Pelajaran Kemanusiaan dari Sesosok Puan Maharani di Bitung

17 Februari 2017 17:10:48 Diperbarui: 17 Februari 2017 18:03:01 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :
Pelajaran Kemanusiaan dari Sesosok Puan Maharani di Bitung
Dok.pribadi

Siang itu, seharusnya Puan Maharani kembali ke Jakarta setelah melakukan kunjungan kerja, namun ketika mendengar terjadinya banjir bandang yang melanda Bitung, ia memutuskan untuk menundanya. Banjir bandang ini terjadi setelah Kota Bitung diguyur hujan selama delapan jam (sejak minggu dini hari). Tak hanya banjir, longsor pun tak bisa dihindari karena kontur tanah menjadi rapuh.

Menurut data terakhir Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulut, banjir bandang telah menerjang empat kecamatan yaitu tujuh kelurahan di Kec Aertembaga; dua kelurahan di Kec Maesa; dua kelurahan di Kec Lembeh Utara; dan empat kelurahan di Lembeh Selatan. Banjir bandang tersebut telah menghancurkan 1132 rumah, sementara longsor telah “menenggelamkan” sebanyak 30 rumah. Tercatat, sebanyak 4622 jiwa kini mengungsi. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini hanya dua korban luka berat.

Puan hadir mengunjungi para korban dan pengungsi yang tidak hanya mengalami kerugian fisik, tapi juga penderitaan psikologis. Bukan hanya soal materi yang hilang, tapi juga soal jiwa yang terguncang. Bagi anak-anak, bisa jadi itu merupakan sebuah trauma yang luar biasa. Sehingga dalam posisi itu, Puan menghadirkan negara untuk secara langsung menjumpai warga yang menjadi korban.

Dengan cekatan, menggunakan baju khas bermotif batik warna campuran orange dan kemerah-merahan, Puan bertemu langsung dengan masyarakat melewati jalan-jalan sisa banjir yang masih mengalir cukup deras dengan menggunakan sepatu boots warna putih selutut. Berbicara secara langsung dengan warga yang menjadi korban, memberikan semangat, termasuk komunikasi dengan anak-anak. Harapan besarnya, tentu agar para korban tetap diberi kesabaran dan kekuatan sehingga muncul kemudian resiliensi hidup yang kuat.

Puan juga memberikan “buah tangan” kepada korban, dalam posisinya sebagai Menteri tentunya, yaitu bantuan berupa kasur (500), selimut (1000 L), alkon (10 unit), genset (10 unit), tong air (10), karung (1000 L), tikar (100), cangkul (15), sekop pasir (15), beras dan ikan kaleng (1 ton), dan dana segar untuk BPBD (Rp200 juta). Bantuan itu mungkin saja belum cukup, tapi pemerintah akan tetap mengupayakan menambah bantuan lainnya, kata Puan.

Di tengah cuaca yang agak mendung, semendung hati para korban yang bingung, Puan berusaha menjadi sosok yang ingin menguatkan dan memastikan kepada mereka, bahwa semuanya akan berlalu. Dengan cara bicara yang halus, itu sangat ampuh terutama bagi anak-anak yang menginginkan komunikasi ala “keibuan”. Kedatangan Puan yang ditemani oleh pemerintah provinsi dan pemerintah kota, diharapkan menjadi contoh bagaimana semua pihak untuk secara cepat dan tanggap hadir langsung ke lokasi para korban ketika ada sebuah bencana.

Terlebih untuk Puan, darinya kita bisa melihat sosok yang apa adanya. Ia rela menunda kepulangannya ke Jakarta karena ada kepentingan yang lebih mendesak, terutama berkaitan dengan masyarakat banyak yang terdampak bencana. Bisa saja Puan telpon sana-telpon sini, apalagi melihat posisinya sebagai Menteri Koordinator, lalu berangkat ke Jakarta untuk “ngantor” dan menyelesaikan “formalitas” lain di balik meja. Tapi, Puan lebih memilih untuk berjumpa secara langsung dengan para korban karena hanya dengan itu, ia bisa tahu apa yang dirasakan secara langsung (bukan melalui laporan) dan pada saat yang bersamaan bisa memetakan apa yang harus dikerjakan dan bantuan apa yang bisa diberikan.

Cara seperti itu adalah cara cerdas, dan memang begitulah harusnya seorang pemimpin. Ia harus memutuskan berdasarkan realitas di lapangan. Puan mengajarkan kepada kita semua, bahwa tugas memimpin itu bukan dilakukan dari menara gading, tapi ia harus hadir bersama rakyat dan mendahulukan kepentingan umum untuk kepentingan pribadi, kelompok, dan golongannya. Itulah Puan Maharani.

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana