengan tempatnya dalam rumah tersebut. hasil wawancara penulis dengan nara sumber, dapat penulis paparkan bahwa ada beberapa jenis kayu yang penting dalam pembuatan rumah. Adapun jenis kayu tersebut adalah:



1. Kayu yang digunakan untuk Pura (Parhayangan)


Kayu yang digunakan untuk pelinggih atau Parhayangan adalah kayu yang dianggap ”spesial” bagi masyarakat Bali, karena ada makna terpenting yang terkandung kayu tersebut. kayu yang sering digunakan adalah kayu cempaka (Michelia champaca L.), kayu majegau (Dysoxylum caulostachyum Miq.), dan kayu cendana (Santalum album L.). (Klasifikasi terlampir.)


Kayu cempaka (Michelia champaca L.) banyak digunakan dalam pembuatan pelinggih karena kayu ini memiliki aroma yang wangi. Kemudian bunga dari bunga ini biasanya digunakan untuk keperluan upacara keagamaan. Selain itu, kayu cempaka ini merupakan kayu peragan bhatara Siwa. Biasanya yang diguanakan adalah jenis cempaka kuning, dan kayu yang pohonnya yang sudah usianya lebih dari 10 tahun. Menurut klasifikasi kayu menurut masyarakat Bali, kayu cempaka ini termasuk kayu golongan arya, artinya kayu ini biasanya digunakan dalam membuat ”lambang atau ige-ige”.


Kayu cendana juga sangat disakralkan oleh masyarakat Bali, dimana kayu cendana (Santalum album L.) ini digunakan dalam pembuatan pelinggih karena kayu ini menghasilkan aroma yang sangat wangi, sehinngga kayu ini bagus untuk digunakan di tempat-tempat suci. Selain digunakan dalam pembuatan pelinggih, kayu cendana ini juga dapat digunakan dalam pembuatan pratima, dimana kayu ini merupakan peragan dari bhatara Paramasiwa. Dalam klasifikasi kayu menurut orang Bali, kayu cendana ini termasuk golongan kayu prabu, artinya kayu ini biasanya digunakan untuk membuat langit-langit dalam suatu pelinggih.


Jenis kayu yang tidak kalah penting yang diguankan dalam pembuatan pelinggih adalah kayu majegau (Dysoxylum caulostachyum Miq.). Dimana kayu ini banyak digunakan karena kayu ini memiliki aroma yang sangat wangi. Kayu ini digolongkan kedalam jenis kayu Demung. Dimana kayu ini biasanya digunakan untuk membuat sesaka. Kayu majegau ini dalam pembuatan pretima, merupakan peragan dari Sadasiwa.



2. Kayu yang digunakan untuk perumahan (Bale pesarean)


Kedudukan bale pesarean dalam sistem perumahan di Bali lebih rendah dibandingkan dengan kedudukan parhayangan atau pelinggih. Sehingga jenis kayu yang digunakan pun berbeda. Adapun jenis-jenis kayu yang dapat digunakan dalam pembuatan bale pesarean adalah jenis kayu jati (Tectona grandis L.), kayu nangka (Artocarpus integra merr.), sentul, dan lainnya. (Klasifikasi terlampir.)


Kayu jati (Tectona grandis L.) digunakan karena memiliki struktur kayu yang sangat kuat, sehingga kokoh untuk menopang bangunan. Selain itu, kayu jati ini juga terkenal sebagai kayu yang awet, dan tahan terhadap serangan rayap. Kayu jati ini termasuk golongan kayu patih, artinya kayu ini biasanya digunakan dalam pembuatan saka.


Sama halnya dengan kayu jati, kayu nangka (Artocarpus integra merr.) juga banyak digunakan dalam pembuatan bale pesarean, mengingat kayu nangka ini memiliki struktur yang sangat kuat dan tidak terlalu berat seperti kayu jati, sehingga biasanya digunakan dalam membuat langit-langit (kayu prabu). Sama halnya dengan kayu jati dan kayu nangka, kayu sentul juga banyak digunakan dalam pembuatan bale pesarean, mengingat kayu ini memiliki struktur yang kuat dan tahan terhadap serangan rayap. Kayu sentul ini digolongkan kedalam golongan kayu pangalasan.



3. Kayu yang digunakan untuk dapur (Paon)


Dapur (paon) yang merupakan bagian dari suatu perumahan memiliki tempat tersendiri dan juga dalam pembuatannya menggunakan kayu yang berbeda dengan kayu yang digunakan dalam membuat pelinggih maupun bale pesarean. Jenis kayu yang biasanya digunakan adalah jenis kayu wangkal (Abizia procera Roxb.), kayu juwet (Syzygium cumini Linn.), kayu klampuak (Syzygium zollingeriamun (Miq.) Amsh.). (Klasifikasi terlampir.)


Kayu ini dapat digunakan karena kayu ini memiliki struktr kayu yang sangat kuat dan tahan lama. Kayu wangkal digolongkan kedalam kayu prabu, dan digunakan dalam membuat langit-langit atau atap. Kayu klampuak termasuk golongan jenis kayu patih dimana digunakan dalam membuat saka atau tiang penyangga. Dan kayu juwet termasuk kedalam golongan kayu mantri,, dan digunakan dalam membuat lambang atau ige-ige.



Dari semua paparan mengenai jenis kayu yang digunakan dala pembuatan perumahan tradisional Bali, pada umumnya masyarakat Bali memilih kayu berdasarkan wangi dari kayu, kekokohan kayu tersebut, serta faktor agama yang sangat memiliki peranan penting.






2.3 Struktur Anatomi Jenis Kayu yang digunakan dalam Pembuatan Rumah Tradisional Bali



Jenis kayu yang digunakan dalam pembuatan rumah tradisonal Bali ini, apabila dikaji secara atanomi, akan menampilkan karakteristik-karakteristik tertentu yang dimiliki oleh setiap kayu. Kayu jati (Tectona grandis L.) berdasarkan sifatnya termasuk kedalam kayu istimewa. Apabila dikaji berdasarkan struktur anatomi, kayu ini sangat kuat karena kayu ini tersusun atas sel-sel dengan dinding penebalan lignin. Selain itu, memiliki serat yang sangat padat. Kayu ini juga tidak mudah terserang rayap atau hama lainnya karena sel-sel penyusun kayu jati memiliki zat tanin yang berfungsi sebagai bahan pengawet. Selain itu, sel-selnya juga mengandung zat tectonin yang berfungsi sebagai zat racun bagi rayap dan hama lainnya. Kayu jati ini apabila sudah tua akan berwarna coklat muda, apabila telah lama terkena sinar matahari dan terpapar oleh udara, maka warnanya akan berubah menjadi sawo matang.


Jenis kayu jati ini dipandang kuat karena adanya jaringan penyokong atau jaringan penguat pada batang. Yaitu jaringan sklerenkim yang tumbuh dengan baik. Pembuluh kayu jati tersusun dalam lingkaran (cincin). Beberapa pembuluh kayu mengandung tilosis. Adanya perforasi dan memiliki noktah. Kayu ini memiliki serat yang bersekat dengan dinding ada yang tipis dan ada yang mengalami penebalan. Pada serat biasanya dijumpai adanya sedikit silika.


Sama halnya dengan kayu jati, kayu cempaka (Michelia champaca L.) merupakan jenis kayu yang awet. Sebab sel-sel penyusun kayu cempaka ini mengandung zat tanin yang berfungsi sebagai pencegah terhadap kerusakan, pelapukan dan serangan rayap atau hama lainnya. Arah serat kayu cempaka ini lurus dan agak bergelombang. Disamping itu sel-sel pada kayu cempaka ini juga menghasilkan hasil metabolit berupa minyak atsiri yang merupakan minyak yang mudah menguap. Minyak ini biasanya akan menghsalikan aroma yang khas pada kayu cempaka ini, sehingga kayu ini akan beraroma harum. Struktur jaringan kolenkim dan sklerenkim juga mendukung kayu cempaka ini. Kayu ini sangat kuat. Ditijau dari parenkim aksial, ditemukan adanya kristal dan silika yang merupakan produk sisa dari hasil metabolisme.


Kayu cempaka memiliki pembuluh kayu yang tersebar, berbentuk lonjong. Sel-sel penyusun pembuluh xilemnya mengalami penebalan tipe skalariform, dengan adanya noktah antar pembuluhnya. Parenkim aksial berupa parenkim apotrakeal tersebar atau berkelompok yang berada diantara serat. Kayu cempaka memiliki serat yang tidak bersekat, memiliki dinding sel mulai dari yang tipis sampai yang mengalami penebalan.


Kayu cendana (Santalum album L.) termasuk kedalam jenis kayu kelas istimewa. Sebab selain memiliki struktur kayu yang sangat kuat, juga memiliki aroma kayu yang sangat harum. Adanya aroma yang harum ini disebabkan karena sel-sel penyusunya menghasilkan zat-zat ergastik berupa produk sisa yang tidak bernitrogen, yaitu berupa minyak esensial. Minyak esensial (minyak atsiri) merupakan minyak yang mudah menguap, sehingga menghasilkan aroma yang khas.


Kayu cendana ini termasuk kayu yang kuat karena kayu ini memiliki jaringan sklerenkim yang berkembang sangat baik,dengan dinding selnya mengalami penebalan lignin. Kayu ini berwarna coklat dengan tekstur kayu yang agak halus. Arah serat yang lurus atau bergelombang. Memiliki permukaan licin dan agak mengkilap. Kayu cendana memiliki pembuluh kayu yang tersebar dengan adanya perforasi dan adanya noktah. Pada parenkim aksial terdapat adanya silika. Serat sebagian bersekat dengan dinding yang tipis sampai yang tebal.


Kayu nangka (Artocarpus integra merr.) umumnya berwarna kuning dengan tekstur yang agak kasar dengan arah serat yang lurus. Permukaan kayu yang licin dan mengkilap. Kayu nangka memiliki pembuluh kayu yang tersebar, dengan beberapa pembuluh kayu berisi tilosis. Papan xilem mengalami perforasi sederhana dengan adanya saluran noktah. Pada parenkim aksial terdapat adanya silika. Serat sebagian bersekat dengan dinding yang tipis.



Kayu wangkal (Abizia procera Roxb.), kayu juwet (Syzygium cumini Linn.), kayu klampuak (Syzygium zollingeriamun (Miq.) Amsh.) merupakan jenis kayu yang banyak digunakan karena kayu ini memiliki struktur yang sangat kuat. Memiliki trakea dan trakeid dengan penebalan sekunder, memiliki serat yang lurus, serta memiliki aksial parenkim.



Dari semua jenis kayu yang digunakan oleh masyarakat Bali dalam pembuat bangunan, kayu yang digunakan adalah kayu dari pohon kelas dikotil. Hal ini jika dipandang secara anatomi, batang dikotil dapat mengalami pertumbuhan primer maupun pertumbuhan sekunder. Sehingga batang ini memiliki diameter yang besar dan kuat dinding sel penyusunnya mengalami penebalan, baik penebalan primer dengan pektin maupun penebalan sekunder dengan zat lignin. Selain itu pada batang dikotil susunan berkas pengangkutnya teratur dan membentuk lingkaran dengan tipe berkas kolateral terbuka.


Sumber pustaka: (Tidak dicantumkan)




Alit Adi Sanjaya

/alit.adi.sanjaya

Saya adalah seorang mahasiswa yang mengambil jurusan di bidang pendidikan. Kalian bisa mengunjungi blog saya di
http://www.alitadisanjaya.blogspot.com

Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?