Teori Pembelajaran

17 Maret 2014 04:36:47 Dibaca :

Teori belajar dapat merupakan prinsip umum atau gabungan antara prinsip-prinsip yang saling berkaitan antara satu sama lain. Teori belajar merupakan salah satu upaya untuk mendeskripsikan secara jelas bagaimana manusia belajar, dan juga memahami sesuatu sehingga membantu kita semua memahami proses yang kompleks dari belajar. Ada tiga perspektif yang utama dalam teori belajar, yaitu Behaviorisme, Kognitivisme, dan Konstruktivisme.


1. Teori belajar behaviourisme


Pertama kali teori ini dicetuskan oleh Gage dan Berliner yaitu tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman .Teori belajar behavioristik menjelaskan bahwa belajar itu adalah perubahan perilaku yang dapat diamati, diukur dan dinilai secara konkret. Perubahan ini terjadi melalui rangsangan (stimulans) yang menimbulkan tanggapan (respon) berdasarkan hukum-hukum mekanistik. Stimulans/ rangsangan tidak lain adalah lingkungan belajar anak, baik yang internal maupun eksternal yang menjadi penyebab anak belajar. Sedangkan respons/ tanggapan adalah reaksi yang terjadi akibat rangsangan tersebut.



2. Teori belajar Kontruktivisme


Teori Konstruktivisme diartikan sebagai pembelajaran yang bersifat generatif, yaitu upaya untuk menelaah makna dari pelajaran yang telah dipelajari. Jika teori behavioristic menekankan bahwa pada kegiatan belajar terjadi hubungan timbal balik antara stimulus dan stimulus dan respon, sedangkan teori kontruktivisme lebih memahami bahwa belajar sebagai merupakan suatu kegiatan manusia untuk membangun atau menciptakan pengetahuan dengan memberi arti/makna pada pengetahuannya sesuai dengan pengalaman yang telah dialaminya.


Teori konstruktivisme lebih menekankan pada proses daripada hasil, karena dalam proses sangatlah berperan penting yang di dalamnya terdapat cara, metode, teknik dan juga strategi yang digunakan seorang guru untuk mencapai hasil belajar yang baik. Oleh sebab itu sebagai upaya untuk memperoleh pemahaman atau pengetahuan, siswa ”mengkonstruksi” atau membangun pemahamannya sendiri terhadap fenomena/ masalah yang dihadapi dengan menggunakan pengalaman, struktur kognitif, dan keyakinan yang dimiliki oleh siswa.


Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa belajar menurut teori konstruktivisme bukanlah sekadar menghafal, akan tetapi proses yang dilakukan siswa dalam mengkonstruksi pengetahuan melalui pengalamannya. Pengetahuan bukanlah hasil ”pemberian” dari orang lain seperti guru, melainkan dari masalah/fenomena yang ditemui kemudian dikembangkan menurut pengalamannnya sendiri. Pengetahuan yang diperoleh sendiri oleh siswa akan memberi makna yang lebih mendalam karena siswa mengalami, menghadapi dan juga menyeleseikan masalah tersebut dengan bekal pengetahuan dan pengalamannya sendiri.


3. Teori belajar Humanisme


Kajian konsep dasar belajar dalam teori humanisme didasarkan pada sebuah pemikiran bahwa belajar merupakan kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dalam upaya untuk memenuhi kebutuhannya. Dalam proses pembelajaran, kebutuhan-kebutuhan tersebut perlu diperhatikan supaya siswa tidak merasa diabaikan/kecewa, karena hal tersebut dapat menghilangkan motivasi belajar siswa.


Dalam teori humanistic ini, siswa diharapkan dapat memahami potensi yang ada dalam dirinya sendiri, sehingga siswa dapat mengembangkan potensi potensi positif yang ada dalam dirinya, dan meminimalkan potensi negative yang ada dalam dirinya tersebut.


Peran guru dalam teori ini adalah bahwa guru hanya sebagai fasilitator bagi siswanya. Guru mamfasilitasi pengalaman belajar kepada siswa dan mendampingi siswa untuk memperoleh tujuan pembelajaran yang hakiki. Dalam hal ini siswa dituntut untuk berusaha dalam proses belajarnya supaya terbiasa mandiri untuk mencapai aktualisasi diri yang baik.

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?