Akhmad Mukhlis
Akhmad Mukhlis profesional

4ic meng-Indonesia

Selanjutnya

Tutup

Humaniora headline

Saatnya Mengejakan PR, Saatnya Orang Tua Mengomel di Malam Hari

14 Agustus 2017   09:40 Diperbarui: 14 Agustus 2017   20:38 613 6 0
Saatnya Mengejakan PR, Saatnya Orang Tua Mengomel di Malam Hari
Ilustrasi dari http://neatoday.org

Setelah beberapa menit mendengarkan cerita mbak (kakak perempuan) tentang bullying psikologis yang dilakukan guru kelas kepada anaknya di telpon, saya tidak lagi mampu menahan marah. Suara saya mulai meninggi, bergetar dan cara berpikir waktu itu juga mulai tidak terkontrol. Untungnya saya sedang berada jauh dari rumah mbak, enggak tahu bagaimana kalau saya berada di lokasi. Terkadang menghadapi situasi frustrasi memang lebih baik tidak berada di lokasi secara langsung.

Ceritanya begini, keponakan saya mogok tidak mau sekolah beberapa hari. Padahal waktu itu ujian nasional tinggal beberapa minggu lagi. Usut punya usut, ternyata dia dirundung terus-menerus selama berhari-hari oleh guru kelasnya sendiri karena tidak mengikuti jam tambahan belajar (les) di rumah gurunya waktu sore hari. Dia dituduh secara membabi buta oleh gurunya, kelayapan lah, keluyuran lah, pacaran lah dan lainnya. Padahal orang tuanya memprioritaskan dia untuk sekolah diniyah (sekolah agama islam sore hari). Bahkan --yang paling membuat saya naik pitam, perundungan dilakukan menggunakan sarana doa dan diamini oleh teman sekelasnya. "Kita doakan yang tidak ikut les dan keluyuran nanti kena musibah hamil di luar nikah". Itulah kalimat yang diucapkan keponakan saya saat saya menelponnya. Hanya gara-gara dia tidak ikut sesi les (di rumah guru kelasnya) karena dia harus sekolah diniyah. Gila!

Akhir cerita, saya melakukan advokasi via telpon kepada kepala sekolah dan masalah diselesaikan. Meskipun sampai sekarang guru kelasnya tidak pernah meminta maaf secara langsung. Tulisan ini tidak sedang menyoroti kasus bulliying tersebut --karena sudah terjadi beberapaa tahun yang lalu, tapi saya ingin melihat fenomena jam les dan juga pemberian pekerjaan rumah (PR) kepada anak-anak sekolah dasar.

Fenomena Les di Sekolah Dasar
Di daerah asal saya, Rembang Jawa Tengah (yang sekarang lebih terkenal karena heroiknya Yu Patmi) sangat sulit untuk menemukan sekolah dasar (terutama negeri) yang guru-gurunya tidak memberikan les di sore hari. Terutama untuk pelajar kelas 5 dan 6. Dulu, saya juga termasuk salah satu "korban" kegiatan tersebut. Masih kuat dalam ingatan, sering saya bertengkar mulut dengan Emak (ya Allah muliakanlah beliau) gara-gara saya tidak bisa membantu beliau di sore hari. Kemudian hari setelah dewasa saya tahu beliau marah bukan karena les, melainkan karena hal tersebut saya tidak dapat memperdalam ilmu agama di sekolah diniyah.

Fenomena les --atau jam pelajaran tambahan yang dilakukan di luar jam sekolah, di perkotaan dengan di daerah memang sedikit berbeda. Kontur sosiokultural antara masyarakat perkotaan dan daerah (pedesaan) memang berbeda. Jika di masyarakat kota --yang merupakan sebutan untuk masyarakat industri, les justru seolah menjadi kebutuhan, tren dan gaya hidup, sementara pada masyarakat perdesaan les acapkali dianggap mengganggu oleh sebagian keluarga. Masyarakat kota memang memiliki waktu bekerja yang lebih lama (antara pukul 7-8 pagi sampai jam 4 sore bahkan sampai jam 8 malam), jadi menjadi sebuah hal yang dianggap wajar jika mereka menginginkan jadwal sekolah anak-anak mereka lebih panjang. Lagian, kalau anak-anak mereka pulang cepat juga mau ketemu siapa.

Bandingkan dengan masyarakat perdesaan (perkampungan/daerah) yang jenis pekerjaan dan jam kerjanya sangat bervariasi. Kohesivitas antar tetangga masih sangat kuat, sehingga mereka tidak terlalu khawatir anak mereka pulang lebih cepat dan bermain di kampung. Alasan utama orang-orang desa tidak terlalu memikirkan les-lesan adalah karena mereka terkadang juga membutuhkan anak-anak mereka untuk membantu pekerjaan-pekerjaan mereka, mulai pekerjaan rumah sampai pekerjaan lainnya.

Yang menjadi pertanyaan saya adalah mengapa les itu dilakukan oleh guru-guru di daerah? Seingat saya dan juga menurut testimoni teman-teman, les hanyalah pengulangan materi yang ada di sekolah. Bahkan untuk beberapa kasus (seperti kasus keponakan saya di atas), les diadakan justru untuk menjadi pembelajaran utama. (Hanya) dari les tersebut anak-anak akan mendapatkan tips dan trik mengerjakan pelajaran dengan baik dan cepat. Lebih aneh lagi, di akhir sesinya lesmemberikan pekerjaan rumah (PR) yang dikoreksi keesokan harinya di kelas. Jadi, intinya les secara terselubung menjadi kegiatan utama pembelajaran. Anak-anak yang tidak ikut les otomatis tidak mendapatkan PR dan tidak bisa mengerjakannya. Berbagai jenis sanksi otomatis menunggu mereka yang tidak mengikuti sesi les.

Terlepas apakah les jenis ini berbayar atau tidak, bagi saya hal tersebut telah merenggut banyak hak anak-anak dan hak orang tua mereka. Pertanyaan lanjutannya adalah: apa fungsi pembelajaran di jam resmi sekolah?

PR, The Nightly Nagging
Apakah kalimat yang paling menakutkan bagi sebagian kita semasa SD sesaat setelah bel tanda masuk kelas berbunyi? Saya masih ingat betul, dulu saya sering takut jika guru menanyakan PR. Sepertinya sampai hari ini tidak banyak yang berubah dari hal tersebut. PR merupakan kata-kata menakutkan yang kerap membuyarkan keceriaan pagi anak-anak sekolah.

Pekerjaan rumah (homework) adalah anak peradaban sistem sekolah kita. Para ahli pendidikan di barat menyebutnya dengan kelakar the nightly nagging atau omelan omong kosong di malam hari. Sebutan yang muncul karena hampir kebanyakan orang tua (terutama ibu) larut dalam PR anaknya dan melancarkan omelannya di setiap malam. Sedari kecil sampai sekarang, saya masih bingung dengan apa yang diharapkan oleh guru dengan memberikan PR kepadaa anak-anak kecil sewaktu SD. Kalau jawabannya ingin menambah jam belajar anak, saya rasa istilah the nightly nagging sudah menjadi jawabannya. Tapi kalau ingin menanamkan sifat pembelajar (learners) pada anak-anak, mari kita urai.

Melihat Hasil Penelitian
Melalui studi meta-analisis pada tahun 2006, seorang Profesor Psikologi di Duke, Harris Cooper dibantu dua rekannya menemukan PR di sekolah dasar (di Amerika kelas 5) tidak berkontribusi terhadap prestasi akademik. Penelitian yang menganalisis data pendidikan mulai tahun 1983 sampai 2003 tersebut juga menekankan bahwa PR untuk anak SD bukan saja berimbas pada pelajar, melainkan juga berimbas padaa orang tua/pengasuhnya di rumah. Sebagai bentuk satire dari hasil penelitiannya, Cooper memberikan kabar baik PR bagi pelajar yang telah memasuki tahap sekolah menengah --baik menengah pertama ataupun atas, bahwa mereka dapat menyadari dan merasakan betapa pekerjaan rumah sewaktu mereka anak-anak tidak terlalu bermanfaat.

Sumber ilustrasi: shutterstock
Sumber ilustrasi: shutterstock

Situs Timeforkids.com banyak merilis hasil-hasil penelitian yang menyatakan bahwa kebanyakan PR diselesaikan bukan oleh anak, melainkan orang tua mereka. Beberapa artikel dalam situs tersebut dengan pedas mengkritik keberadaan PR yang dinilai menambah stres (bahkan depresi) anak-anak pada usia mereka yang masih sangat belia. Mereka menolak asumsi jika PR akan meningkatkan sikap disiplin anak, membantu masalah ujian nasional dan keterlibatan positif orangtua.

Berbeda dengan penelitian di atas, Robert M. Pressman dan dua rekannya melalui buku yang berjudul The Learning Habit: A Groundbreaking Approach to Homework and Parenting That Helps Our Children Succeed in School and in Life menjelaskan bahwa yang menjadi masalah dalam PR bukan hanya konten/isi PR-nya, melainkan juga cara dan metode orang tua/pengasuh saat mendampingi anaknya mengerjakan PR. Masalah terbesar PR pada keluarga adalah karena kebanyaakan orangtua menggunakan metode sesuai dengan pengalaman mereka (dulu) saat mendampingi anak mereka belajar. Buku tersebut juga menggarisbawahi seharusnya orangtua merubah paradigmanya, pendampingan belajar bukan saja untuk keberhasilan anak di sekolah, tetapi mengembangkan kebiasaan belajar yang dibutuhkan anak untuk berkembang sepanjang hidup mereka.

Terdapat benang merah dari berbagai penelitian yang dilakukan terkait PR untuk anak SD. Bahwa PR tidak musti harus dihapus, melainkan diganti pendekatan dan metodenya. Artinya para ahli bersepakat bahwa pembiasaan belajar perlu untuk anak usia SD.

Menanggapi berbagai hasil penelitian, di Florida Amerika Seikat hari ini sedang booming tentang kebijakan penghapusan pekerjaan rumah bagi anak-anak SD. Sebagai gantinya The Washington Post mewartakan bahwa pemerintah Florida menerapkan pendekatan baru, yaitu dengan menugaskan anak-anak membaca selama 20 menit setiap malam (The Washington Post, 17 Juli 2017). Tujuannya adalah menjadikan waktu selepas sekolah menjadi waktu kreatif bagi pelajar, karena mereka dibebaskan untuk membaca apapun. Selain itu, kebijakan tersebut juga membidik peningkatan kualitas hubungan keluarga (anak--orangtua) dengan pendampingan pemilihan bahan bacaan dan lain sebagainya.

Mengembalikan Fungsi Kelas 
Inti kebijakan penghapusan PR di Florida adalah untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat kepada sekolah, guru dan kurikulumnya. Mereka ingin mengembalikan efektifitas waktu belajar di sekolah sekaligus mengaktifkan waktu keluarga (masyarakat) di luar sekolah. Kebijakan tersebut juga mendorong terciptanya ruang-ruang kreativitas bagi anak di luar sekolah. Seperti bermain dengan teman sebaya, menciptakan karya (mainan) dan juga menjalin hubungan sosial positif dengan lingkungannya. Meskipun keputusan tersebut memantik kontrovesi, namun bagimanapun juga tetap patut diapresiasi.

Jika di Amerika masalah PR diselesaikan dengan kebijakan, maka saya juga menunggu masalah ini didekati dan disentuh secara lebih komprehensif di Indonesia. Saya tidak menafikan sama sekali manfaat dari PR bagi pelajar. Namun kita harus melihat dalam berbagai perspektifnya, mulai tahapan pendidikan, metode, konten sampai pada durasi waktunya. Saya juga teringat usulan bupati Purwakarta Dedi Mulyadi yang melarang PR akademik dengan Surat Edaran No 421.7/2014/Disdikpora.

Sudah saatnya kita mengurangi beban anak-anak kita dengan lebih mengutamakan kepentingan perkembangan masa depan mereka. Momen 17-an patut kita dedikasikan untuk memerdekakan anak SD dari tugas tambahan akademik yang secara ilmiah tidak memberikan dampak baik untuk perkembangannya. Kembalikan mereka kepada habitat perkembangannya. Ingat, selain sekolah mereka juga memiliki orangtua, teman sebaya dan masyarakat. Bukankah punggung anak-anak kita sudah terlalu capek dengan isi tas besar mereka saat mereka pergi ke sekolah? Merdeka!


Tulisan ini adalah versi lengkap dari tulisan dengan judul "Anak Merdeka tanpa Les dan PR di Sekolah" yang diterbitkan Radar Malang pada Minggu, 14 Agustus 2017