Metafora Sebagai Refleksi Psiko-Kosmologi Andrea Hirata dalam Novel "Laskar Pelangi"

25 Maret 2012 07:59:51 Dibaca :



A. Metafora Sebagai Sebuah Fenomena


Seorang sastrawan menggunakan bahasa sebagai alat untuk berkomunikasi secara khas dalam puisi. Mereka menyatakan sesuatu dengan caranya sendiri, dengan gayanya sendiri. Dalam kaitannya dengan penggunaan bahasa secara khas ini, Teeuw (1984:70-72) mengemukakan bahwa sastrawan seringkali memakai bahasa yang aneh atau istimewa, yang gelap atau yang menyimpang dari bahasa sehari-hari, yakni bahasa yang oleh masyarakat pemakainya dianggap sebagai bahasa yang normal. Tidak jarang ditemukan beberapa sastrawan mengungkap masalah yang sama, tapi dengan cara berungkap yang berbeda, baik berasal dari angkatan yang sama maupun dari angkatan yang berbeda. Mereka menyampaikan pikiran dan perasaan yang sama dengan gaya yang berbeda.


Kebiasaan cara berungkap yang khas di antara para sastrawan seperti itu, oleh Pradopo ( 2005:93) dikatakan akan melahirkan corak gaya bahasa yang khas pula di antara mereka. Setiap penyair memiliki keunikan sendiri-sendiri dalam menyampaikan pikiran dan perasaannya dengan bahasa dalam karya sastra yang diciptakannya. Mereka memiliki corak dan gayanya sendiri. Kenyataan seperti ini menjadikan gaya bahasa dalam karya sastra, melekat pada diri pengarangnya. Gaya bahasa merupakan jati diri pengarangnya. Dengan mengutip pendapat Middleton Mury, Pradopo mengatakan bahwa gaya bahasa itu merupakan keistimewaan, kekhususan, kekhasan (idiosyncracy) pengarang. Oleh karena itu, selama di dunia ini ada sastrawanr, selama itu pula pembicaraan tentang gaya bahasa dalam kesusastraan merupakan pembicaraan menarik dan tidak ada habisnya.


Gaya bahasa itu mampu memberikan daya ungkap sekaligus daya tarik pada karya sastra melalui lambang yang dipakai dan imaji yang ditimbulkan. Sebagaimana yang disampaikan Sumardjo dan Saini (1986:27), jika diteliti lebih jauh, ternyata daya ungkap gaya bahasa, yang digunakan dalam puisi (juga prosa), seperti simile, metafora dan personifikasi itu datang dari daya ungkap citra (imaji) dan lambang yang dipakai dalam gaya bahasa-gaya bahasa itu. Citra dan lambang mampu memberi gerak dan memberi daya hidup. Citra dan lambang mampu mewakili dan menyampaikan gagasan, perasaan, maupun pengalaman pengarang pada pembaca. Menyadari bahwa kekuatan gaya bahasa seperti itu, para sastrawan tidak menyia-nyiakannya. Mereka banyak menggunakan gaya bahasa dalam karya-karya mereka.


Di antara beberapa jenis gaya bahasa kiasan yang banyak digunakan, metafora merupakan satu jenis gaya bahasa kiasan yang memiliki fenomena tersendiri. Ia tidak hanya dapat memperlihatkan hubunganya dengan institusi-institusi lain yang inheren dalam karya sastra seperti puisi, cerpen, novel, maupun roman, tetapi ia juga memperlihatkan fenomena keterkaitannya dengan segala sesuatu yang ada di luar dunia sastra. Khususnya pada fenomena yang kedua ini, Wahab (2006:71-95) menjelaskan bahwa metafora dapat dipakai melacak hubungannya dengan latar belakang seorang sastrawan, sistem ekologinya (lingkungan hidup), dan sosiokultural masyarakat di mana ia tinggal. Bahkan, sosiokultural suatu masyarakat dapat dipetakan melalui metafora yang dipakai para sastrawan masyarakat itu dalam karyanya.



B. Ruang Persepsi Manusia


Secaradenotatif kata ruang dapat diartikan tempat atau wilayah, kata persepsi dapat diartikan anggapan. Ruang persepsi berarti dapat diartikan wilayah, daerah, tempat, areal, anggapan manusia terhadap kehidupan. Yang menjadi dasar pemikiran peneliti ialah adanya keyakinan tehadap, bahwa penutur bahasa ( dalam hal ini adalah pengarang ), mempunyai pengalaman fisik, pengalaman batin, pengalaman kultural, pengalama pendidikan secara khusus. Artinya pengalaman- pengalaman tersebut, antara pengarang yang satu dengan pengarang yang lain tidak sama. Pengalaman fisik, pengalaman,batin, budaya, pendidikan, sosial, pengarang akan tercitra dalam ungkapan- ungkapan kalimat yang dipakai pada waktu mengarang. Dengan demikian ungkapan pengalaman yang dipakai pengarang mencerminkan kategori medan semantik, dan medang semantik sangat erat dan berpengaruh dengan lambang metaforis yang dipakai sebagai sarana mewakili idenya.


Untuk menggambarkan medan semantik ruang persepsi manusia, para ahli bahasa masih mepercayai sistematika yang diungkapkan oleh Michael C, Haley, seperti apa yang diungkapkan Wahab (dalam Wahab,2006:86) Haley menempatkan satu topografi yang luas tentang kategori semantik sebagai suatu hierarki yang mencerminkan ruang persepsi manusia. Atas dasar itulah hierarki model Haley ini dapat dipakai untuk memetakan hubungan yang sistematis antara lambang yang dipakai dalam metafora dan makna yang dimaksudkan. Model hierarki yang diusulkan oleh Haley itu secara berurutan dilukiskan sebagai berikut; 1) human, 2) animate, 3) living, 4) object, 5) terrestrial, 6) substantial, 7) energy, 8) cosmic, dan 9) being


Sebagaimana disarankan Haley, setiap kategori harus dihayati sebagai sub-kategori yang ada di atasnya. Ini berarti kategori HUMAN merupakan sub-kategori ANIMATE, ANIMATE merupakan sub-kategori LIVING, begitu seterusnya samapai pada kategori yang teratas, yaitu BEING.


Hierarkhi persepsi manusia terhadap ruang dimulai dari tingkatan yang paling bawah, yaitu kehidupan atau tingkatan manusia itu sendiri. Hal itu karena manusia dan segala macam tingkah polahnya merupakan tingkatan terdekat dalam kehidupannya.Sebagai contoh dlama metafora tersebut.


(1) Mata Bu Mus berkilauan karena air mata yang menggenang.


( Hirata, Laskar Pelangi 6.19 )


Kalimat di atas merupakan kalimat metaforis dengan nomina mata Bu Mus,konsep mata, adalah indera yang dimiliki oleh manusia, sedangkan Bu Mus adalah sebutan atau prtedikat ataupaun julukan yang diberikan kepada seseorang. Namun konsep-konsep tersebut terkategori dalam ruang lingkup persepsi kehidupan manusia itu sendiri. Tingkatan ini terkategori tingkat HUMAN.Adapun satu tingkatan di atas HUMAN adalah ANIMATE (makhluk bernyawa ) menurut Haley (dalam Wahab, 2006:77) manusia hanyalah satu bagian saja dari makhluk bernyawa.Sebaliknya tidak semua makhluk bernyawa dapat dimasukkan ke dalam kategori HUMAN. Hewan, misalnya, adalah makhluk bernyawa, tetapi hewan bukanlah manusia. Perhatikan contoh berikut.


(1) Pikiran ayahku melayang-layang ke pasar pagi atau ke keramba di tepian laut.


( Hirata, Laskar Pelangi 3.12 )


Kata melayang-layang menunjuk pada predikasi binatang yang dapat terbang seperti burung. Burung terkategori ke dalam persepsi makhluk bernyawa tetapi dia bukan manusia, melainkan hewan. Dalam hal ini burung termasuk dalam ruang persepsi kategori ANIMATE. Selanjutnya , kategori di atas ANIMATE atau makhluk bernyawa adalah LIVING. Menurut Wahab ( dalam Wahab,2006:77) yang termasuk di sini adallah alam tetumbuhan, sebab tetumbuhan adalah hidup. Tetapi tidak semua yang hidup itu adalah tetumbuhan. Perhatikan contoh berikut.


(1) Laki-laki cemara angin itu berlari pontang-panting sederas pelanduk.


(Hirata, Laskar Pelangi 96.3)


Frase cemara angin, menunjuk pada konsep tetumbuhan, yaitu pohon cemara yang tinggi dan meliuk-liuk saat terterpa angin. Hal ini untuk menggambarkan sekaligus sebagai bandingan yang menjelaskan kepada kata laki-laki.


Setingkat di atas LIVING adalah OBJECT, menurut Wahab ( dalam Wahab, 2006:80) predikasi yang cocok untuk OBJECT ini ialah sifatnya yang dapat pecah atau benda-benda padat.Perhatikan contoh berikut.


(1) Mataku fiberglas.



Bagai mainan bikinan Jepang

Aku bejalan sempoyongan.


( YA Nugraha, dalam Tonggak 4:200)



(2) Seruling dan gitar saling menggertak, menghardik dan


Membentak galak.


(Hirata, Laskar Pelangi 151.16)


Fiberglas, seruling, gitar adalah OBJECT atau benda, yang meskipun kuat, dapat saja pecah. Fiberglas, adalah benda yang kusam, tidak transparan seperti kaca bening. Pengarang menggunakan kata ini untuk mewakili pandangannya yang tidak bening terhadap dunia ini. Sedangkan kata seruling, gitar adalah untuk mewakili perasaan pengarang yang ingin mengunngkapakan suaranya, kata-katanya, yang merasa tertahan, sehingga diungkapkan dengan pernyataan saling menggertak..


Ruang persepsi manusia yang ada setingkat di atas OBJECT adalah TERRESTRIAL. Menurut Wahab ( Wahab, 2006:80) yaitu hamparan yang terikat oleh bumi seperti misalnya, samodra, sungai, gunung, padang pasir, dan lain-lain. Perhatikan contoh metafora pada kutipan berikut.


(1) Masuk ruang kegelapan dan gelas aku tambahkan


Mengarungi karang-karang kehidupan.


(Sapardi Djoko Damono 1987. Horison XXI/234)


Dalam metafora ini dapat tergambar bagaimana sulitnya kehidupan itu dilambangkan bagaikan hamparan terrestrial, yaitu karang-karang. Makna karang-karang diasosiasikan dengan kesulitan hidup, kekejaman kehidupan, kekerasan hidup itu dapat dimengerti, sebab predikasi yang cocok untuk karangg adalah: keras, tajam, sulit dipegang erat-erat sebab dapat melukai tangan.


(2) Jalan raya di kampung ini panas menggelegak dan ingar-bingar oleh


Suara logam yang saling beradu.


(Andrea Hirata, 2008. Laskar Pelangi/51)


Pada kalimat metaforis ini Andrea Hirata menggambarkan terrestrial dengan menggunakan konsep jalan. Jalan adalah sesuatu yang terhampar dan terikat oleh bumi, selain itu untuk mengungkapkan sesuatau yang lebih yaitu panas, pengarang memakai kata menggelegak. Pernyataan itu memunculkan asosiasi bahwa jalan itu panas sekali.


Kategori berikutnya adalah SUBSTANSIAL. Menurut Wahab ( Wahab,2006:80) predikasi yang sesuai untuk kategori ini ialah, di samping ada, membutuhkan ruang, dan bergerak, ia juga mempunyai sifat lembam. Contoh metafora dengan lambang di kias yang diambil dari SUBSTASIAL dapat dibaca pada kutipan berikut.


(1) Sekumpulan puisi


Mencair diri


( TM. Lubis, dalam Tonggak 4:18)


Pada kutipan di atas, puisi dihayati sebagai benda substansi yang bisa berubah bentuk fisiknya, yaitu cair


(2) Tatapan mata kharismatik menyejukkan sekaligus menguatkan hati.


( Hirata, dalam Laskar pelangi 210.11)


Pada kutipan di atas kata menyejukkan dikategorikan ke dalam substansi karena sifatnya yang lembam. Kata menyejukkan juga memberi penjelasan pada frase tatapan mata.


Selanjutnya, kategori persepsi manusia di atas SUBSTANSIAL adalah ENERGY menurut Wahab ( dalam Wahab, 2006:79) dikatakan, predikasi khusus yang dipakai oleh kategori ini ialah bahwa ia tidak saja ada dan menempati ruang, melainkan juga adanya perilaku gerak, seperti angin, cahaya, api. Contoh penggunaan


dalam metafora dapat terlihat seperti berikut.


(1) Angin lama tak singgah.


(Slamet Sukirnanto, 1983. horison XXI/235)


Angin adalah bentuk sumber energi. Angin sebagai lambang kias tidak mempunyai sifat universal. Dalam budaya manusia antara wilayah satu dengan yang lain belum tentu memiliki kesamaan. Orang Arab dan Yahudi angin dikaitkan dengan kata ruh, yang berarti nafas. Bagi budaya Indonesia angin memmiliki kesan positif, angin dikaitkan dengan pembawa pesan.Sehiungga angin memiliki kesan konotasi positif, sebab angin berfungsi sebagai pengantar sari kepada putik dalam proses pembuahan. Dengan demikian, metafora seperti tertulis pada data di atas, berarti pembawa pesan tak singgah.


(2) Suara Pak Harfan bergemuruh.


(Hirata, Laskar Pelangi 222.23)


Bergemuruh, adalah suara petir yang biasanya didahului dengan adanya kilatan api yang mennyambar, sedangkan api sebagai lambang metafora mempunyai makna yang universal. Menurut Cirlot (1962:105) dalam budaya Mesir, Cina dan Yunani, juga bagi budaya Indonesia, api dikaitkan dengan konsep kehidupan, kesehatan, kekuasaan dan tenaga spiritual. Dalam metafora seperti yang terdapat pada kutipan di atas, makna yang yang dimaksudkan tidak jauh dari konsep universal dalam beberapa kebudayaan yang disebut di atas.


Hierarkhi setingkat di atas ENERGY adalah COSMOS. Menurut Wahab ( dalam Wahab, 2006:78) tidak hanya ada, melainkan menempati ruang di jagat raya, dapat diamati oleh indra mata, dan di sana karena jauhnya. Nomina yang terkategori COSMOS seperti matahari, bumi, bulan, bintang, dan benda-benda angkasa yang lain


Contoh mmetafora yang lambang kiasnya mengambil dari kategori COSMOS ini dapat dibaca pada kutipan berikut.


(1) Matilah kau bulan


Telah mampus bumi,


Mentari pun kewalahan.


(T.Mulia Lubis, dalam Tonggak 4:16)


Bulan, bumi, dan matahari adalah benda-benda cosmos. Dalam kutipan di atas, benda-benda itu tidak dipakai dalam arti yang sebenarnya. Simbulisme tentang bulan sangat bervariasi antara budaya yang satu dengan budaya yanng lain. Ada yang mengasosiasikan bulan dengan perempuan, karena antara perempuan dan bulan ada persamaan, yaitu masing-masing sangat terikat oleh siklus. Namun demikian, dik Indonesia bulan diasosiasikan dengan keindahan. Di lain pihak, bumi,menurut Cirlot (1962:93) dihubungkan dengan tempat tumbuhnya kebudayaan atau kebudayaan itu sendiri. Semenntara itu, matahari karena sifatnya universal, mmelambangkan semangat atau sumber kehidupan.Dengan demikian, benda-benda angkasa di atas dipakai oleh pengarang untuk menyatakan pandangan yang pesimis, yaitu tiadanya keindahan ( dengan lambang bulan), tak berdayanya kebudayaan ( dengan lambang bumi), dan hilangnya semangat hidup( dengan lambang matahari).


(3) Ia bintang petunjuk bagi pelaut di samudra.


. ( Hirata, Laskar Pelangi 431.16)


Bintang adalah benda angkasa yang terkategori ke dalam cosmos, keberadaannya diasosiasikan sebagai pembawa cahaya terang, sekaligus diasosiasikan sebagai penerang bagi orang yang sedang kegelapan, bintang juga dipakai sebagai pedoman. Dalam budaya Indonesia, utamanya masyarakat Jawa percaya bahwa bintang merupakan petunjuk sekaligus pertanda, kapan seseorang melakukan kegiatan, seperti menanam padi, mencari ikan, bahkan bintang dipakai sebagai pedoman atau tanda- tanda dari sebuah jaman.Dalam metafora di atas bintang diasosiasikan sebagai pedoman, atau sesuatu yang diyakini kebenarannya.


Hierarkhi yang paling atas dalam ruang persepsi manusia adalah BEING atau KE-ADA-AN. Menurut Wahab (dalam Wahab, 2006:77) adalah untuk mewakili semua konsep abstrak yang tidak dapat dihayati dengan indra manusia.Yang terkategori semantik BEING itu mencakup semua konsep atau pengalaman manusia yang abstrak. Ciri khas kategori ini ialah predikasinya ada, walaupun tak dapat dihayati langsung oleh indra manusia, seperti pada konsep kebenaran, cinta, kasih, kegelapan, kebahagiaan dan masih banyak konsep ke-ada-an yang lain. Perhatikan contoh berikut.


(!) Senja pun tiba


suatu kurun yang tak perlu kutanya.


(Bambang Darto, dalam Tonggak 4:33)


Senja adalah konsep abstrak untuk menandai tenggelamnya matahari, tetapi konsep itu ada.Dalam kalimat metaforis ini, senja adealah kias untuk konsep usia lanjut manusia. Konsep senja yang dipakai sebagai lambang kias untuk konsep usia lanjut merupakan wujud interaksi antara manusia dengan BEING.


(2) Hidup adalah jembatan papan lurus yang harus diteliti.


(Hirata, Laskar Pelangi 68.26)


Hidup merupakan konsep absrak pula, tetapi hidup itu ada dan diyakini keberadaannya walaupun konsep hidup itu tidak kasat mata. Dalam kailimat metaforis ini, konsep hidup adalah gambaran keberadaan manusia di dunia. Lebih lanjut kata hidup diikuti dengan frase jembatan papan lurus, hal ini dapat diasosiasikan bahwa, di dalam menjalani keberadaannya, manusia harus melewati atau menjalani keberaannya yang mau tidak mau harus mereka alami, sesuai dengan kodrat yang diciptakan Tuhan. Pernyataan kata hidup merupakan gambaran ruang persepsi kehiudupan manusia yang berada pada tingkat BEING.


Demikian hierarkhi persepsi manusia terhadap ruang kehidupan, yang


Dimulai dari kehidupan manusia itu sendiri, karena manusia dengan segala macam


tingkah lakunya merupakan lingkungan paling dekat. Selanjutnya hierarkhi itu berurutan ke jenjang ruang persepsi yang semakin tinggi tingkatannya. Yaitu diawali dengan human, animate, living, object, terrestrial, substansial, energy, cosmos, dan being.



DAFTAR PUSTAKA



Fowler, Roger. 1977. Linguistics and The Novel. London : methuen and Co. Ltd.



Hudson, William Henry. 1965. An Introduction to the Study of Literature. London : George G. Harrap & Co, Ltd.



Leech, Geaffrey and Michael Short. 1984. Style in Fiction. London : Long Man.



Luxemburg. 1984 Pengantar Ilmu sastra. ( Terjemahkan Dick Hartoko) Jakarta : Gramedia.



Nurgiyantoro, Burhan. 1993. “ Stile dan Statiska”, Diksi, No. 1, Th. I, hlm.1-9.



Pradopo, Rachmad Djoko. 1999. Pengkajian Puisi. Yogyakarta : Gajah Mada.



Rokhman, Muh. Arif.2003. Sastra Interdisipliner. Yogyakarta : Qalam.



Sumarjo, Jacob. 1986. Apresiasi Kesustraan. Jakarta : Gramedia.



Teeuw, A. 2003. Sastera dan Ilmu Sastera.Jakarta : Gramedia.



Wahab, Abdul. 1991. Isu Linguistik. Surabaya : Airlangga University Press.



---------. 1998. Butir-butir Lingustik. Surabaya : Airlangga University Press.



Waluyo, herman J. 1987. Teori Dan Apresiasi Puisi. Jakarta : Erlangga



Wellek, Rene dan Austin Warren. 1956. Theory of Literature. New York : A Harvest Book.


.








Akip Effendy

/akipeffendy

Praktisi dan Pemerhati Kebijakan Bidang Pendidikan
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?